Belajar dari ‘Sang Juara’


Pengantar

Suatu malam, saya menonton tayangan talkshow mengenai keberhasilan Atlet yang mencapai prestasi. Dalam tayangan itu yang berdurasi 1 jam lebih, mengampilkan sosok Atlet Bulu Tangkis, Pembalap Mobil dan Atlet Tinju. Tayangan ini sungguh menggugah saya, bukan hanyak kalimat pengantar yang disampaikan oleh Sang MC yang piawai mengatakan bahwa semoga Atlet ini menginspirasi kaum muda agar berpresetasi, tapi juga kalimat yang terlontar dari setiap Atlet Berprestasi ini.

Berikut ini adalah cara saya belajar dari mereka:

1. Terus belajar dan berlatih.

Sambil menonton tayangan tersebut, saya merekam kalimat inspirasi dari setiap Atlet. Saya menyimak kegigihan mereka dalam meraih prestasi. Pantaslah mereka disebut Berprestasi, mereka mampu mempertahankan kejuaran yang mereka pernah raih. Artinya, mereka tidak pernah merasa berhenti untuk terus berlatih dan belajar sehingga mereka dapat mempertahankan prestasi mereka. Setelah mereka berhasil meraih kejuaraan, mereka tidak langsung merasa puas diri. Berlatih dan belajar tidak pernah berhenti. Kebanggaan itu tidak hanya berhenti di situ saja. Mereka layak disebut Berprestasi karena mereka mampu untuk mempertahankannya pula.

Ada sebuah pepatah mengatakan hidup adalah belajar. Kita tidak langsung bisa berjalan.  Kita belajar bagaimana cara berjalan. Belajar berjalan pun bertahap, bahkan kita pun merasakan pahitnya belajar berjalan, kita mengalami jatuh, terluka, dimarahi orangtua, menangis dsb. Belajar dan berlatih dilakukan secara bertahap dan tidak instan.

Seperti menjadi Juara, toh mereka yang berprestasi tidak langsung instan menjadi Juara. Ada tahap latihan dan belajar. Mereka pun mengalami kepahitan saat belajar dan berlatih. Setelah menjadi Juara, mereka pun masih terus belajar dan berlatih. Pada akhirnya, mereka mampu mempertahankannya.

Jangan pernah merasa takut untuk dicap ‘bodoh’ karena masih terus belajar dan berlatih. Jangan pernah takut untuk mencoba. Jangan takut untuk merasakan kepahitan dan kegalalan. Dengan belajar dan berlatih, kita mengenal arti kegagalan sekaligus keberhasilan. Pengalaman adalah Guru terbaik. Pengalaman berisikan bagaimana kita terus belajar dan berlatih.

2.  Berpikir Positif

Sang Atlet Kejuaran Bulu Tangkis mengatakan bahwa ia pernah punya pengalaman yang mengesankan di saat ia harus mempertahankan juara untuk ke-7 kalinya. Saat set ke-2, skornya ketinggalan cukup jauh dengan sang lawan. Sementara sang lawan, sudah menang di set pertama. Satu hal yang harus dimiliki oleh Sang Atlet saat itu adalah tetap berpikir positif. Waktu yang sempit untuk mengejar ketertinggalannya melawan Sang Lawan digunakannya untuk mempertahankan pikiran positif bahwa Ia pasti mampu menjadi juara.

Sang Atlet pun mampu untuk mengejar ketertinggalan skornya dan menang di set ke-2, hingga pada akhirnya Ia mampu untuk meraih juara untuk ke-7 kalinya. Apa yang tidak boleh dimiliki seseorang saat Ia jatuh dan gagal adalah Pikiran negatif. Pikiran negatif akan mengontrol perilaku dan tindakan kita untuk mengikuti cara kerja otak yang sudah negatif. Hasilnya, pasti dapat dibayangkan.

Berpikir positif akan menguatkan cara kerja dan perasaan kita yang akan mempengaruhi tindakan dan perilaku kita. Mulailah untuk berpikir positif di saat kita sedang mengalami kegagalan atau jatuh. Ubahlah cara berpikir kita terhadap hal-hal yang positif. Bayangkan saat kesempatan untuk menang itu memiliki waktu yang sempit, satu hal yang harus tetap dipegang oleh Sang Juara adalah Berpikir Positif.

3. Berani berkurban

Suatu kemenangan atau keberhasilan diperlukan keberanian dalam berkurban. Hal ini pula yang dirasakan oleh Sang Atlet saat mereka mengenang pengalaman mereka. Di saat usia masih muda, mereka harus mengurbankan kesenangan mereka sebagai anak-anak dan remaja untuk berlatih menjadi Atlet. Mereka bangun pagi-pagi untuk berlatih kemudian melanjutkannya dengan bersekolah. Mereka harus membagi waktu antara latihan dengan sekolah. Sempat terbersit rasa iri mereka terhadap teman-teman seusia mereka yang asyik menikmati waktu.

Pengurbanan waktu adalah contoh konkrit. Apakah kita mau mengurbankan waktu kesenangan kita untuk melakukan hal-hal yang mungkin buat kita monoton atau menjemukan? Bisa dibayangkan, Sang Juara harus berlatih kegiatan menjemukan setiap hari. Nah, apakah kita bisa juga berani mengurbankan keinginan atau minat menyenangkan kita dengan sesuatu yang monoton? Konon, sesuatu yang dilakukan berulang dan terus menerus akan mendekatkan kita pada keberhasilan yang ingin kita raih.

