Kekuatan Pikiran


Libur lebaran lalu, saya manfaatkan dengan menghabiskan waktu di Pulau Bira, salah satu pulau di Kepulauan Seribu. Berharap dapat melepaskan kejenuhan rutinitas, liburan adalah peristiwa bagi saya untuk belajar mengenal orang-orang yang saya kasihi melalui keseharian bersama mereka.

Kali ini, saya pun belajar tentang berenang. Berenang??

Banyak orang bisa berenang, tua muda, kaya miskin, kurus gendut bahkan berpendidikan atau tidak berpendidikan, berenang bisa dilakukan siapa saja. Tak ada batasan untuk berenang. Jika saya bertanya kepada teman yang hobi berenang, jawaban mereka bervariasi tentang kenikmatannya berenang mengarungi air, menggerakkan tangan dan kaki, menyatukan pikiran dan hati dan mencapai suatu tujuan. Filosofi yang terlalu kaya menurut saya tentang berenang.

Berenang bagi teman saya yang hobi bukanlah hal yang menyusahkan dan serumit seperti yang saya bayangkan tadi. Berenang adalah sederhana, menurut teman saya yang hobi. Saat saya melihat teman saya berenang pun, saya melihat keasyikan tersendiri antara si perenang dengan air sebagai media. Lagi-lagi pikiran saya masih rumit. Saya pun belum bisa berenang.

Di Pulau Bira, tempat saya berlibur, saya mencoba berenang. Katanya lebih baik belajar di laut, dengan kedalaman dan kadar garam yang lebih baik. Lagi-lagi, saya pun mencoba belajar berenang dan saya gagal. Sementara, saya melihat sepupu-sepupu saya yang tidak bisa berenang dapat menikmati keasyikan pelajaran renang hingga mereka pun bisa pada akhirnya.

Di hari kedua, saya iri sekali melihat sepupu dan saudara saya mencoba snorkling, menikmati keindahan bawah laut. Pasti menyenangkan. Melihat mereka tertawa lepas dan puas bermain air laut, saya pun penasaran. Saya yakin saya pasti bisa. Toh, anak-anak yang usianya masih SD saja bisa berenang. Apa yang perlu saya takuti, pikir saya?

Saya pun meraih baju pelampung, kacamata renang dan alat bantu hisap agar saya bisa menikmati snorkling. Mereka semua meyakinkan saya bahwa saya tak akan tenggelam karena saya sudah dilengkapi baju pelampung. Selain itu, saya pun dikuatkan bahwa seorang teman, pria dewasa dengan badan yang kokoh dan jago berenang, akan menjaga saya di laut. Saya langsung mau. Byur!!! Saya pun masuk dalam laut.

Apa yang terjadi? Saya panik. Saya menarik teman saya tadi, saya berpengangan erat dengannya, menarik tangannya, berteriak-teriak agar saya tidak ditinggalkan sambil menggoyangkan kaki saya untuk mencapai dasar laut yang dalamnya kurang lebih tiga sampai lima meter. Saya tidak ingat sekitar saya yang mentertawakan kepanikan saya, dan mungkin menurut mereka lucu karena melihat saya.

Yang terlintas dalam pikiran saya adalah saya akan tenggelam. Saya ingat betul peristiwa rafting di Sungai Ayung, Bali beberapa bulan lalu. Dalam peristiwa itu, saya dan tiga orang teman saya hampir celaka dan tenggelam. Pikiran buruk dan kekhawatiran melanda saya saat itu. Saya berteriak sekuat mungkin. Teman saya, Pria dewasa yang jago berenang, pun akhirnya takut dan mengatakan bahwa ia pasti akan ikut tenggelam bersama saya. Padahal semua orang tahu bahwa dia jago berenang. Tetapi kepanikan dan pikiran yang tidak terkendali membuat saya dan orang di samping saya pun takut. Kami pun memutuskan untuk naik dan kembali ke tepi pantai.

Dengan basah kuyup dan jantung berdegup kencang, saya pun berpikir, apa yang terjadi dengan saya. Pikiran takut tenggelam dan trauma rafting di Sungai Ayung telah ‘membunuh’ keberanian saya. Tidak hanya itu, saya pun ‘membunuh’ keberanian teman saya yang sudah ahli dan bersedia membantu saya.

Betapa kuatnya pengaruh pikiran, saat saya merenungkannya. Pikiran ibarat mesin yang mampu mengendalikan kita, bisa menjadi baik atau menjadi buruk. Pikiran baik dan positif akan melahirkan tindakan yang positif pula. Pikiran yang buruk tidak hanya menghasilkan tindakan yang negatif, tetapi juga ‘membunuh’ karakter seseorang.

Saya tidak bisa belajar berenang karena pikiran saya masih terbelenggu oleh pikiran buruk. Saya tidak melepaskan belenggu tersebut. Saya larut dalam keburukan tersebut. Saya membiarkan tangan dan kaki saya terbelenggu oleh pikiran saya. Seandainya, saya melepaskan belenggu pikiran buruk dan membiarkan tangan dan kaki saya mengikuti instruksi teman saya yang mau mengajari saya dan larut dengan irama air yang mengalir, toh saya pasti bisa berenang.

Saya menyesal tidak bisa berenang. Tetapi saya tidak boleh larut dan membiarkan penyesalan pikiran buruk menghambat keterbatasan saya. Saya pasti bisa. Jika tangan dan kaki saya terbatas, tetapi pikiran saya tidak terbatas. Pikiran itu luas, lebih luas dari pandangan mata. Manfaatkan pikiran untuk hal yang positif dan membangkitkan motivasi diri, jangan justru menghambat kita. Lepaskan semua belenggu dan trauma masa lalu. Kita bisa belajar membuka diri, mengikuti irama sekitar kita, mengikuti instruksi atau petunjuk orang di sekitar kita, membiarkan waktu membawa kita dan tidak memaksa menggapai tempat yang ingin kita pijak.

Pelajaran yang menarik buat saya.

Pulau Bira, September 2010.

One thought on “Kekuatan Pikiran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s