MONOLOG HATI: Antara si baik dengan Si jahat


Si baik:            Apa yang harus aku lakukan? Tak tentu arah menemukan jawaban.

Si jahat: Teruslah bertanya, kamu tidak akan mendapatkan jawabannya.

Si baik: Maksudmu?

Si jahat: Pertanyaan tidak akan mengubah keadaan. Keadaan berubah jika kamu mengubah apa yang ada di benakmu. Keadaan berubah jika kamu mengubah perilaku. Keadaan tidak akan berubah hanya dengan bertanya dan bertanya.

Si baik: Ya, kamu benar. Tapi aku tetap tak habis pikir mengapa pikiranku hanya tertuju pada sebuah nama. Perilakuku juga hanya mengarah pada sebuah nama. Bagaimana mungkin sebuah nama ini terus menghias hatiku?

Si jahat: kalau begitu lakukan apa yang dikehendaki pikiranmu. Nama itu akan terus menghantuimu dan rasa bersalahmu karena kamu tidak pernah bisa memilikinya.

Si baik: Meski aku tidak bisa memilikinya, akankah aku bisa mengorbakan hati yang jadi milikku untuknya.

Si Jahat: Apa? Kamu mau mengorbankan kita, hati, untuk dia. Gila aja. Perempuan sepertimu, bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan.

Si baik: Tenanglah. Maksudku, kemanapun aku pergi pasti kamu akan ikut serta. Bahkan saat ‘sebuah nama’ bersamaku, kau selalu membujukku untuk mengorbankan kehormatan hati ini untuknya. Asal kamu tahu, aku selalu berhasil mengalahkanmu, kebaikan selalu menang.

Si jahat: Memang kau selalu menang tetapi kau tidak pernah bisa memenangkan pikiranmu padanya. Pikiranmu dan ruang hati selalu dipenuhi oleh ‘sebuah nama’. Aku muak. Mengapa kau tidak menuruti keinginanku?

Si baik: Hai bodoh, jika aku menuruti keinginanmu maka ruang dimana kita tinggal, yaitu hati, sudah kotor dipenuhi oleh nafsu. Jika aku menuruti keinginanmu maka aku akan melukai hati yang lain. Jika aku menuruti keinginanmu, maka aku tidak bisa mempertanggungjawabkan milikku kelak pada ‘Nama Lain’ yang pantas mendapatkannya. Jika aku menuruti keinginanmu, Tuhan pasti akan menghukumku atas kebodohanku menerima hadirnya dirimu, Si Jahat.

Si Jahat: Baiklah, kamu memang selalu bisa memenangkan pertandingan ini. Meski kamu menang tapi kamu tidak bisa memenangkan pikiranmu.

Si baik: Dengan terpaksa, aku harus mengubah pikiranku. Dengan terpaksa, kita akan menyapu bersih ‘Sebuah Nama’ itu dalam ruangan ini. Biarlah ruang ini bersih. Biarlah kehormatan kita tetap terjaga tanpa menyakiti hati yang lain. Apalah arti ‘Sebuah Nama’ jika hanya meninggalkan luka yang dalam.

Si Jahat: Kamu menang, Sobat.

Si baik: Kemenangan hati tidak terletak pada kebaikan semata tetapi bagaimana hati membantu pikiran dan perilaku untuk tetap mengarah pada kebaikan. Jika hati, pikiran dan perilaku baik maka kehormatan seseorang terpancar disana.

Si jahat: Yah, baiklah. Tuhan memang selalu mendukungmu, Sobat.

Si baik: Tuhan akan beserta siapa saja, si baik dan si jahat, tergantung bagaimana bisa memenangkannya.

Doa:

Ya Tuhan, ajarkanlah aku untuk memenangkan kebaikan hati ini. Bantulah aku untuk menghapus pikiran dan hati dari ‘sebuah nama’. Semoga perilakuku tidak mengarahkan pada ‘sebuah nama’. Amin

One thought on “MONOLOG HATI: Antara si baik dengan Si jahat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s