Sejauh Doa


“Bapa mana jika anak meminta telur akan memberikan ular. Atau meminta ikan, akan diberikan kalajengking. Jika kamu yang baik, tahu bagaimana memberi, apalagi Bapa yang di Surga, tahu apa yang kamu butuhkan.”. Mungkin (kira-kira) demikian bunyi sabda Tuhan. Saya jarang membaca kitab suci, atau perlu dicatat kapan terakhir saya rajin membaca buku ajaib itu, namun saat saya menemukan ayat-ayat yang menarik dengan pengalaman hidup, saya akan mencatat dalam benak saya. Bahkan, saat saya benar-benar membutuhkan pertolongan Tuhan, ayat itu kembali membahana agar saya kembali berdoa pada Tuhan yang baik.

Setiap orang telah dirancang dalam buku kehidupannya oleh Tuhan. Apa yang terjadi dalam buku hidupnya, tak melulu kisah kesedihan atau kisah kesenangan. Yang tertulis dalam buku hidup setiap orang, dimaknai sebagai sebuah perjalanan agar kelak setiap orang sadar bahwa Tuhan selalu hadir dalam hidup. Namun, kebanyakan orang seperti saya dan mungkin juga anda, lebih sering menghadirkan Tuhan saat kesusahan datang. Kalimat adik saya, yang selalu teringat dari saya, Apa pun yang terjadi, aku tak pernah ditinggalkanNya. Ya, Tuhan tak pernah meninggalkan kita. Kita-lah yang sering meninggalkanNya.

Tuhan tahu apa yang kita butuhkan. Dia mengerti kegelisahan hati setiap orang. Tak jauh Tuhan itu ditemukan. Kita tinggal masuk dalam keheningan, mencari Dia dalam hati kita. Lalu ucapkan doa padaNya. Ya, Tuhan hanya sejauh doa. Cukup. Tuhan pun tak pernah mengajarkan doa seperti puisi atau seperti karangan indah. Tuhan tak pernah meminta kita berdoa seperti Pendoa. Kita cukup berdoa seperti doa yang diajarkanNya, Doa Bapa Kami. Doa yang mujarab, saat saya tidak tahu lagi harus berujar apa padaNya. Tuhan telah mengenal kita.

Sejak kecil, orangtua sudah memperkenalkan saya bagaimana harus bersyukur pada Tuhan lewat doa. Doa makan. Doa tidur. Doa saat berkumpul bersama keluarga.

Di sekolah yang bercirikan Iman Kristiani, saya pun sudah diajarkan bagaimana berdoa Salam Maria dan Bapa Kami sebagai doa dasar yang diperkenalkan kepada saya, sebagai siswa. Doa Bapa Kami sebagai doa untuk memulai pelajaran di sekolah dan Doa Salam Maria untuk mengakhiri pelajaran. Dulu, Doa Bapa Kami dan Doa Salam Maria adalah doa hafalan yang terucap secara tidak sadar. Mengapa tidak sadar? Karena spontanitas keluar meski pikiran dan hati itu kemana-mana. Doa Salam Maria juga menjadi kebanggaan, kala saya berani (usia anak SD Kelas 1) berhasil mendoakannya dengan benar, berani dan lantang saat sembahyangan di lingkungan sekitar rumah. Mungkin, anak seusia saya pada saat itu, bisa jadi belum berani. Atau, mereka memang tidak diajarkan di sekolahnya. Orangtua saya bangga pada saya yang berhasil membuat orang-orang di lingkungan saya berdecak kagum atas keberanian saya.

Saat ini, saya sedang tidak membahas keberanian saya berdoa. Saat ini, saya ingin menceritakan pengalaman berharga saya dengan Tuhan melalui doa yang saya ucapkan. Tuhan pun sedang berpikir bahwa saya menuliskan ini karena kegelisahan atas permohonan selama ini.

Kadang kita memang tidak bisa memahami apa rencana terbaik Tuhan dalam hidup, termasuk saya. Saya sempat berpikir putus asa dan mengganti doa permohonan saya. Saya pun kecewa jika permohonan yang saya sampaikan tidak terkabul. Memaknai ketidakmengertian saya tentang maksud Tuhan dibalik permohonan saya yang tidak terkabul. Akhirnya sadar, bahwa Doa tidak mesti mengubah Tuhan menurut kehendak saya, tetapi saya berubah untuk memahami doa yang saya sampaikan pada Tuhan. Oh, jadi ini maksud Tuhan pada saya, pikir saya dalam hati.

Doa adalah cara yang manjur saat kita berkeluh kesah dalam hidup. Doa menjadi senjata penyerangan pada Tuhan, yang sedang ‘menyerang’ kita dengan kesusahan. Mungkin begitu. Saya pasti salah. Tuhan tak pernah ‘menyerang’ kita. Kesusahan datang agar kita belajar untuk menerima kesabaran, belajar dari kesalahan, semakin setia padaNya, semakin akrab dengan sesama dan masih banyak lagi, maksud ‘ujian’ Tuhan. Jika saya mampu menjawab soal-soal dalam ujian saat mengikuti pendidikan, saya akan lulus dan mengenali potensi saya. Jika saya tidak mampu menjawab ujian, itu berarti saya harus belajar lebih giat lagi, dan belajar agar bisa lulus dan naik tingkat. Nah, mungkin begitulah kesusahan yang terjadi dalam hidup saya. Mengandaikan dengan ujian, memang tidak adil bagi Tuhan, tetapi Tuhan adalah Guru dalam hidup saya. Saat saya salah dan gagal, saya belajar untuk menerima kekalahan sebagai kemenangan diri. Ajaib memang Tuhan.

Tidak munafik memang jika berbicara tentang pengalaman saya dengan Tuhan. Saya adalah satu dari sekian banyak orang yang tidak suka membahas tentang masalah agama. Anggaplah saya tidak beragama, itu yang saya ucapkan pada teman saya yang bertanya tentang pengetahuan agama pada saya. Yang saya kenal tentang Tuhan adalah saat saya susah dan senang, saya berdoa padaNya. Bahkan, saat saya membutuhkan pertolongan yang tidak nyata, Tuhan hadir bagi saya. Tuhan seperti menghidupi saya dengan semangat baru.

Sebagaimana Pengkotbah mengatakan, Segala sesuatu Indah pada waktuNya. Saya sadar Tuhan akan membantu saya meraih keindahan itu pada waktu yang tepat. Keindahan menurut saya adalah saat saya berhasil meraih apa yang saya impikan. Padahal tidak demikian. Keindahan menurut Tuhan adalah saat saya menanti dengan sabar melalui proses yang penuh dengan tangis, perasaan emosional dan perjalanan memilukan lainnya. Toh, ukuran saya pada akhirnya adalah hasil bukan proses, sementara Tuhan memaknainya dengan proses mencapainya.

Sadarlah saya, Tuhan tidak akan memberikan batu jika kita meminta sesuatu. Jika takdir bukanlah jawaban dari pinta saya pada Tuhan, maka iman adalah sesuatu yang memungkinkan saya percaya bahwa kekuatan doa membantu saya menyerahkan pada Tuhan. Sebagaimana kutipan dari Anthony de Mello yang selalu saya kenang, Bukan kekuatan doa, bukan pula kekuatan takdir atau nasib yang menentukan semua ini tetapi kekuatan iman. Iman sebesar biji sesawi saja mampu memindahkan gunung. Iman adalah penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan.

Tuhan, aku percaya bahwa suatu hari nanti, aku akan memahami rencana indahMu.

Untuk sebuah Nazar yang terucap di Bandung

-AR-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s