Fajar Pergi, Cahayanya Tertinggal Di Hati


Saat udara pagi tercium mewangi dari kamarku, sadar bahwa pagi telah menghampiriku. Aku kecap dengan rasa syukur, Tuhan terimakasih. Sambil menggeliat badan, aku membenamkan diri dalam lamunan pagi hari sebagaimana ritual pagi yang jadi kebiasaan. Lamunan biasa yang berisi kegiatan-kegiatan apa yang akan aku lakukan sepanjang hari ini. Lamunan yang biasanya menjadi mimpi dan menjadi asa kala aku bangun di pagi hari.

Sambil merapikan lembar rambut yang menutupi wajahku, aku larut dalam penyerahan diri kepada Tuhan. Seperti biasa doa dua menit adalah obat mujarab untuk mengisi suplemen hidup di hari ini. Tuhan, berikan aku keajaiban di hari ini agar aku menjadi lebih semangat menghadapi kesulitan dan tantangan hidup ini. Itu pintaku dalam doa.

Amin. Kata yang terucap setelah Doa dua menit. Sadar atau tidak, aku memaksakan kehendak pada Tuhan untuk mewujudkan pintaku.

Sembari merapikan tempat tidur di kamar hotel. Karena aku sedang berada dalam sebuah tugas di kota kecil. Meski ada petugas hotel yang kelak akan merapikan kamarku, tapi aku paling suka melihat kamarku rapi dan bersih, agar siapapun yang melihat percaya bahwa pemiliknya adalah orang yang rapi dan bersih. Begitu kesan yang ingin aku ciptakan.

Terusik olehku saat sinar cahaya menyilaukan mata. Oh, sinar mentari pagi datang menyergapku di kamar. Wah, fajar menghampiriku, sinarnya tidak hanya menyilaukan tetapi memberi harapan bahwa hari ini akan menjadi lebih cerah dari sebelumnya.

Aku buka gorden kamar dan berharap melihat fajar lebih jelas lagi. Sinarnya merasuki sukma, bangkitkan rasa dan gairah di hari ini. Aku jatuh cinta pada fajar pagi ini. Berharap sinarnya akan menyinari asaku di hari ini. Fajar yang membangunkanku dari mimpi. Fajar yang menyilaukan dengan sinar rasa dan berharap meninggalkan sinarnya untuk asa di hari ini.

Memandangi fajar yang malu-malu, menyembul dari balik pegunungan yang menjulang tak jauh dari jendela kamar hotelku. Melihatnya samar-samar menggugah rasaku menjadi asa di hari ini. Misteri fajar pagi hari ini memang membuatku bertanya, akankah fajar akan menyakitiku dengan sinarnya yang menyengat? Karena seharian aku akan berada di luar kantor. Ataukah, fajar akan menghampiriku dan menemani aktivitasku di hari ini.

Sejenak fajar tampak tersenyum bergairah menyambutku memperhatikannya. Alangkah indah bila fajar hari ini akan menjadi  yang terbaik untuk menemani asaku di hari. Jangan biarkan mendung bergelayut merengkuhmu. Aku tak ingin kau pergi begitu cepat.

Kupandangi fajar sekali lagi, ia masih tersenyum padaku. Rautnya terasa hangat membungkus kegalauan rasa di hari ini.

Sepuluh menit berselang, saat aku baru saja meninggalkan jendelaku. Suara halilintar menghampiri. Bunyinya kencang mengetarkan kamarku. Sontak aku tak percaya. Baru saja fajar tersenyum padaku, kini mendung itu meraihnya.

Kupandangi jendela kamar sekali lagi, sedih terpancar dari rautnya. Perlahan-lahan tak kulihat lagi ia menyembul di gunung seberang sana.  Fajar menghilang di balik gunung. Ia tak jadi menemani asa yang telah menjadi rasa di hari ini. Fajar itu hanya kenangan dari mimpiku yang terusik oleh sinarnya.

Fajar telah pergi tetapi sinarnya masih tertinggal di hati.

Bandung, permulaan bulan baik, sebuah nazar.

-A-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s