Bagai Lagu


Adakala hidup bagai lagu yang sedang dinyanyikan, bisa berarti merdu di dengar oleh orang lain, namun sulit saat sebagai penyanyi membawakannya dengan penuh penghayatan emosi lewat irama dan lirik yang tak mudah disusun. Lagu indah pasti terjual dengan cepat, tetapi lagu buruk belum tentu dapat diterima.

 

Adakah telinga sebagai ukuran seseorang menerima lagu itu? Adakah hati sebagai ukuran untuk menghayati sebuah lagu? Atau, adakah pikiran membayangkan irama dan lirik lagu? Atau, atau, memang masyarakat telah menentukan ukuran tersendiri yang tak mudah dicerna oleh si Pencipta Lagu dan Penyanyi.

 

Bagai lagu, aku membawakan hidup ini. Berayun mengikuti irama Sang Pembuat Lagu, nada rendah dan nada tinggi, alunan emosi sedih kadang juga senang. Aku menghayatinya penuh makna agar siapa saja yang mendengar, tahu siapakah aku sebagai Penyanyi bukan Si Pencipta Lagu, yang mengarang lagu.

 

Aku mengikuti irama musik yang mengiringinya. Jika aku keluar dari nada yang mengiringinya, aku akan terperosok dengan nada yang sumbang. Pendengar pun akan kecewa. Aku berusaha menyanyikan dengan sepenuh hati meski aku bukan Sang Pencipta Lagu. Aku hanya Penyayi, dibayar berdasarkan lagu yang kunyanyikan. Menyanyi tanpa mengetahui apa makna lagu yang diciptakan Sang Pencipta Lagu. Menghayati lagu dengan kepura-puraanku yang menjadikan diriku sebagai Penyanyi.

 

Bagai lagu, hidup ini telah membawa aku menjadi Penyanyi. Tuhan adalah Pencipta Lagu. Ia mengarang setiap lagu, kadang sedih kadang senang. Kadang lagu yang kunyanyikan adalah lagu percintaan. Lagu yang paling menyentuh dan mengingatkan pada Sang Pencipta, adalah lagu religi. Sebagai Penyayi, aku membutuhkan irama musik. Irama itu adalah kehidupan bermasyarakat. Saat berimprovisasi lagu, aku harus senada dengan irama musik. Berkreasi dengan lagu kerap membuatku takut keluar dari kehidupan yakni irama yang mengalun mengiringi lagu. Bisa-bisa muncul nada sumbang kedengarannya. Atau, setiap orang yang mendengarkan laguku akan menutup telinga.

 

Kini lagu yang sedang kunyanyikan adalah lagu duka. Lagu penantian yang tak berujung. Sepenuh hati aku membawakannya, agar irama yang mengiringi lagu ini dapat menjamin laguku indah terdengar. Entah mengapa, Tuhan, Sang Pencipta Lagu membuatkan lagu ini untukku. Sebagai Penyanyi, aku tak pernah memesan lagu. Mungkin Tuhan, Sang Pencipta Lagu, mengenal apa yang sedang terjadi dengan diriku. Hingga lagu yang sedang kunyanyikan ini mendapat sorotan dari Pendengar. Entah mereka terpesona dengan lagu yang kubawakan atau mereka sesungguhnya juga mengalami hal yang sama dengan lagu yang kubawakan.

 

Biarlah lagu ini kunyanyikan, agar irama tak lagi membawakan mimpi dalam tarian lagu. Agar cinta di hati, tak lagi kunyanyikan dengan penuh kesedihan. Agar hati yang sedih tak lagi menyayat saat kunyanyikan irama kesukaan Sang Pencipta.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s