Perkawinan, Pernikahan dan Kehendak Pribadi.


Lagi-lagi Perkawinan adalah topik yang menarik untuk dibahas bagi siapapun. Tidak pandang bulu, bulu keriting atau lurus, yang panjang atau yang pendek, hahaha… siapapun tahu makna Perkawinan.

Siang ini, seorang pria bertanya pada saya, mengapa belum juga menikah? Wow, Pria di ujung sana, adalah Pria yang baru saya kenal dalam dunia maya. Pria yang saya kenal hanya dalam hitungan hari. Pria yang kedekatannya hanya berdasarkan obrolan ringan semata. Tetapi obrolan ringan tiba-tiba menjadi berat, saat topik pembicaraan kami adalah perkawinan.

Jika kata Perkawinan yang digunakan, kalimat terdengar menjadi lebih konyol. Dianggapnya, Perkawinan adalah proses pertemuan antara si Jantan dan si Betina, yang bisa terjadi juga pada Hewan dan atau tumbuhan. Tumbuhan, saya tidak yakin. Baiklah, saya menggunakan kata Pernikahan, atau menikah.

Apa alasan seseorang untuk menikah? Apakah hanya sebuah komitmen semata antara Pria dan Wanita? Apakah untuk mendapatkan seorang anak? Apakah sebuah ritual ibadah yang wajib sebagai bentuk perilaku beragama? Apakah menikah sebagai status sosial yang patut dihargai dalam masyarakat? Apakah norma masyarakat membatasi perlakuan terhadap seseorang yang sudah menikah atau belum atau tidak menikah sama sekali?

Tidak mudah memang menjawab, mengapa belum menikah? Menikah juga bukan pilihan yang sulit atau mudah. Menikah adalah sebuah pilihan yang bertanggungjawab terhadap diri sendiri, orang lain (baca: pasangan kita) dan Tuhan. Menikah adalah kehendak pribadi, bukan orang lain. Bukan jamannya lagi, Model menikah ala Siti Nurbaya. Menikah ya Menikah. Setiap orang berhak menentukan pilihan kapan waktu terbaik untuk menikah.

Menikah adalah kehendak bebas. Tidak dipaksakan. Tidak ditanyakan.

Sayangnya, banyak orang menganggap menikah adalah sesuatu yang biasa terjadi. Padahal belum tentu demikian. Ada banyak alasan, orang menunda untuk menikah. Ada banyak alasan juga yang menyebabkan seseorang untuk tidak menikah. Dan, banyak pula alasan yang mendorong seseorang untuk menikah.

Apapun alasan terbaik seseorang untuk menikah, jawabannya terletak pada kehendak pribadi. Jika pilihan menikah adalah sebuah komtimen maka ukuran dari sebuah komitmen untuk menikah tidak selamanya obyektif. Sebuah pilihan untuk menikah adalah proses yang memaknai tanggungjawab pilihan tersebut. Akhirnya, pilihan adalah kehendak pribadi, yang tidak diketahui kapan saat terbaik itu datang.

Nov/26/2009

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s