Anak Lelaki Sulung Selalu Lebih Disayang Ibu


Baru-baru ini, saya bertemu dengan seorang teman pria yang kebetulan mengajak makan malam untuk bercerita tentang hidupnya. Telah lama kami menjalin pertemanan hingga cuma saya yang paling bisa memahami hidupnya. Begitulah pria, sukar sekali dimengerti oleh wanita.

Seperti biasa, kami mulai bercerita mengenai pekerjaan dan kehidupan kami yang lowong saat kami tidak bersama setelah sekian bulan tak bertemu. Sukar dipercaya, tipe pria sempurna di hadapan saya ini memiliki masalah dalam hidupnya, termasuk pasangan hidup.

Singkat cerita, pasangan hidup bukan inti dari apa yang hendak saya ceritakan. Saya tertarik dengan pengalaman hidup yang dialaminya. Ia adalah anak ke-sekian dari sekian bersaudara. Artinya, ia bukan anak lelaki sulung. Sebagai bukan anak sulung, ia bercerita panjang lebar mengenai pengalaman bersama saudara sekandungnya. Hal yang menarik dari pembicaraan kami, apakah anak sulung lelaki selalu menjadi sanjungan bagi orangtua, terutama Ibu?

Teman saya ini begitu cemburu dengan perhatian dan perlakuan yang diterima oleh abangnya. Menurut saya, dipanggil abang karena teman saya lahir dari keluarga yang berbudaya patriaki. Selain jarak lahir antara abang sulung dengan dia begitu jauh, bisa dibayangkan memang saat dia baru menginjak kelas 6 SD, sementara abangnya sudah memasuki dunia kampus, teman saya merasa abangnya tak pernah menjalin komunikasi yang intense dengan dirinya.

Abangnya yang sulung selalu menjadi kebanggaan dan idola keluarga. Itu menurutnya. Di masa kini, saat si abang sudah berkeluarga dan berhasil  mendapatkan istri dari keluarga terpandang (baca: Keluarga kaya), si ibu masih tetap menjadikan abang sebagai ukuran untuk mendapatkan jodoh. Artinya, teman saya ini harus mendapatkan perempuan yang berasal dari keluarga kaya dan harus memiliki pekerjaan serta kemapanan seperti abangnya.

Kontan, teman saya ini kecewa dengan cara dan perlakuan si ibu. Lalu, dia menceritakan bahwa si Ibu selalu menyorot apa pun pilihan hidupnya. Ia merasa diri dikekang. Sampai sekarang, ia sadar betul tak pernah tahu seperti apa pilihan hidupnya. Kini, si ibu telah tiada. Tiada lagi halangan buat dia menikah. Namun, kesulitan muncul saat keluarga besarnya tetap menjadikan abangnya sebagai tolok ukur keberhasilan dirinya.

Lantas, ia bertanya seberapa besar pengaruh ibu terhadap perhatian pada anak sulung laki-laki?

Pembicaraan kami semakin seru. Manakala teman saya mengingat semua bentuk ketidakadilan yang dilakukan si ibu terhadap dirinya. Adakah teori yang membahas ini? Mungkin ada, tapi saya sedang tidak ingin berteori.

Sepanjang pengamatan dan pengalaman dari kisah-kisah keluarga orang sekitar saya, memang ditemukan ada kecenderungan seorang ibu akan lebih menaruh perhatian terhadap anak lelaki sulungnya. Saya pikir, ibu akan mengindentifikasikan si anak sulung laki-laki ini sebagai suaminya atau ayah di masa lalunya. Namun, mengapa ini bisa terjadi? Saya tidak tahu. Yang jelas keadaan ini, membuat siapa pun yang menjadi anak diluar anak sulung laki-laki akan merasa cemburu.

Sejujurnya, anak sulung laki-laki juga memiliki tanggungjawab moral untuk dapat menjadi model bagi adik-adiknya. Ukuran yang dipakai dalam keluarga biasanya adalah anak pertama, meski tidak selalu demikian. Anak laki-laki dalam keluarga patriaki dijadikan simbol keberhasilan dalam keluarga. Bahkan, keluarga akan menghalalkan segala cara agar anak sulung laki-laki ini mendapatkan tempat terhormat, termasuk menyekolahkan di sekolah terbaik dibandingkan adik-adiknya. Itu bisa saja terjadi.

Jika saya berempati sebagai seorang ibu, mungkin ibu berharap besar agar si anak sulung lelaki ini bisa membawa perubahan dalam keluarga dan menjadi panutan kelak bagi adik-adiknya. Kadang saya tak bisa mengerti mengapa hal itu terjadi, karena saya belum menjadi seorang ibu.

Identifikasi ibu terhadap anak sulung laki-laki hendak mencerminkan bahwa pengasuhan setiap anak memiliki porsi yang sama, agar kelak perbedaan perlakuan dan pengasuhan tidak menimbulkan imej atau citra yang negatif dan tertanam dalam benak adik-adiknya. Biasanya si adik akan mengeluh dan menjadikan ‘luka batin’ terhadap pembedaan perlakuan.

Demikian juga anak sulung laki-laki hendaknya menaruh kepercayaan yang diberikan sepenuhnya, tidak hanya dari ibu tetapi juga keluarga agar mampu bertanggungjawab terhadap hidupnya. Jika salah asuh, kebanyakan anak sulung laki-laki menjadi besar kepala, sombong, egois, mau menang sendiri dan tak ubahnya ia merasa menjadi’raja kecil’ dalam keluarga. Jika salah asuh, bisa jadi manja dan tak mendidik bagi dirinya untuk mandiri.

Memang pola pengasuhan bukan perkara mudah bagi seorang ibu dan juga ayah. Yang jelas, keadilan dalam perlakuan dan pengasuhan dilakukan dengan sama rata dan sama rasa agar masing-masing pihak dapat tumbuh secara normal.

3 thoughts on “Anak Lelaki Sulung Selalu Lebih Disayang Ibu

  1. Halo Abang/Mas yang di sana, saya hanya berempati tetapi saya tidak mengalami itu karena saya adalah anak perempuan sulung. Solusi terbaik adalah berdiskusi dengan Ibu dan berdialog dari hati ke hati. Gunakan perumpamaan sehingga ibu dan anda bisa memahami, apa benar ada “pilih kasih” atau sekedar persepsi anda saja?

    Mohon maaf baru bisa membalas. Semoga menjawab:)

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s