Sulitkah Meminta Maaf


Pernahkah terbayangkan oleh Saudara tentang makna kata ‘Maaf’. Meskipun kita sering menyebutkan kata maaf berulang kali secara tidak sengaja namun pernahkah Saudara menyadari kata yang terucapkan tersebut adalah sungguh-sungguh dan tulus. Ataukah kata maaf tersebut hanya sekedar terucapkan saat kita tidak sengaja menginjak kaki seseorang, misalnya.

 

Saudara, kita diajak untuk meminta maaf bukan sekedar memaafkan orang lain. Meminta maaf berarti kita mengakui kesalahan kita dan memohon orang lain untuk memaafkan kita. Tentunya ini berbeda dengan memaafkan orang lain. Meminta maaf berarti kita memberi sedangkan memaafkan berarti kita menerima.

 

Berikut ini adalah tips untuk belajar meminta maaf kepada orang lain terutama orang yang sudah menyakiti kita:

 

Pertama, tidak menghakimi orang lain.

Mengapa meminta maaf begitu sulitnya untuk kita ucapkan? Konon, meminta maaf diidentikkan bahwa kita kalah, salah dan mengakuinya kepada orang lain. Disinilah letaknya, kita begitu sulitnya untuk merasa kalah dan salah, apalagi mengakuinya di hadapan orang lain. Toh, belum tentu hanya kita saja yang salah, bisa saja orang lain itu juga melakukan kesalahan. Hal ini menghambat kita untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf kepada orang lain. Artinya, kita masih melihat selumbar di mata orang lain padahal balok dalam mata kita saja sulit untuk dikeluarkan. Kita masih menghakimi orang lain dan belum secara tulus mengakui kesalahan kita.

 

Proses menghakimi orang lain lebih mudah daripada kita menghakimi diri sendiri. Untuk sebuah persoalan yang sepele, kita banyak menjadikan orang lain sebagai pangkal penyebab kesalahan. Lantas bagaimana dengan kita sendiri? Tentunya kita nomor dua setelah orang lain kita salahkan. Dengan pandangan seperti ini, kita menjadi semakin sulit untuk meminta maaf kepada orang lain karena masih memandang orang lain-lah yang salah, saya tidak. Sehingga muncullah, istilah perkataan, “Sori ya, kalau saya dulu yang harus minta maaf. Emang salah saya apa?”

 

Dengan demikian, sebelum menjatuhkan tuduhan kesalahan kepada orang lain, kita perlu selidiki dan refleksi diri. Jika kita memang tidak melakukan kesalahan, apa salahnya untuk memulai relasi yang lebih baik dengan memulai meminta maaf. Reaksi selanjutnya pasti tidak terduga dari lawan kita. Itulah keindahan kata ‘Maaf’.

 

Kedua, lepaskan egoisme.

Sering kita mengucapkan ‘Nobody’s perfect’ atau di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna. Ketidaksempurnaan ini menyebabkan kita sulit untuk mengakui kesempurnaan diri kita. “Yah namanya juga manusia, pasti tidak luput dari kesalahan.” Kata-kata itu akan terucapkan oleh kita saat kita berbuat kesalahan. Kita menganggap ketidaksempurnaan kita dipahami oleh orang yang telah kita lukai atau sakiti hatinya sehingga kita yakin bahwa orang yang kita lukai tersebut paham. Kita tidak perlu minta maaf lagi, toh, semua manusia pasti pernah melakukan kesalahan termasuk orang yang kita sakiti hatinya.

 

Egoisme diri muncul ketika kita menganggap orang lain sudah memaklumi kesalahan kita dan melupakannya. Padahal belum tentu demikian. Persoalan terberat yang akan dihadapi seseorang ketika meminta maaf kepada orang lain adalah egoisme diri. Kita belum bisa menyangkal diri kita dan mengakui kelemahan kita. Betul, di dunia ini memang tidak ada manusia yang sempurna tetapi apakah kita tidak dapat mengakui ketidaksempurnaan (kesalahan) tersebut dan mengakuinya sehingga terjalin relasi yang sempurna?

 

Setiap orang yang dilahirkan di dunia ini pasti memiliki ego. Ego membentuk jati diri seseorang. Melepaskan egoisme dimaksudkan untuk melepaskan diri kita dan berempati atau menempatkan diri kita menjadi lawan/musuh kita. Kesulitan untuk melepaskan ego berdasar bahwa kita sulit untuk mengakui ketidaksempurnaan diri kita.

 

Ketiga, korbankan waktu dan perasaan.

Dalam belajar meminta maaf,  kita tidak pernah menyediakan waktu. Kita menganggap hal itu sia-sia saja dan percuma. Jika kita melakukan kesalahan, apakah tidak lebih baik kita langsung meminta maaf kepada orang lain? Saudara dapat membayangkan apa yang terjadi jika saudara menginjak kaki seseorang dan meminta maaf tiga hari kemudian. Bagaimana rekasi orang yang diinjak kakinya? Ia pasti tersenyum menerimanya atau barangkali menganggap hal itu tidak pernah terjadi karena ia sudah melupakannya. Sedangkan Saudara membayangkan peristiwa tersebut selama tiga hari, tidak tidur pula karena memikirkan peristiwa dimana saudara menginjak kaki orang itu. Sementara orang yang diinjak kakinya telah melupakannya, syukur jika demikian. Tentu ia akan tersenyum karena hal itu sudah terlewat jauh dari peristiwa yang terjadi.

 

Saudara, belajarlah untuk memulai mengatakan maaf setelah sebuah kejadian berlalu. Dengan mengatakan maaf sesaat setelah kejadian, berarti kita telah mengontrol dan mengendalikan emosi kita sehingga menjadi lebih positif. Kita tidak akan lagi merasa tidak nyaman dan berlarut-larut mengenai masalah ini. Toh, kita sudah cukup lega dengan meminta maaf atas peristiwa yang terjadi.

 

Ingatlah pula bahwa kita harus menyiapkan perasaan kita saat meminta maaf. Tentu perasaan yang muncul beragam saat kita meminta maaf termasuk malu, tidak percaya diri, takut, cemas dan perasaan psikologis lainnya. Namun, saudara harus yakin bahwa perasaan itu wajar dan alami terjadi.

 

September 08

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s