Cerbung: Suminah & Nasibnya


Kala mentari terajut oleh senja sore, tak terbayang rembulan akan segera datang menggantikannya. Mungkinkah angan akan berakhir di senja sore ini? Pikir perempuan itu sekali lagi.  Dhisapnya rokok sebatang, menarik topi menutupi raut muka yang gosong oleh sinar mentari sepanjang tadi dan mengemas barang-barangnya ke dalam tas. Barang-barang usang yang selalu dibawa, buku alamat; sebungkus rokok; sekotak korek api, telpon genggam lama; kaca dan sisir.

Telah disisir seisi kota untuk menemukan keberadaanya. Mengandalkan buku alamat yang bertuliskan alamatnya, Jalan Ciasem Nomor 1, Jakarta, ia berusaha mendapatkannya. Tak kunjung jua ditemukan raut mukanya yang sendu dan mempesona tiga tahun lalu.

Dengan rok panjang hitam selutut, berkemeja merah, berbedak tipis dan menguncir kuda rambut hitamnya yang sudah mulai memutih, Perempuan berusia empat puluhan mulai gelisah memperhatikan jalan di hadapannya. Kali ini, ia tampak ragu dengan penampilannya. Ia mengaca sedikit, lalu mengambil lipstik merah di tasnya. Ia merasa kurang cantik dengan lipstiknya yang sudah mulai pudar oleh gorengan bakwan yang baru saja dikunyahnya. Tiga gorengan bakwan ditambah segelas teh manis cukup untuk mengganjal perutnya yang mulai kosong, tak terisi oleh makanan sejak malam sebelumnya.

Beruntung ibu penjual gorengan, mengijinkan perempuan itu duduk untuk menikmati gorengan dan menunggu beberapa saat. Entah apa yang ditunggu oleh perempuan pembeli tiga gorengan bakwan, pikir si ibu penjual gorengan.

“Gak papa kan, bu? Saya masih menunggu di sini.”, tanya perempuan itu kepada penjual gorengan.

“Silahkan saja, bu. Gak papa kok.”, sahut ibu penjual gorengan.

“Nama saya Suminah, tinggal di kontrakan Pak Maman. Saya datang ke Jakarta, hendak mencari suami saya, bu. Sudah tiga tahun, saya tak bertemu dengannya.”, lanjut Suminah, perempuan pembeli tiga gorengan bakwan. Pikirnya lebih baik memperkenalkan diri terlebih dulu sebelum Penjual Gorengan bertanya balik siapa dirinya. Budaya ketimuran nan santun ingin ditunjukkan kepada penjual gorengan bahwa ia adalah perempuan baik-baik yang telah bersuami.

Penjual gorengan nampak cuek dengan perkenalan Suminah barusan. Sambil sibuk mempersiapkan adonan bakwan, ia tampak acuh terhadap kehadiran orang-orang seperti Suminah. Kota sebesar Jakarta tentu akan mudah ditemukan perempuan-perempuan malang seperti Suminah yang mencari suami, kerabatnya, anaknya, dan lain-lain. Ia tak peduli. Toh, hidup di Jakarta adalah kegetiran setiap orang yang harus dihadapi. Begitu pula dengan hidupnya sebagai penjual gorengan selama tiga belas tahun, setelah meninggalkan kampung halaman yang berniat semula untuk mencari suaminya di Jakarta.

Kini perempuan yang mengaku bernama Suminah, bernasib sama seperti dirinya. Ah, masak bodoh. Sambil terus menguleni adonan dan menggoreng, ia sibuk melayani beberapa pria yang duduk di sebelah timur, yang sedang menikmati gorengan yang masih panas.

Suminah memakai lipstik merahnya. Ia memperhatikan bibirnya, merapatkan kedua bibirnya agar semua lipstiknya tersapu rata, dan memonyongkan sedikit bibirnya. Ini adalah trik Suminah yang hanya punya satu lipstik, agar bisa terlihat cantik oleh suaminya nanti. Bibirnya yang terlihat tebal dan sedikit hitam karena batang rokok yang dibakarnya tiap hari harus ditutupi oleh warna lipstik merahnya. Begitu kesannya. Mungkin suaminya sekarang tak akan tahu bahwa ia telah merokok.

Merokok adalah aktivitas yang membuat Suminah merasa nyaman dan larut dalam persoalan yang sedang dipikirkannya. Dengan merokok, pikirnya, ia pasti akan memikirkan bagaimana caranya agar dapat uang, sehingga dapat membeli rokok sebungkus tiap hari. Tidak lagi sebungkus, pikirnya. Ia kini telah berhasil menghabiskan dua bungkus lebih rokok. Itu artinya, ia harus semakin getol mencari uang untuk membeli rokok.

Dulu di kampung halamannya, Suminah dikenal sebagai tukang pijit panggilan. Ia sudah cukup dikenal, bukan karena keahliannya untuk memijit lalu sembuh tetapi karena pijatannya yang aduhai yang dinikmati oleh setiap lelaki yang menginginkannya. Anehnya, para istri yang meminta suaminya dipijat tak pernah protes. Bodohkah sang istri? Pikir Suminah. Atau memang sebagai istri, kita hanya bisa tertunduk diam terhadap keinginan dan mungkin kebutuhan para suami.

