Malam Renungan AIDS : Menulis bebas sebagai bentuk keprihatinan


Tanggal 23 Mei, hari ini, diperingati sebagai Malam Renungan AIDS. Saya sendiri yang pernah bekerja di Program HIV & AIDS, sudah lupa alasan terpilihnya tanggal tersebut sebagai Malam Renungan AIDS. Saya hanya masih mengingat sejarah Hari AIDS Sedunia, yang ditandai pita merah (red ribbon).

Meski kini, saya bekerja di dunia pendidikan, tetapi masih tergerak hati saya terhadap kasus HIV & AIDS yang tidak hanya menjadi persoalan kesehatan saja tetapi juga persoalan sosial dan masyarakat. Bagaimana pun, penularan HIV lebih disebabkan perilaku berisiko seseorang secara sadar atau tidak. Ada banyak pihak yang tidak melulu menjadi pelaku dari yang mengalami saja tetapi juga ‘korban’ dari keadaan. Miris memang! Namun, masalah ini perlu mendapatkan perhatian serius jika dibayangkan bahwa angka kasus HIV dan AIDS mengalami peningkatan, bukan penurunan seperti di negara-negara Asia lainnya.

Hari AIDS Sedunia, 1 Desember tahun yang lalu, saya dikejutkan oleh fenomena data statistik yang menyebutkan Provinsi Jawa Barat sebagai peringkat kedua setelah Jakarta dalam hal jumlah kasus HIV & AIDS terbanyak di Indonesia. Saat ini, saya memang sedang bekerja dan menjadi bagian dari masyarakat Jawa Barat. Sungguh ironis bagi saya, manakala setahun sebelumnya (Maret 2008), Jawa Barat masih di bawah Provinsi Papua, yang menjadi Provinsi kedua terbanyak setelah Jakarta. Bulan Desember 2008, data sudah berbicara lain, bahwa Provinsi Jawa Barat menjadi Provinsi kedua terbanyak dalam kasus HIV & AIDS setelah DKI Jakarta.

Suatu hari di bulan Maret 2009, saya dimintai tolong oleh seorang rekan di Bandung. Beliau meminta tolong untuk merekomendasikan komunitas bagi ODHA yang kebetulan adalah anak jalanan. Saya tidak dapat berbuat banyak, ODHA itu sudah memasuki tahap memprihatinkan, tidak sekedar Orang Dengan HIV Positif. Saya kembali membayangkan data statistik kasus HIV & AIDS di bulan Desember 2008 lalu. Begitu cepatnya?

Di hari ini, saat Malam Renungan AIDS, saya kembali membuka data statistik (http://spiritia.or.id/Stats/StatCurr.pdf) mengenai jumlah kasus HIV & AIDS di Indonesia. Provinsi Jawa Barat sudah berada di posisi pertama sebagai provinsi terbanyak di Indonesia berdasarkan jumlah kumulatif kasus HIV & AIDS. Dalam triwulan Januari-Maret 2009, ditemukan bahwa jumlah kasus HIV & AIDS di Provinsi Jawa Barat meningkat, terbanyak dibandingkan provinsi lain.

Sejak ditemukan tahun 1987, kasus HIV & AIDS di Indonesia mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Tidak bisa di duga bahwa kini Provinsi Jawa Barat menempati urutan pertama terbanyak di Indonesia, yang biasanya ditempati oleh Jakarta atau Papua. Bisa dibayangkan bahwa virus HIV seperti setitik cairan merah yang dimasukkan dalam gelas berisi air putih, menyebar, sehingga gelas berisi cairan warna merah. Begitu cepatnya?

Di malam renungan AIDS, keprihatinan muncul untuk mengingatkan kembali pentingnya membekali diri untuk tidak mencoba perilaku berisiko tinggi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s