Bersyukur


Aku tiba di kantor satu jam lebih pagi. Aku sengaja untuk bangun pagi-pagi agar tidak terjebak oleh kemacetan jalan meskipun tubuhku tidak mau berkompromi lagi. Maklum aku baru saja menikmati acara liburan bersama teman-teman semasa kuliah dulu. Biasanya di hari senin, lalu lintas jalan cukup padat.

 

Satpam membuka pintu dan menyambut dengan ramah kehadiran aku. Aku pun membalasnya dengan senyum sumringah. Semangat pagi, begitulah yang aku rasakan. Aku langsung menuju ruang kerja dan meletakkan segala barang milikku di meja. Aku mendesah panjang dan bersyukur sudah sampai lebih awal. Aku pun berpikir akan memanfaatkan waktu ini untuk sarapan pagi dan mencek email-email yang masuk. ‘Wah pasti sudah banyak nih inboxnya!’ seruku.

 

Ketika akan membuka laptop, Lila temanku masuk dan menghampiriku. Penampilannya saat ini pasti sedang bertemakan warna hijau. Aku meliriknya dan memperhatikan dari ujung rambut hingga ujung kaki, semuanya bernuansa hijau. Lila adalah teman kerja yang seruangan denganku. Ia mengambil kaca kecil seukuran kepalan tangan lalu memperhatikan detil riasan wajahnya.

 

‘Selamat pagi, Lila!’ seruku saat ia sedang sibuk memperhatikan riasan wajahnya dan merapikan hiasan di kepalanya.

 

‘Eh, tau gak masak ya kemarin kan gw berlibur sama sodara sepupu gue ya. Masak dia kan baru kerja setaun, eh dia udah punya laptop sama mobil. Kebayang gak sih lo, gajinya berapa?’ kata Lila sambil menghampiri mejaku.

 

Aku masih sibuk memperhatikan inbox emailku sambil tersenyum mendengarkan ceritanya itu. ‘Ah masak sih Lil, bisa aja sodara lo itu kerja di Perusahaan yang memang gajinya gede. Jangan suka merendahkan orang gitu!”

 

‘Bukan gitu Na, sepupu gue itu gak pinter-pinter amat kok. Dia itu pernah gak naik kelas. Gue juga bingung kok dia bisa dapet kerja di Perusahaan Asing kayak gitu. Udah gitu gajinya 3 kali lipet dari gue. Terus dia dapet fasilitasnya.. wuih lebih bagus dari kita. Padahal asal lo tau aja ya, dia itu cuma modal tampang doang. Memang sih kata sodara-sodara gue yang lain, dia itu lebih cantik daripada gue, hahaha….’

 

Lila tertawa. Aku jadi penasaran sendiri dengan status pekerjaan sepupunya itu. Kadang aku juga berpikir hal yang sama seperti Lila. Berpikir bahwa seharusnya aku dapat yang lebih baik dari apa yang selama ini aku dapatkan.

 

‘Memang sodara lo itu kerja apa Lil?’ tanyaku kepada Lila. Saat ini Lila sedang asyik mengkikir kukunya agar lebih rapi dan indah. Sesaat aku tertegun pada perilaku Lila, aku tersenyum dan baru menyadari bahwa aku memiliki seorang teman yang suka memperhatikan penampilannya dimana pun ia berada bahkan di ruang kerja sekalipun.

 

Padahal Lila pernah beberapa kali mendapatkan tegoran dari atasanku karena perilakunya tersebut. Meskipun tidak mengganggu orang lain namun aktivitas merapikan riasan wajah, rambut hingga penampilan pakaian sebaiknya dilakukan di toilet. Selain itu, Atasanku menilai Lila sudah memanfaatkan waktu kerja untuk melakukan hal-hal yang tidak penting. Atasanku sering memergoki Lila sedang memperhatikan penampilan bukan untuk mengerjakan tugas kantor.

 

‘Dia itu sekretaris direktur. Menurut lo wajar kalo dia digaji 3 kali lipat dari kita. Lagian kan dia itu gak punya otak, gak pinterlah. Cuma modal tampang. Memang sih perusahaan asing tapi apa iya gitu.’ jawab Lila kemudian.

 

‘Sebenarnya gue gak ngiri dengan sepupu gue itu, mo gaji berapa kek. Tapi menurut lo masak kita yang udah kerja di sini lima tahun lebih masih gini-gini aja. Gue aja sampe malu pas nyokap gue nyindir-nyindir gue terus, banding-bandingkan dengan sepupu gue itu.’