Seorang Pahlawan berani untuk mengurbankan diri mereka. Seorang Penemu mampu mengurbankan waktu mereka untuk terus mencoba dan berusaha. Seorang Atlet Berprestasi mau mengurbankan waktu mereka untuk berlatih. Ada banyak pengurbanan yang dilakukan agar berhasil. Yang jelas, berkurban bukan hal yang mudah, diperlukan keberanian dan tekad.

Dengan berani berkurban, kita memahami tentang proses saat kita meraih keberhasilan. Berani untuk berkurban akan mampu untuk mengalahkan kenyamanan diri kita. Seorang tokoh seperti Ibu Theresa dari India, adalah figur dimana ia berani berkurban kenyamanan dengan keluar dari komunitasnya, berani mengurbankan waktu dengan mengunjungi orang-orang yang sakit, berani mengurbankan perasaan saat orang-orang sekitarnya mencibir dan mengejek perbuatannya dan berani mengurbankan miliknya agar orang-orang yang menderita itu dapat diselamatkan.

4. Disiplin

Sang Atlet Berprestasi menceritakan bagaimana pengalamannya saat berlatih. Di saat usia mereka masih anak-anak, mereka sudah belajar untuk disiplin. Displin membantu mereka untuk mengatur waktu. Disiplin akan membantu mereka untuk memiliki kesempatan untuk belajar dan berlatih, kesempatan untuk melakukan hal lain. Disiplin membentuk kita untuk menghargai waktu yang ada.

Toh, setiap manusia yang lahir di dunia ini memiliki waktu yang sama yaitu 24 jam satu hari. Tidak ada yang lebih atau yang kurang. Sang Juara mengajarkan kita untuk hidup disiplin. Disiplin akan mendorong kita untuk menghargai diri kita tetapi belum tentu orang lain. Disiplin diibaratkan oleh orang-orang yang tidak terbiasa sebagai aturan yang ketat dan kaku. Padahal, tidak demikian.

Jika kita hidup dengan disiplin, kita akan selalu punya waktu. Dengan disiplin, kita akan mampu menghargai waktu. Dengan disiplin, kita akan menyadari bahwa hidup ini tidak sia-sia. Dengan disiplin, hidup kita lebih terencana.

5. Memiliki mental Juara

Seorang Juara pasti memiliki mental juara. Mental Juara maksudnya bahwa kita mampu mengalahkan kenyamanan kita. Kita memiliki semangat dan pikiran optimis. Kita memiliki keyakinan bahwa kita mampu melewati masa-masa sulit. Kita akan terus berjuang untuk mengalahkan ‘musuh kita’

Lalu bagaimana dalam hidup kita sehari-hari? Adakah musuh kita? Pastinya ada. Musuh bisa berarti banyak hal, apakah itu kesenangan, kenyamanan, pujian, materi, dsb? Seorang bermentalkan Juara berarti ia mampu untuk mempertahankan prestasi Juaranya dan tidak terlena. Seorang Juara berarti ia tidak pernah puas diri. Seorang Juara pasti akan terus mencoba hingga ia berhasil.

Apakah seorang Juara tidak pernah gagal? Siapa bilang? Seorang Juara pasti pernah mengalami kegagalan. Tetapi bagaimana sikap Sang Juara dengan yang lain, itulah yang membedakannya. Seorang Juara akan bangkit dari kegagalan sesegera mungkin dan mengejar ketertinggalannya. Seorang Juara tidak akan menyerah oleh nasib. Seorang Juara akan terus berpikir positif meskipun ia gagal. Seorang Juara terus berpikir bagaimana ia dapat menaklukan musuhnya. Seorang Juara akan memandang hidup adalah prestasi yang membanggakan.

Apakah setiap orang bisa menjadi Juara? Jawabannya, pasti dan harus bisa menjadi Juara. Juara tidak selalu diidentikkan dengan keberhasilan dalam memenangkan kompetisi atau perlombaan. Kompetisi atau perlombaan diibaratkan bak roda kehidupan kita. Kadang di atas, kadang pula di bawah. Kita berupaya agar roda kehidupan kita tidak kempes, sehingga tidak berjalan lagi. Bagaimana caranya agar kita dapat terus memutarkan roda kehidupan kita, adalah kompetisi atau perlombaan. Kita menjadi Juara jika kita mampu terus memutarkan roda kehidupan kita.

Penutup

Sahabat, itulah refleksi yang saya peroleh saat saya menyimak pengalaman hidup Sang Juara. Kita dilahirkan dengan talenta dan kemampuan yang berbeda-beda satu dengan yang lain. Setiap manusia itu unik dan tidak ada yang sama tetapi kita memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi Juara.

AR 261108

4 thoughts on “Belajar dari ‘Sang Juara’

  1. Tulisan yg amt brarti untuk sya pribadi dan orng bnyak,..klimat yg memotivasi smua org untk ttp brusaha dan brupaya dalam suatu tujuan/ cita-cita untk mnjadi yg trbaik untk diri pribadi dan org lain,..trimaksih bnyak,..

    Like

  2. Sebuah tulisan yang bagus. yang dapat memotivasi kita, terutama yg membacanya untuk berfikir terus maju tanpa mengenal lelah, karena hidup itu adalah pilihan dan pembelajaran. kadang kita terlena dengan keberhasilan yang kita raih, lupa untuk mempertahankannya sehingga kita sering terpuruk kembali. Semoga tulisan ini banyak dibaca oleh semua orang terutama generasi muda supaya mereka mengerti sebuah perjuangan menjadi juara, juara dalam cita-cita mereka masing-masing.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s