Suminah tak peduli terhadap pendapat para ibu di kampung halamannya. Toh, ia tetap dikenal oleh para bapak di kampungnya, bahkan para pejabat desa yang berjarak jauh dengan kampungnya. Mungkin pijatannya telah cukup dikenal menggairahkan bagi para pria yang menginginkannya lebih dari sekedar menghilangkan pegal-pegal.

Sepeninggalan suaminya, ia berhasil mengumpulkan banyak uang. Pundi-pundi uang yang terkumpul digunakannya untuk mencari suaminya di Jakarta. Niat yang indah telah terpatri dalam ingatan Suminah bahwa kelak setahun setelah di Jakarta, suami Suminah akan membawanya tinggal di Jakarta. Janji tinggal janji. Ia tak kunjung datang.

Benih cinta yang harusnya tumbuh dan besar, kini tiada oleh kecelakaan yang seharusnya tak terjadi. Entah apa yang  akan dikatakan suaminya terhadap kecerobohannya itu. Telah tiga kali, Suminah keguguran. Tiga kali itu pula, suami suminah selalu melakukan kekerasan terhadap dirinya. Ia dicap sebagai perempuan bodoh. Ia dipukul, tangannya diikat, kakinya diikat dan perutnya disundut oleh rokok. Suminah hanya diam. Ia masih menurut dan menerima perlakuan itu. Atas dasar cinta, ia menerima semua ini. Bodohkah ia sebagai perempuan dan juga istri? Atau, Suminah takut kehilangan suaminya sama seperti sekarang ia berusaha mencarinya agar suami yang jadi miliknya akan selalu menjadi miliknya.

Waktu menunjukkan menjelang maghrib. Para lelaki yang berada di hadapan Suminah, pamit kepada penjual gorengan.

“Loh, ambil lima kok bayarnya cuma dua. Hai, utang yang kemarin, gimana?” seru penjual gorengan kepada seorang bapak berbaju hitam yang segera lari meninggalkan warung kecil itu.

Seperti mengiyakan perilaku pembeli gorengan, penjual gorengan tampak diam dan pasrah. Mungkin ini nasibnya. Entah sebagai perempuan yang tak bisa melawan atau sebagai kaum yang lemah. Bahkan untuk memperjuangkan haknya sebagai penjual gorengan pun, ia tak bisa. Ia sudah tersakiti oleh perlakuan suaminya yang sudah menikah dengan perempuan lain. Apakah untuk mempertahankan hidup, para pria ini juga menyerang hidupnya yang sudah lemah dan rapuh oleh kebaikannya? Perasaan itu yang dirasakan oleh penjual gorengan.

Melihat gelagat penjual gorengan, yang kecewa dengan perlakuan bapak-bapak di hadapannya, Suminah pun berkata, “Bu, biar nanti saya yang bayar. Hitung-hitung bayar saya duduk lama di sini.”. Harga gorengan lima ratus perak, jika dikalikan tiga gorengan yang belum terbayar, Suminah masih cukup untuk membayarnya. Ia sudah bertahan hanya makan sekali saja sehari.

“Gak usah, bu. Memang sudah nasib saya sebagai perempuan. Kita hanya bisa nrimo. Ya begitu itu.”, keluh penjual gorengan.

Suminah tak mengerti kaitan antara membayar gorengan dengan nasib sebagai perempuan. Apakah nasib perempuan memang selalu menjadi korban ketidakadilan lelaki? Apakah perempuan tak mampu membela haknya? Dia pun segera mengulurkan uang lima ribu rupiah dari balik kutang, yang digulung halus bersama duit seribu dan dua puluh ribu lainnya. “Ini bu. Terimalah. Buat bayar gorengan, teh manis dan upah duduk di sini.”, seru Suminah.

“Kembali seribu, bu.”, jawab Penjual gorengan.

“Tak usah, ambil saja kembaliannya, bu.”, timpal Suminah kemudian.

Sebagai bentuk penghargaan dan budaya kesantunan, kedua perempuan ini sama-sama memanggil ibu. Meski tidak tahu mana yang lebih tua atau lebih muda, tetapi kata ibu seperti menyepakati bahwa perempuan ini sudah berumur paruh baya, sudah memiliki anak mungkin, tetapi mungkin sudah bersuami.

Sudah hari kelima, Suminah berada di kota besar Jakarta. Kota yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Kota yang dijanjikan oleh suaminya. Kota impian bagi para perempuan di kampungnya. Kota yang menjanjikan perubahan hidup menurut kebanyakan orang di kampungnya. Tetapi, ia tak punya siapa pun di kota ini. Ia tak mencatat tempat tinggal orang-orang di kampungnya yang mungkin saja sukses hidup di Jakarta.

Tinggal di kontrakan berukuran dua meter kali tiga meter, bukan sebuah tempat yang nyaman bagi Suminah. Namun, hanya tempat itu yang bersedia untuk membayar waktu menunggunya selama sepuluh hari di Jakarta. Ia membayar lima puluh ribu untuk sepuluh hari tinggal di tempat itu. Mahal, pikirnya. Apa boleh buat, ia harus membayar dan harus menemukan suaminya segera. Pundi-pundi uangnya sudah mulai menipis.

Bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s