Tuhan Tertawa


Terbersit angan, mungkin saat Tuhan menciptakan manusia, Ia sedang tersenyum manis, memandang, seperti apa kelak manusia ini akan tumbuh. Seperti apa rupa manusia yang dibentukNya dengan penuh kasih dan cinta. Dihembuskan nafas kehidupan lewat rahim seorang Ibu. Dibesarkan dalam kasih orangtua duniawi dengan kebaikan Tuhan. Tak ada yang tahu, bahkan manusia ciptaanNya itu, bahwa Tuhan membentuk dirinya sedemikian rupa.

 

Kini saat dewasa, manusia itu pun sadar. Tuhan, Sang PenciptaNya, telah dibuatnya menangis dan bersedih. Mengapa tidak? Manusia itu kerap meratapi apa yang terjadi dalam hidupNya. Padahal maksud Tuhan baik, Ia memberikan rintangan dalam hidup agar manusia belajar bagaimana bertahan hidup. Jika jalan hidup yang dilewati mulus, manusia tidak akan belajar bagaimana mengenal Tuhan.

 

Manusia memandang Tuhan saat jalan hidup yang ditempuh itu penuh rintangan. Sedih begitu rupa dan terpuruk semakin membuat Tuhan risau, akankah manusia yang dulu diciptakanNya tak mampu mengatasi hidup yang sebenarnya mengalir ada adanya. Manusia terlalu menginginkan apa yang tidak dimilikinya. Tuhan pun tertawa. Maksud Sang Pencipta baik, bahwa agar tiada iri dan dengki, setiap manusia diberikan talenta agar ia mengembangkannya. Kaya dan Miskin bukan talenta. Kaya dan miskin bukan pula berkat. Kaya dan Miskin bukan pula kemuliaan seorang manusia.

 

Tuhan yang Maha Kaya, tak pernah menuntut kemuliaan seorang manusia dari kekayaan. Padahal manusia dibentuk dengan keindahan agar kelak hidupnya menciptakan kebaikan, bukan kekayaan. Kaya dan Miskin ditentukan oleh manusia sendiri sebagai ukuran satu sama lain. Tuhan pun tertawa lagi. Tak habis pikir manusia yang dulu diciptakanNya dengan senyum, saat menghadap Tuhan di surga, mereka menangis.

 

Bagaimana Tuhan tidak tertawa, saat manusia memperebutkan namaNya untuk sebuah kebenaran atas nama agama. Agama adalah kebaikan tetapi manusia menjadikannya alat untuk memerangi kebaikan. Ada banyak cara mengenal Tuhan, tetapi kejahatan bukan bagian dari rancanganNya. Kejahatan tumbuh dari hati yang penuh dengki, iri, benci, dendam dan sifat buruk lainnya.

 

Sudah dikatakan Tuhan yang Maha Baik, tak sempat meniupkan sifat-sifat buruk itu kepada manusia. Sifat itu didapat kala manusia menyalahgunakan kebaikan Tuhan. Tuhan bersedih. Tawanya berkurang kala manusia memperebutkan kekuasaan, kekayaan, kehormatan dan kejayaan. Adakah dijumpai Tuhan tersenyum bahagia kembali seperti kala Ia menciptakan manusia?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s