Belajar keluar dari “Kotak”


Suatu kali, saya menemukan seekor katak dalam kamar hotel dimana saya sedang menginap. Saya paling takut dengan binatang apapun jenisnya. Meski tidak sampai phobia tetapi reaksi spontan saya menghindar, berlari, mencari sesuatu untuk mengusirnya atau mencari bantuan untuk mengeluarkannya. Intinya, saya tidak ingin bersama binatang itu. Segala cara saya coba lakukan, sayangnya saya tidak bisa mengusir katak itu dalam kamar saya. Oh ya, saya belum juga bisa membedakan apakah itu katak atau kodok. Kata para ahli, kodok dan katak itu berbeda. Yang jelas saya hanya menemukan seekor binatang yang suka melompat dengan kedua kaki di belakangnya.

Saya putar otak untuk mengusir katak ini dari kamar saya, tetapi tidak bisa. Jika saya pukul dan membunuhnya, saya tak bisa. Lantas, saya melirik di sekitar meja ada sebuah tempat sampah dengan tinggi sekitar 40 cm, berbentuk kotak. Saya ambil dan saya tutupi katak itu dengan kotak sampah. Saya berpikir, saya akan terselamatkan karena katak tidak akan menggoda saya saat berada di kamar.

Dengan bernapas lega, saya berhasil memasukkan binatang yang membuat saya tak bisa tidur itu ke dalam sebuah kotak.

Apa yang saya perhatikan sekarang adalah seekor katak dalam sebuah tempat sampah yang sedang berusaha melompati bibir tempat sampah, agar bisa keluar. Sedih sebenarnya. Saya akui saya bukan orang jahat yang suka menyiksa tetapi saya pun takut jika hanya karena katak, besok saya jadi tidak nyaman dan kurang tidur.

Katak adalah binatang yang dikenal pandai dalam melompat. Toh, saat ia terkurung dalam sebuah kotak, ia tetap harus berpikir bagaimana keahliannya dapat digunakan untuk keluar dari masalahnya.

Karena saya prihatin terhadap katak dan terhadap diri saya yang takut akan katak. Saya pun memutuskan untuk tidur dan membiarkan katak terkurung dalam kotak tersebut.

Saya menginap di hotel tersebut selama tiga malam empat hari. Saya berpikir terselamatkan untuk tidur malam kedua tanpa gangguan katak. Terus terang, meski katak hanya sekedar melompat, namun entah mengapa sugesti yang tidak baik kerap menghantui saya. Daripada tidak tidur, toh saya memutuskan untuk menyelamatkan diri dengan menaruh katak dalam tempat yang aman, tersembunyi dan tidak bisa keluar.

Malam kedua, saya berhasil tidur dengan nyaman. Agar memastikan kondisi si katak, saya pun melongok ke dalam kotak sampah. Saya masih melihat katak masih berjuang untuk keluar dan mencapai bibir kotak sampah. Miris memang. Binatang yang lihai dalam melompat, dikalahkan oleh sekotak sampah. Lebih tepatnya terkungkung dalam sebuah kotak.

Saya pun merenung. Dalam hidup, kita memiliki keahlian dan kompetensi yang cukup dikenal dan dibanggakan. Namun sayangnya, saat kita masuk dalam sebuah ‘Kotak sampah’ kita terkungkung, dan tak bisa keluar. Kita diam dalam ‘Kotak Sampah’ dan tak bisa berkutik apa-apa.

“Kotak sampah” menjadi masalah kita. “Kotak sampah” ibarat pikiran. “Kotak sampah” ibarat hambatan. Ada banyak umpama yang bisa kita andaikan dengan “Kotak sampah” namun yang jelas. “Kotak sampah” membuat kita terpasung, tak bisa bergerak, mengeluarkan diri atau menggali potensi kita.

Karena penasaran, saya pun memegang bibir tempat sampah tersebut. Mungkin, katak telah mengukur potensi lompatannya, setelah semalaman dikurung. Mungkin, katak telah mengetahui apa yang menjadi hambatannya itu. Mungkin, katak juga telah berlatih semalaman agar bisa keluar dari tempat sampah. Katak tersebut berhasil meloloskan diri. Katak melompat keluar, melewati bibir tempat sampah.

Sangking paniknya ditambah gerakan keberanian yang luar biasa muncul dalam diri, saya pun segera mencari cara, agar saya bisa menangkap katak kembali. Pokoknya, katak harus segera ‘diamankan’. Saya tidak ingin terganggu lagi dengan kehadiran katak.

