Merajut serpihan hati


Kala mentari menghiasi hari dengan terang, Perempuan itu berjalan mengais serajut mimpi. Tak ditemukan apa yang dicarinya. Ia mengiba pada mentari. Wajahnya peluh oleh keringat, hatinya penuh oleh gelora harapan tapi mimpi tak kunjung datang. Matanya terus mencari, tangannya bergerak-gerak mengais sesuatu yang ditemuinya di jalan. Kosong. Hampa. Perempuan itu tidak menemukan apa pun.

Mentari terus memancarkan sinarnya. Teriknya tidak hanya membakar tubuh perempuan itu, tetapi membakar hatinya yang kacau oleh serpihan harapan yang dibangunnya sejak pagi datang.

Tuhan, keluh perempuan itu. Adakah Engkau disana, memperhatikan kerendahan hatiku? Adakah Engkau disana, melihat peluhku mencari serpihan hati ini yang retak dan kini entah dimana? Adakah Engkau disana, menyaksikanku menderita atas nama cinta?

Malam pun datang. Seisi kota hampir ditelusurinya dengan penuh harap, oleh perempuan itu. Tak kunjung pelita itu membantunya mencari serpihan hati yang dicarinya. Kala rembulan datang dengan temaram, perempuan itu tetap meringis menahan perih hati yang koyak.

Tubuhnya lemah, pikirannya kosong dan matanya nanar.

Malaikat datang menghampirinya. “Oh Malaikat, aku tak sanggup lagi!” seru perempuan itu. Malaikat pun menghampiri dan menatap perempuan itu.

“Malaikat, kau tau apa yang kurasakan sekarang. Hatiku hancur berkeping-keping. Tak kutemukan serpihannya di seisi kota. Tak ada yang tahu, dimana kau letakkan serpihan. Kau tahu, aku tak bisa hidup tanpanya. Jiwaku luluh lantak, saat kau meretakkannya.”

Malaikat pun tersenyum.

“Aku sadar, jiwaku akan mati tanpanya. Aku sadar, bahwa masa lalu telah mengoyakkannya. Aku sadar, bahwa kesalahanku telah melukainya. Aku sadar bahwa itu semua karenaku. Aku sadar bahwa Tuhan telah menghukumku.”

“Aku sadar bahwa serpihan yang kurajut nanti saat kutemukan tak seindah yang dulu.”, teriak perempuan itu kepada Malaikat.

Malaikat pun tersenyum lagi. Malaikat meninggalkan perempuan itu disana, terkapar pasrah. Fisiknya lemah karena separuh hidupnya telah pergi. Asa masih bersama perempuan itu.

“Oh Tuhan, jika jiwa ini masih bisa bertahan tanpanya, biarkan dia menjadi milikku selamanya. Kan kurajut serpihan hati ini dengan penuh rasa cinta.”

Perempuan itu menutup mata. Nafasnya satu demi satu. Hidupnya tinggal sepenggal lagi. Serpihan hatinya yang tersisa masih digenggamnya kuat-kuat. Baik hanya separuh daripada aku harus kehilangan semuanya.

Tuhan tak diam. Ia tidak menutup mata terhadap perempuan ini.

Saat ingin mengkatupkan kedua tangannya, tangan yang satu menggenggam serpihan hati, tiba-tiba tangan yang lain menemukan serpihan yang selama ini dicarinya.

Sontak, perempuan itu bangkit dari kelemahannya. Matanya terbuka bahagia. Dilihatnya tangan yang lain, yang menggenggam serpihan yang baru saja ditemukannya itu.

Fisiknya yang lemah, tak dipedulikannya lagi.

Perempuan itu mengambil jarum kebahagiaan dan benang keindahan, dirajutnya serpihan itu, yang satu dengan yang lain. Meski butuh waktu untuk merajutnya, meski butuh usaha untuk menekuninya, meski butuh kesabaran untuk menantinya namun hati tak lagi terpisah.

Merajut serpihan hati bukanlah sebuah proses yang mudah, kemudahan akan dilancarkan olehNya, atas kehendak dan niat baik kita kepada Tuhan. Perempuan itu hidup kembali dengan hati yang terajut kembali. Lebih baik hidup dengan hati yang terajut kembali daripada tanpanya.

AR (sedang merajut serpihan hati)

Bandung, permulaan bulan baik 2010.

One thought on “Merajut serpihan hati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s