Hitam Dan Putih


Hitam itu gelap dan jahat. Hitam itu misteri seperti hidup yang tak mudah untuk diselami. Hitam itu terlihat menakutkan. Bahkan hitam dianggap jahat. Setiap setan dibayangkan sebagai si hitam. Hitam bermakna kejahatan. Hitam menghasilkan yang pekat dan tak dikenali. Hitam digambarkan seperti malam tak berbintang dengan rembulan yang enggan menemani. Hitam tak layak ditemani karena rupanya akan luntur.

Hitam dianggap sebagai kelam. Hitam akan menjadi berbeda jika bertemu putih.

Putih itu suci. Putih itu tak tampak. Putih itu dianggap baik. Putih adalah kebaikan. Putih mudah dikenali sebagai yang baik. Putih adalah cahaya yang siap menerangi. Putih adalah putih.

Ketika hitam bertemu putih, tentu abu-abu adalah area yang tak jelas. Hitam mengajak si Putih, tentu akan berbeda maknanya jika Putih mengajak si Hitam.

Kala dunia dianggap sebagai hitam, dunia dipenuhi dengan kejahatan. Apa lacur orang jika dianggap hitam? Tapi hitam itu disukai. Hitam itu tak dianggap. Jika jahat adalah hitam, mengapa putih disebut baik? Baik belum tentu putih, dan putih bukan berarti suci.

Norma dan cap yang membuat mereka berbeda. Alangkah kejam mereka terhadap hitam dan putih. Jika warna hitam adalah kelabu, apa maksud putih dianggap sebagai pembawa terang?

Hati yang hitam bukan berarti ia jahat. Hati yang putih bukan berarti ia baik. Keduanya adalah warna. Baik dan jahat tidak ditentukan oleh cap, norma dan simbol.

Pada dasarnya setiap orang adalah baik adanya. Bukan hitam dan juga bukan putih.

Bagai kertas kosong, seperti teori tabula rasa, manusia diwarnai oleh si hitam, dihiasi oleh aneka warna lain agar lebih indah. Bagaimana jika kertas putih itu hanya diwarnai hitam saja. Kertas putih itu tak bermakna, tak terlihat dan tak dipahami.

Jika kertas putih, diwarnai oleh aneka warna, warna hitam begitu menonjol. Tetapi mengapa manusia dilambangkan sebagai kertas putih? Mengapa bukan merah atau biru atau warna lain?

Layakkah jika putih adalah polos? Adakah hitam salah jika menodai putih? Jika warna lain memberikan keindahan pada si putih, apa hitam salah bila ia hanya setitik noda di tengah lautan putih.

Jika hitam dipaksakan menjadi warna putih, ia tak kan pernah bisa sepekat putih, pada awal putih. Ia seperti menyimpan buram dalam rautnya. Tanya pasti terlontar, mengapa putihnya tidak seputih biasanya?

Jika putih dipaksakan menjadi warna hitam, ia pasti akan bisa sepekat hitam. Ia tak akan menyimpan buram. Ia pasti terlihat hitam pekat bahkan sulit dibedakan bahwa dulu ia adalah putih. Tak ada keraguan bahwa ia dulu adalah si Putih.

Biarlah hitam menjadi milik hitam dan putih menjadi milik putih.

Mencampurkan keduanya tak akan menghasilkan kepastian, hanya keraguan, area abu-abu, yang tak disukai siapapun.

Jika dunia dinilai sebagai hitam dan putih. Jika setiap orang dinilai dengan baik dan jahat. Jika setiap peristiwa dianggap sebagai hitam dan putih. Maka jawabnya adalah hitam, yakni misteri yang tak mudah diselami. Jika putih tak bernoda hitam, ia menjadi tak tampak.

Sedang berada di antara hitam dan putih.

Biarlah hitam bukan milik putih.

Bandung, awal perubahan baik, 2010.

6 thoughts on “Hitam Dan Putih

  1. Its like you learn my thoughts! You appear to understand a lot about this, such as you wrote the ebook in it or something.
    I believe that you just could do with a few p.c.
    to pressure the message house a little bit, but other than that, that is fantastic blog.
    A fantastic read. I’ll definitely be back.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s