Disitu saya melihat lompatan katak hanya seluas lebar tempat sampah. Katak dalam benak saya, mampu melompat tinggi dan lebar. Ini hanya karena saya tidak pandai belajar dalam biologi, sehingga saya juga lupa berapa lebar dan berapa tinggi katak melompat. Katak ini begitu lemah dalam melompat. Saat saya tahu dalam kelemahannya yang sedemikian itu. Saya pun dengan sigap, menangkapnya kembali.

Dengan kotak sampah di tangan ditambah keberanian, saya berhasil menutup dan memasukkan katak kembali dalam kotak sampah. Agak sedikit ngeri memang. Saya hanya membayangkan, bahwa saya pasti akan dihantui rasa bersalah karena membuat katak semakin menderita. Tapi apa daya, saya harus melakukannya. Saat itu pun, saya tidak mendapati ide atau pikiran untuk mengeluarkan dari kamar saya, atau meletakkan di taman dan membiarkannya pergi. Niat saya baik kok. Itu pikiran saya. Saya hanya menyimpannya hingga saya keluar dari hotel dan membiarkan katak hidup kembali.

Tinggal semalam lagi pikir saya. Saya pun melanjutkan tidur dengan rasa nyaman. Saya biarkan katak terkurung lagi. Maafkan saya katak.

Malam terakhir, saya pun berkemas-kemas dengan barang-barang yang saya miliki. Setidaknya pikiran saya saat itu, merapikan barang milik saya. Saya masih belum berpikir dengan si katak.

Menjelang tidur, saya baru terpikir untuk mengembalikan katak pada habitat aslinya. Atau lebih tepatnya, membiarkan ia kembali hidup normal.

Saat saya melihat ke dalam kotak sampah. Katak yang dua malam ini, saya lihat sibuk untuk melewati bibir kotak sampah, kita diam, tak bergeming.

Entah apa yang terjadi padanya, yang jelas, saya merasa bersalah dan takut saat itu.

Baru kepikiran oleh saya, untuk membawa kotak sampah keluar atau mengeluarkan katak keluar dari kamar saya.

Saat keluar, saya meletakkan kotak sampah terbalik, agar memudahkan katak keluar dengan mudah.

Yang terjadi adalah katak keluar mudah tapi tak melompat lagi seperti yang dilakukannya kemarin. Apa yang terjadi? Pikir saya.

Katak diam. Katak mati.

Saya kaget luar biasa. Entah apa yang menyebabkan dia mati. Lagi-lagi saya tak pandai dalam biologi, hingga tak tahu apa yang menyebabkan katak mati.

Katak mati. Mati karena putus asa, mungkin. Mati karena tidak mendapatkan makanan, selama tiga malam, mungkin. Mati karena tidak bisa keluar dari kotak sampah, mungkin. Mati karena tidak bisa menyelesaikan masalah, mungkin. Mati karena katak ternyata tidak ahli melompat setinggi bibir kotak sampah, mungkin. Mati karena pasrah, lemah dan tak berdaya, mungkin. Mati karena dirundung kemalangan, mungkin. Mati karena Tuhan memberi takdirnya untuk mati dalam kotak sampah.

Tak pernah ada yang tahu, apa yang menyebabkan akhir dari segalanya.

“Kotak sampah” adalah gambaran yang mudah yang diibaratkan dalam hidup kita dan menghambat pertumbuhan diri kita. “Kotak sampah” bisa lingkungan kita, teman-teman kita, kata cercaan yang menghancurkan diri kita, status sosial kita, dan masih banyak lagi.

Kita tidak mungkin mati seperti katak itu.

Kita diciptakan seperti katak, punya keahlian masing-masing tinggal bagaimana kita memanfaatkan keahliannya untuk keluar dan bertahan saat “kotak sampah” itu ‘membunuh’ diri kita. Setiap orang diciptakan dengan daya tahan dan daya juang berbeda, tinggal tergantung bagaimana kita memaknainya dalam hidup.

Belajar keluar dari “kotak” dari seekor katak, semoga menginspirasi kita semua. Terimakasih katak, maafkan jika aku harus melukaimu untuk belajar hal yang baru dalam hidup.

Bulan baik, biarlah aku terus meniti kebaikan dalam hati setiap orang setiap hari.

-A-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s