Menikah Di Dunia Maya


Entah apa yang merasuki seorang untuk segera menikah. Itu adalah kenyataan yang dihadapi jika seseorang terdesak oleh keadaan, umur misalnya atau keterdesakan karena permintaan seseorang, atau kebutuhan biologis. Yang jelas, menikah adalah sebuah pilihan dan komitmen hidup yang hanya sekali seumur hidup, meski ada pilihan untuk bercerai atau batal perkawinan namun intinya saat seseorang menikah, menikah diharapkan sekali dalam seumur hidup.

Ada banyak cara yang dilakukan agar orang-orang yang sudah cukup berumur (baca usia bagi perempuan, tiga puluh tahun ke atas), memikirkan gerbang masa depan yang belum dilalui itu. Menikah. Meski hanya sekali, tetapi buat yang belum menikah rasanya kok sulit sekali untuk menemukan seseorang yang pas di hati. Sekali, yah karena di era yang komitmen hidupnya sulit dipegang, kita sudah menemukan orang dengan mudahnya menikah lebih dari sekali.

Suatu saat, teman kantor saya yang sudah menikah lebih dari sekali dan sampai sekarang selalu terngiang di kuping saya, “Yang penting bisa ngerasain kawin.” Oh, sial segitu mudah orang berpendapat tentang menikah, yang menurut saya tidak mudah. Bahkan, menikah yang menjadi solusi masalah bagi si lajang justru menjadi sumber masalah ketika sudah menikah. Semua pilihan hidup ada konsekuensinya, tergantung bagaimana kita bertanggungjawab terhadap pilihan itu.

Menikah tidak mudah namun juga tidak sulit. Malam ini, jujur ada sesuatu yang mendesak saya sekali lagi menulis. Menikah. Topik yang menarik untuk dibahas panjang kali lebar sama dengan luas, namun tak pernah luas untuk ditemukan jawabannya. Menarik untuk dibicarakan secara teori tapi tidak untuk praktiknya.

Singkat cerita, saya mengenal seorang pria di dunia maya. Terus terang, bukan hal yang baru buat saya mengenal seorang yang kelak akan berelasi sebagai teman di dunia maya. Saya senang berteman dan saya menyukai banyak teman. Saya pikir pertemanan dalam dunia maya hanya sebatas bahwa saya mengenalnya tak lebih dan tak kurang sebagai pribadi yang tak sulit ‘intim’ dibandingkan teman yang secara nyata telah saya kenal bentuk fisik dan rupanya, termasuk karakternya sebelumnya sehingga saya mudah berbicara atau berelasi dekat dengan mereka.

Saya pikir tawaran niat baik dan akan terbalas dengan kebaikan terbayar dengan memberikan nomor telpon saya. Melalui telpon, menurut saya ini masih masuk dunia maya sedangkan menurutnya tidak, pria ini ingin mengetahui secara jelas dan detil pribadi saya. Baiklah, mungkin ini kesan pertama yang harus terbangun. Hingga suatu titik kulminasi, dimana perkenalan tersebut berlanjut dengan tawaran untuk menikah. Menarik nafas dalam, pasti ini sebuah jebakan lagi. Mengapa pria suka sekali mengobral janji untuk menikah?

Hai, para pria menikah bukan sebuah permainan!

Pria ini serius ingin segera menikah dengan alasan tertentu, termasuk umur yang sudah tak muda. Mengapa menikah menjadi begitu mudah terucap apalagi terhadap orang yang baru dikenalnya di ujung telpon atau di ujung seberang dengan ketikan dunia maya. Hal ini berulang kali saya dapatkan. Apa maksudnya dari semua ini? Tak adakah cara yang lebih sopan untuk meminta seorang perempuan untuk menikah? Tak adakan proses bagi kedua pihak untuk saling mengenal lebih baik dalam hitungan waktu? Tak adakah media yang paling mulia untuk mengutarakan niat baik ini secara langsung?

Menikah. Menikah lagi. Telah sering mereka mengobral komitmen hidup, menikah. Menikah bukan sebuah permainan yang bisa menentukan kalah dan menang di akhir pertandingan. Tetapi kecanggihan dunia teknologi mungkin perlu disambut dengan tangan terbuka, termasuk menikah dalam dunia maya suatu saat terwujud.

Ya. Ya. Menikah adalah sebuah pilihan yang bertanggungjawab, tak mudah namun tak sukar. Bukan persoalan status semata, tetapi kedua insan yang berbeda yang akan hidup seumur hidup selamanya hingga ajal memisahkan.

Maafkan saya. Jika menikah adalah sebuah ritual ibadah yang melanggengkan hubungan saya dengan pasangan lewat berkat dari Tuhan, biarkan saya menerima pinangan menikah dengan situasi yang lebih serius dan beradab. Apakah kelak menikah di dunia nyata dapat dilakukan pula di dunia maya?

Untuk seorang pria yang baru saya kenal di ujung telpon malam ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s