Belajar Dari Sebuah Kentang


Saya suka sekali memasak. Menurut saya, memasak adalah sebuah seni seperti menulis dimana ketrampilan untuk menyajikan yang terbaik lewat rasa pengecapan dan penciuman terwujud jadi satu melalui makanan. Memasak dengan hati akan tercermin dari sajian dan kelezatan makanan yang tercipta setelah kita mencicipinya. Jika kondisi hati tak baik maka makanan yang sedang kita masak pun akan terasa tak baik pula untuk dimakan. Sebagai contoh, saat saya sedang marah sambil mengulek sambal, maka rasa sambal luar biasa pedas dan tak sedap di lidah. Atau, masakan bisa terasa keasinan meski bukan bermaksud ingin segera menikah. Intinya, memasak dengan penuh cinta akan terasa menyenangkan sekaligus melezatkan di hasil akhir makanan yang tersaji.

Di suatu minggu, saya ingin membuat kue pastel yang berisi kentang dan wortel yang dipotong dadu kecil-kecil. Salah satu tugas yang harus dipersiapkan untuk membuat pastel adalah membersihkan bahan-bahan masakan, termasuk kentang. Sambil memilih kentang untuk dikupas, Mama bercerita bahwa harga kentang yang baru dibelinya termasuk mahal. Menurutnya, Penjual Kentang telah memilih kentang terbaik miliknya sehingga ia meminta Mama membelinya dengan harga tinggi.

Tak sampai lima menit, saya mengupas satu kentang yang cukup besar, saya berujar bahwa kentang dalam keadaan yang kurang baik. Memang saat dikupas kulitnya satu per satu, saya memperhatikan kondisi kentang yang bagus, keras dan bersih. Setelah dikupas, tampak kulit kentang ‘blurik’ coklat, tanda tak baik.

Mama pun protes dan mengomel. Ia menyesal mengikuti kemauan si Penjual tetapi malah mendapati kentang yang dibelinya bukan kentang berkualitas baik. Saya masih menenangkan hati mama dan mungkin ada cara lain untuk mengobati kekesalan Mama. Sejujurnya sebagai perempuan, saya kadang tak mau kalah dengan Penjual. Saya tak kalah gengsi jika harus membayar mahal terhadap barang yang memang berkualitas baik. Terutama di pasar tradisional, saya pun harus menang untuk berhasil menawar harga yang paling murah, meski hanya beberapa sen rupiah.

Singkat cerita, kentang diibaratkan oleh Mama sebagai bentuk sifat dan pribadi manusia. Menurutnya, ada pepatah yang mengatakan bahwa tak baik manusia berkulit kentang. Maksudnya, tampak luar pribadi orang tersebut terlihat menarik dan baik namun dalamnya hati (yang selalu diibaratkan berada di dalam pribadi) tak ada yang tahu, bahkan mungkin tak sebaik seperti terlihat di luar.

Sekedar mengupas kulit kentang, saya merefleksikan pengalaman berelasi dengan orang lain. Jujur, saya pun mungkin seperti kulit kentang. Pada akhirnya, ketika sudah diketahui dalamnya, orang pun tak suka. Seperti kentang, kita bisa saja dibuang dan dicampakkan, meksi kita terlihat dari luar baik, menarik dan punya nilai jual tinggi. Siapa sangka, kita langsung terlempar di ‘tempat sampah’, karena sifat pribadi yang tak sebaik dengan tampilan luar.

Kesan pertama setiap orang memang terlihat dari penampilan luar. Dalamnya hati tak ada yang tahu, termasuk sifat yang terpendam dalam pribadi setiap orang. Orang juga dengan mudah menilai setiap pribadi dari penampilan luar saja. Padahal perkataan Tukul, “Dont judge book by the cover”, ada benarnya juga. Menilai hingga menjatuhkan pribadi seseorang hanya dari tampilan luar bukan sebuah perilaku terpuji. Sesungguhnya, tak ada yang bisa mengenali karakter pribadi itu sendiri kecuali individu itu sendiri. Sebagai pengamat, orang lain yang melihat penampilan luar memiliki penilaian baik buruk, mahal murah, dsb, karena melihat fisik yang terukur oleh mata. Bagaimana dengan ukuran hati? Tak ada yang tahu.

Belajar dari kentang telah membuat saya percaya bahwa tak mudah mengenali pribadi setiap orang hanya dari luar, atau fisik yang terlihat saja. Sebagaimana yang terlihat dalam diri setiap orang, tak baik pula menilai dan memberi ‘harga’ hanya karena fisik yang tertangkap oleh mata. Jangan sampai tertipu oleh pendapat mata, tapi dengarkan suara hati yang tersaji lewat budi setiap orang yang dikenali.

Menjadi kentang yang cantik adalah keharusan agar kita terlihat menarik di mata orang lain sebagai pengamat, penilai atau pembeli. Namun, bagaimana menjadi kentang yang cantik luar dalam, itu yang harus diperhitungkan agar tidak mengecewakan orang yang telah menaruh hati pada kita.

-A-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s