Orangtua & Agama


Suatu kali, seorang teman mengaku pada saya bahwa dia telah berpindah keyakinan. Saat mendengar pernyataannya, saya pun tidak bisa memberi komentar apa pun. Apalagi dia beralasan bahwa dia sungguh-sungguh mendalami apa yang baru saja dianutnya itu.

Mungkin saat 5 tahun yang lalu, jika teman saya yang berpindah agama itu mengatakan pada saya, saya pasti akan marah besar. Atau, saya akan berusaha meyakinkan dia, untuk apa pindah agama. Atau, saya akan bujuk dia agar tidak pindah agama. Atau, saya akan ancam dia. Atau, saya akan jauhi dia dan menganggap tidak mengenalnya lagi. Segala macam cara pasti akan saya coba lakukan, asalkan dia tidak pindah agama. Tetapi itu dulu, tidak sekarang.

Saat teman saya mengatakan pindah keyakinan, saya pun menyetujuinya. Toh agama adalah pilihan hidup. Lagi-lagi, saya merenungi sejauhmana agama yang menjadi pilihan hidup itu mempengaruhi hidup yang mengatur relasi saya dengan Tuhan. Atau, agama lebih mengatur relasi saya dengan sesama. Sehingga, jika dia tidak seagama dengan saya, saya akan menjaga jarak. Saya akan lebih fanatik. Menurut saya, Agama saya paling benar. Dan sebagainya. Dan sebagainya. Jika kita bertanya pada orang beragama pun, masih banyak yang mengaku agamanya paling benar.

Orang bijak berkata, Agama adalah sarana kita menuju Tuhan. Tapi bagaimana realitanya?

Belajar dari kasus kepindahan keyakinan dari teman saya itu, dia mengatakan bahwa dia akan lebih ‘committ’ terhadap pilihannya. Dia akan menjalani segala bentuk perilaku beragama yang dianutnya dengan sungguh-sungguh. Begitu katanya.

Lantas, hal ini berbeda dengan teman saya yang se-agama dengan teman saya itu. Teman saya yang kedua ini, sejak lahir sudah beragama demikian. Namun, perilaku beragamanya rendah. Frekuensi untuk berdoa pun rendah. Pengetahuan tentang agama pun minim. Sedangkan teman saya yang pertama, dia memiliki pengetahuan yang baik tentang agama yang dianutnya.

Teman saya yang pertama memaknai kepindahan keyakinan sebagai keputusan yang bertanggungjawab dengan mempelajari pengetahuan agama yang akan dipilihnya. Dengan pengambilan keputusan yang terjadi saat masa dewasa, diyakini seseorang akan lebih bertanggungjawab dengan pilihannya, termasuk konsekuensi yang harus dia tempuh. Sementara teman saya yang kedua, dia tidak pernah diberi kesempatan untuk memilih. Bahkan mungkin, orangtuanya tidak mengajarkan pengetahuan agama untuknya.

Dari kedua teman saya yang se-agama tetapi proses yang berbeda, saya berpendapat bahwa orangtua turut berperan bagi pertumbuhan pilihan keyakinan seseorang secara lebih positif, tidak fanatik berlebihan dan tetap mengarahkan.

Agama menjadi pedoman hidup seorang anak hingga ia tumbuh menjadi seperti yang diharapkan. Anak yang sholeh adalah harapan orangtua. Jika mendapati seorang anak yang berperilaku tidak sesuai harapan orangtua, atau biasa yang disebut sebagai ‘Anak Nakal’ tak jarang orangtua mengkaitkan dengan perilaku beragama anak. Agama menjadi landasan orangtua untuk mengetahui perilaku anak. Bahkan ada orangtua, yang sudah mulai memperkenalkan ritual agama sejak anak masih dalam kandungan. Lalu, saat anak lahir orangtua pun mensyukurinya dengan berdoa. Dan masih banyak cara dimana orangtua terus memperkenalkan agama sejak lahir.

Namun orangtua tetap berperan tidak hanya menjadikan seorang anak beragama, tetapi juga terus membimbingnya. Orangtua meminta anak untuk pergi ke tempat ibadah namun orangtua jarang pergi ke tempat ibadah. Orangtua meminta anak untuk sembahyang tetapi anak jarang melihat orangtua sembahyang. Orangtua adalah teladan bagi anak.

Orangtua mengajarkan anak untuk tidak berbohong sebagaimana yang diajarkan dalam agama, namun orangtua meminta anak untuk berbohong saat ada tamu yang tidak dikehendaki. Jelas tidak konsisten. Selain sebagai teladan, orangtua juga harus konsisten terhadap apa yang sudah diajarkan kepada anak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s