Refleksi Hidup: Hidup Bagai Biduk


Di tepi penantian, manusia itu mengayuh perahunya agar bisa sampai di dermaga tujuan. Penantian yang tak kunjung berunjung, hingga saatnya hampir tiba. Malam pun enggan menemani kala kesendirian datang pada manusia itu. Bintang pun ragu menyambutnya setiap malam, manusia itu hanya manusia biasa.

Sederhana saja, manusia itu melalui samudera hidup yang luas. Biduk hidup yang dikayuhnya penuh misteri. Manusia itu sadar bahwa hanya Tuhan bersamanya saat kekayaan, kecantikan, pangkat/jabatan, persahabatan/persaudaraan dan rasa senang telah menemaninya selama ini. Manusia itu khilaf, memandang Tuhan kala ia berjalan dalam kesusahan dan kesedihan. Ia lupa bahwa Tuhan menemani hidupnya.

Bagai pengayuh ulung, manusia itu terus mengayuh biduk hidupnya. Tak ada pertolongan kala terombang ambing oleh gelombang, kanan, kiri, maju, mundur. Biduk hidup itu terbawa oleh arus yang sangat deras. Tuhan tetap bersamanya. Manusia itu tidak sadar. Hidup terus membuatnya bergerak, tetapi tak pernah diam di tempat. Apa pun yang terjadi, Tuhan ada dalam biduk hidup manusia.

Kala angin topan, hujan dan badai datang menyerang biduk itu, manusia itu pun menjerit, “Tuhan, dimanakah Engkau? Tidakkah Engkau sanggup berjalan di atas air. Tunjukkanlah kemuliaanMu, ya Tuhan!”.

Tuhan yang tertidur dalam biduk itu pun bangun. Apa kata Tuhan pada manusia itu?

“Mengapa kamu takut? Tidakkah kamu tahu bahwa Aku besertaMu.” Sambil berkata demikian, Ia menghardik angin badai itu hingga musibah reda. Manusia takjub oleh kekuatan yang ditunjukkan Tuhan kepadanya. Sujud syukur pada Tuhan, manusia pun berdoa, “Biarlah Engkau besertaku selalu, bawalah bidukku bersamaMu.”

Dermaga tujuan belum terlihat, kesenangan dan pesona sekitar sudah terlihat nampak. Manusia pun larut oleh keindahannya. Ia lupa pada Tuhan kala kebahagiaan ada bersama mereka. Manusia itu pun tertawa senang, menikmati hidup penuh kebahagiaan. Lagi-lagi, badai mengkoyakkan biduk manusia itu. Kebahagiaan hanya tinggal sesaat, Ia tak menemani manusia kala itu. Tuhan kembali menemani manusia mengatasi badai. Biduk hidup pun tenang kembali menuju dermaga.

Berapa kali, Tuhan terus menolong. Ia tak pernah bosan meski manusia bosan padaNya. Tuhan tidak pernah membisikkan kemana biduk itu akan menuju, tetapi manusia selalu penasaran dan mencari jalan pintas. Manusia tidak sabar akan proses hidup yang penuh misteri.

Saat mengayuh biduk itu, manusia senang akan kekayaan yang datang tiba-tiba. Kekayaan memberinya kesenangan lewat semua benda-benda yang ia miliki. Manusia semakin senang karena kekayaan terus memenuhi biduk dengan kemewahan yang selama ini dicarinya. Apa pun yang diinginkan manusia dalam hidupnya, kekayaan selalu memenuhinya. Manusia lupa saat kekayaan memenuhi biduk hidup, perahu itu menjadi berat dan hampir tenggelam. Manusia lupa bahwa aneka benda kekayaan hanya memenuhi pandangan mata tetapi semua hampa dan kosong.

Biduk itu pun hampir tenggelam, kekayaan pun meninggalkan manusia itu seorang diri. Tuhan pun disebut manusia itu. Manusia pun berseru, “Hadirlah Tuhan saat ini, perahuku hampir tenggelam karena kekayaan. Kekayaan bisa membeli apa pun di dunia ini, tetapi kebaikanMu tak kan sanggup untuk aku beli. Ambillah semua milikku, ya Tuhan.”

Tuhan tak pernah memperhitungkan seberapa banyak kekayaan yang sudah dipersembahkan manusia. Tuhan pun menolong manusia, bukan karena kekayaan yang dimiliki manusia tetapi kasihNya yang besar, yang tak sanggup tergantikan oleh materi apa pun di dunia ini.

Biduk itu terselamatkan kembali. Kekayaan bukanlah jaminan biduk hidup.

Jika kekayaan menggoda dengan banyaknya harta dan benda-benda yang diinginkan manusia, maka jabatan/pangkat adalah keinginan manusia untuk tampil dihargai oleh banyak orang. Manusia ingin diakui, dihargai sebagaimana layaknya yang tertera dalam jabatan mereka. Jabatan/Pangkat tidak terlihat seperti kekayaan tetapi cukup ampuh membuat manusia diakui keberadaannya. Manusia lupa bahwa jabatan/pangkat tidak akan menyelamatkannya saat kesusahan itu datang. Jabatan/Pangkat bisa meninggalkan manusia kapan saja saat waktunya telah usai. Toh, jabatan/pangkat hanya sebuah julukan terhadap kedudukan seseorang yang senantiasa tidak mengikat seperti kebaikan Tuhan. Jabatan/Pangkat tidak bisa membeli kenyamanan di hati, meski ia sanggup memenuhi kehormatan dan harga diri manusia. Manusia bahkan tergila-gila ingin memiliki jabatan/pangkat hingga mengorbankan segala-galanya bahkan Tuhan pun dikorbankannya. Dibuangnya Tuhan keluar dari biduknya. Dipikirnya pangkat/jabatan akan menjadi kemuliaan manusia. Sama sekali tidak. Saat kesusahan melanda, jabatan/pangkat tak bisa membantu. Ia bahkan pergi menghindar karena takut dan ngeri. Jabatan/pangkat tak ingin ternoda oleh kesusahan manusia.

Manusia pun mencari Tuhan. Berteriaklah Ia mencari Tuhan. Manusia menyesal saat ia membuang Tuhan keluar dari biduknya. Kemuliaan Tuhan abadi tetapi kemuliaan manusia lekang oleh masa. Tuhan hadir dalam hidup manusia bukan karena jabatan/pangkat seseorang tetapi bagaimana ciptaanNya yang sama dapat memuliakan Ia setiap waktu dalam susah dan senang.

Tak ada yang menyadari bahwa Tuhan menemani biduk manusia setiap waktu hingga sampai ke labuhan yang dituju. Gelombang dan badai memang harus dilewati manusia. Menyelami samudera yang misteri pun harus dilakukan manusia. Tak ada yang bisa meramalkan kapan saatnya ‘kan tiba. Kemana Tuhan akan membawa biduk manusia, tak pernah disampaikannya.

Saat biduk hampir tenggelam oleh pesona dunia, Tuhan hadir menyelamatkannya. Tuhan ada bahkan di saat peristiwa mustahil terjadi. Bagi Tuhan, tidak ada yang mustahil.

With God, All things are possible

Selamat berbahagia merayakan hari lahir  2010. Kiranya kasih Tuhan menyertai biduk hidupku. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s