 

Pernyataan Lila barusan menyentuh pikiranku. Akhir-akhir ini, aku memang sedang berpikir untuk pindah dan cari pekerjaan baru. Aku menyibukkan diri untuk mengirim lamaran ke berbagai tempat. Aku juga menanyakan ke beberapa teman kuliahku mengenai peluang kerja di tempat mereka. Sambil memperhatikan inbox emailku, barangkali ada lowongan yang tepat untukku, aku terus memikirkan status pekerjaan Sepupu Lila tersebut.

 

Wajarkah jika aku menuntut lebih dari apa yang sudah aku peroleh selama ini? Pikiranku semakin diselimuti ingin berhenti dan mengundurkan diri dari pekerjaanku yang selama ini sudah aku geluti selama 6 tahun 8 bulan. Dahulu posisiku hanyalah sebagai Penerima Tamu juga menerima telpon yang masuk. Dua tahun kemudian, aku dipromosikan untuk menduduki jabatan sebagai Administrasi. Kebetulan saat itu, bagian keuangan membutuhkan tenaga administrasi. Kebetulan aku menyelesaikan kuliahku di jurusan akuntansi. Aku hanya sempat mengambil Program Diploma.

 

Setelah menerima posisi sebagai Administrasi dan Keuangan, aku memutuskan untuk meneruskan kuliah program S1 jurusan Akuntansi. Aku bermaksud untuk meningkatkan kinerjaku. Aku bermaksud untuk mendapatkan posisi pekerjaan yang lebih baik. Aku bermaksud untuk mendapatkan uang yang cukup untuk membiayai perawatan kesehatan ibuku yang sedang mengalami sakit paru-paru.

 

Seharian aku memikirkan keputusanku untuk meninggalkan perusahaan ini sebagai bentuk protesku. Haruskah aku memutuskan keluar tanpa berpegang pada pekerjaan baru? Jika aku bertahan terus dalam posisi pekerjaan itu, aku akan sakit hati. Seperti yang pernah aku rasakan kala aku bertemu dan bercerita dengan teman semasa kuliahku dulu. Kini teman-temanku sudah memiliki gaji lebih tinggi dariku, bahkan dua kali lipat dari yang aku peroleh. Mengapa aku tidak?

 

“Apa yang sedang kau pikirkan, Nak?” kata Ibu sambil mengelus kepalaku. Sejak sakit, Ibu selalu tidur di rumahku. Meskipun kecil, tapi rumah ini adalah hasil jerih payahku menabung dan berhemat. Daripada Ibu tidur di rumahnya bersama anak-anak Mas Sapto, kakakku, toh Ia lebih baik mendapatkan suasana nyaman dan tenang. Sakit ibuku tentunya tidak hanya merepotkan Masku tapi juga isterinya. Aku putuskan untuk membawa ibu tinggal bersamaku di rumah kontrakanku yang kemudian menjadi rumahku setelah mencicilnya.

 

“Ah, nggak kok Bu. Hmm.. Ibu setuju tidak kalo aku keluar dari perusahaan sekarang?” kataku pada Ibu seperti merayu. Aku tidak yakin Ibu akan setuju dengan rencanaku ini. Ia menyadari betul kalau aku susah sekali untuk mendapatkan pekerjaan itu. Aku menerima pekerjaan itu meskipun menurut teman-temanku tidak sebanding dengan latar belakang pendidikanku. Aku menerimanya karena sudah setahun aku menganggur sejak lulus kuliah. Aku menerimanya karena Ibuku sudah sakit-sakitan dan membutuhkan biaya yang cukup besar. Tidak mungkin pula, semua biaya pengobatan Ibu harus ditanggung oleh Mas Sapto seorang diri.

 

“Kenapa toh Nak? Kamu lagi ada masalah apa? Apa semua ini belum cukup buat kamu?” kata Ibu sambil mengajakku duduk di pinggiran tempat tidur.

 

“Apa maksud Ibu?” sahutku.

 

“Hmm…, menurutmu apa alasanmu untuk berhenti dan berniat keluar dari perusahaanmu? Kamu harus cerita pada Ibu. Toh, tidak biasa-biasanya kamu sepert ini. Biasanya kamu cerita ke Ibu yang bagus-bagus. Loh, kok sekarang mau keluar. Kok bisa, Nak.”  tanya ibu penuh selidik.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s