Duka Tersimpan


Garis nasib bukan petunjuk yang baik untuk mengetahui siapa penghuni hati, namun tanda tanya ini terus bergema di jiwa. Dia yang telah pergi meninggalkan semburat duka yang dalam dan belum terobati. Sambil menantikan sulaman rasa yang terjalin kembali, aku kembali tertegun pada paras rupa yang telah lama menghilang oleh waktu. Dia muncul dalam mimpi semalam, hatiku bergejolak mengingatnya. Tanyaku dalam hati, kaukah yang selama ini aku rindukan?

 

Duka tersimpan bukan karena rindu yang tersayat waktu. Aku telah mematahkan kunci itu, hingga aku sulit masuk dalam pintu hatimu. Mengapa kau tutup hatimu hingga sulit bagiku kembali padamu? Maafkan aku yang telah mematahkan kunci itu. Kulakukan agar kelak kau mengerti bahwa cinta adalah proses dua hati yang terpaut oleh waktu yang digariskan Sang Ilahi pada kita berdua.

 

Kunci yang patah, sulit bagiku untuk mengetuk pintu hatimu lagi. Kau biarkan aku merana dengan rasa dalam duka. Sepertinya kau larutkan aku dalam nelangsa malam demi malam. Aku menantikan kabar darimu dan mencemaskan dirimu, tak jua kau bukakan pintu itu lagi? Duka tersimpan ibarat tangis yang menyiksa batin.

 

Jangan biarkan aku seorang diri merasakan pahit manisnya rasa ini lagi. Jika kunci ini patah, biarlah kau buka sedikit pintu hati ini untuk rasa kita. Ku tahu kau memendamnya dalam-dalam. Biarlah aku kembali padamu, merasakan indahnya cinta seribu tahun yang tak pernah luruh oleh duka. Aku menunggu di depan pintu hatimu. Ku ketuk pintumu dan berujar namamu, “Kasih, adakah kau menungguku saat ini?”

 

Rupamu meluluhkan hatiku. Kebaikanmu menujam jiwaku. Meski ragamu tak pernah kunikmati tetapi waktu pertama dan terakhir adalah rasa yang tak pernah berakhir hingga kini. Pintaku sekali lagi, “Sayang, aku merindukanmu. Sangat merindukanmu.”

 

Aku memelas, mengetuk pintu hatimu sekali lagi. Berharap kunci yang patah, mungkin tak bisa diperbaiki, tetapi hati yang patah masih bisa untuk terselami. Misteri keagunganmu, membuatku luluh karena rasa ini. Jangan biarkan duka yang kusimpan berlama-lama ini menyiksa batinku!

 

Kuketok pintu hatimu sekali lagi, meski kunci ini telah kupatahkan. “Sayang, bukalah pintu ini untuk kita!” pintaku sekali lagi.

 

Maafkan untuk kunci yang telah kupatahkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s