Kematian


Pernahkah bertanya kepada seseorang tentang kesiapan mereka menghadapi kematian? Apa jawaban mereka? Hanya ada dua jawaban, siap atau tidak. Jika menjawab siap, kebanyakan dari mereka adalah orang yang optimis menghadapi ‘pencuri maut’ yang bisa kapan saja datang. Optimis berarti mereka menyadari bahwa hidup mereka yang tak sempurna harus segera dipertanggungjawabkan kepada yang Ilahi.

Belajar tentang Psikologi kematian, dinyatakan bahwa setiap orang yang memasuki fase terminal karena sakit, memiliki beberapa tahap hingga akhirnya mereka menyadari dan menerima kematian sebagai suatu proses yang harus mereka hadapi.

Suatu malam, saya berbincang dengan orang yang saya kasihi tentang konsep kematian mengingat hidupnya yang sudah divonis oleh penyakit, yang tiba-tiba bisa saja merenggutnya kapan saja. Jujur saya mengatakan kepadanya, bahwa saya tak siap menghadapi kematiannya. Yang terjadi pada dirinya, siap atau tidak, kematian akan segera dihadapinya. Hal yang menarik dari orang ini, saya memandang beliau menjadi lebih bijaksana dalam menyikapi panggilan ilahi.

Pernah membayangkan, apa yang akan orang sampaikan tentang kita saat kita sudah meninggal? Dia orang yang baik. Dia orang yang bertanggungjawab. Dia adalah orang yang suka berkorban dan patut diteladani. Bla bla bla. Sejuta pujian ingin diucapkan untuk memberi kesan kepada kita yang telah tiada. Akankah hal itu terjadi jika kita sudah meninggal?

Saya pernah mengikuti Personal Training dari sebuah lembaga training. Dia memberikan setiap peserta, tape recorder, kaset kosong dan headset. Instruksi Trainer adalah setiap peserta diharapkan merekam kesan-kesan orang yang mengasihi kita tentang kita apabila kita sudah meninggal. Saat saya melakukan terapi itu, sungguh saya mengupamakan bahwa yang memberi kesan adalah anak saya atau suami saya kelak, atau ibu saya. Kesan yang saya rekam semuanya adalah positif yang diharapkan dalam diri saya. Tetapi apakah demikan yang terjadi dalam hidup saya saat ini sesuai dengan rekaman yang saya buat. Saya tidak tahu. Saya belum pernah meminta kesan dari orang yang saya kasihi apabila saya sudah meninggal. Pamali. Tak baik membicarakan saat kita masih hidup. Padahal disitulah saya ingin mengetahuinya sebagaimana Trainer dalam Training saya mengatakan, kita ingin mengubah diri kita sebagaimana orang memberi kesan positif terhadap kita.

Tak ada yang tahu kapan saat itu datang. Siap atau tidak, setiap manusia akan melewati proses akhir dalam hidupnya yang dinamakan kematian. Jika gajah mati meninggalkan gading, maka manusia mati meninggalkan amal dan bakti selama hidupnya.

Saya pernah menghadiri kematian dari ayah seorang teman saya. Saat pemakaman tiba, sang anak memberi kesan yang positif tentang ayahnya semasa hidupnya. Padahal, saya tahu betul teman saya selalu bercerita perilaku ayahnya yang suka memukul, marah-marah dan perilaku lainnya yang dibenci oleh si anak. Apa yang terjadi saat si ayah tiada, teman saya itu tetap mengatakan hal positif tentang hidup ayahnya. Hal positif yang diteladani oleh si anak.

Satu lagi, baru-baru ini saya bersedih karena kehilangan seorang sahabat terbaik semasa kuliah. Dia adalah seorang ibu dari dua putri yang sedang bersekolah, orang yang bersemangat, ceria dan menyenangkan serta ramah pada siapapun. Sahabat saya ini adalah orang yang suka menolong, memiliki selera humor yang tinggi dan aktif. Siapa sangka bahwa beliau terkena leukimia, bahkan semasa saya mengenalnya dengan baik, beliau tidak pernah mengeluhkan rasa sakit. Gaji pertama saat kami bekerja membantu sekretariat fakultas, digunakan untuk membeli perlengkapan dan kebutuhan anaknya. Hingga setahun tak berjumpa dengannya, saya pun masih belum bisa melunasi kebaikan hatinya dan membayar ‘janji’ bertemu dengannya.

Saat berita kematian saya terima, saya langsung membayangkan kebaikan yang pernah saya terima sebagai sahabat. Saya sedih dan berduka. Saya menulis di dinding Facebook-nya, saya menuliskan kesan saya terhadap pribadinya. Saya pun membaca kesan-kesan orang lain tentang pribadinya. Luar biasa, semua mengungkapkan kenangan yang baik dan pujian terhadap pribadinya.

Saya pun merefleksikan, apa yang diungkapkan orang lain terhadap saya jika saya tiada. Apakah berisi pujian atau cacian?

Kematian adalah sebuah proses yang pada akhirnya kita semua akan menuju kesana. Sejatinya, hidup yang diberikan adalah kenangan tentang kebaikan yang sudah kita lakukan selama hidup. Meski kita bukan pahlawan atau orang terkenal di dunia ini, tetapi menjadi pribadi yang dikenal mengesankan positif, tentu adalah harapan buat kita semua.

Sekecil apa pun peran kita di dunia ini, lakukan yang terbaik dengan sisa hidup yang diberikan Tuhan. Kebaikan yang kita berikan kapan pun, dimana pun dan buat siapa pun akan ditanam di hati, meski raga dikubur di tanah.

Terimakasih buat sharing malam

Bandung, 23 September 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s