Korban Media Sosial


Boleh dibilang hidup ini terkadang membosankan jika tidak dinikmati sepenuh hati dan bervariasi. Hampir setiap orang yang saya temui, mengatakan pernah mengalami rasa bosan dalam hidup. Ada banyak cara yang tidak saya catat tentang cara mengatasi kebosanan dalam hidup.

 

Salah satu cara yang sedang digandrungi oleh masyarakat akhir-akhir ini adalah menghabiskan waktu dengan menikmati media sosial seperti fesbuk, twitter dan masih banyak yang lain. Saya menulis dua media sosial tersebut sebab konon yang paling getol dimiliki oleh orang Indonesia.

 

Media sosial bukan hanya menjadi alat untuk bertemu teman lama dan mendapatkan teman baru, tetapi ada banyak ragam tawaran yang dapat dimanfaatkan. Dari hari ke hari pun, pengelola media sosial pun membuat aneka aplikasi yang variatif agar siapa pun penikmatnya tidak mengalami kebosanan.

 

Salah satunya saya yang sedang merasa bosan dengan media sosial. Saya berpikir bahwa media sosial menyita waktu saya untuk hal-hal berguna lainnya yang seharusnya bisa saya lakukan. Wah, mungkin saya adalah korban dari media sosial. Atau justru Anda yang membaca akan mengatakan, salah sendiri mengapa tidak bisa membagi waktu dengan baik.

 

Saya menyebut diri menjadi korban media sosial karena saya telah memanfaatkan waktu berharga saya untuk hal-hal yang menurut saya tidak terlalu penting. Apakah komunikasi dunia virtual lebih menarik ketimbang dunia real? Meskipun saya bisa meng-update status, memberi komentar, menambahkan foto dan melakukan aplikasi dengan menggunakan blackberry, tetapi ternyata waktu yang selama ini bisa dimanfaatkan untuk melakukan hal yang lebih berkualitas telah saya renggut.

 

Untung saya memiliki Bos yang baik hati, yang tak pernah mengontrol pekerjaan stafnya, sehingga saban waktu di kantor, media sosial itu selalu dibuka. Diluar kantor, saya masih memanfaatkannya dengan internet atau jika malas membukanya, saya bisa melakukannya dengan Blackberry.

 

Terus terang saya menjadi korban media sosial karena waktu yang tidak saya kelola dengan baik. Saya pernah hampir mengorbankan waktu bicara dengan orang lain hanya karena saya sibuk memikirkan media sosial. Saya mengorbankan waktu untuk membaca yang biasanya rutin saya lakukan setiap hari. Saya mengorbankan waktu tidur dan istirahat saya, dengan memperhatikan ping dari henpon saya. Saya mengorbankan waktu khusyuk saya di Gereja dengan meng-update keberadaan saya. Saya bahkan pernah tidak konsentrasi saat berdoa secara pribadi hanya karena memikirkan media sosial. Saya bisa lupa segalanya. Apakah saya termasuk korban media sosial?

 

Bisa dibayangkan jika media sosial sudah ada sejak jaman saya sekolah dulu, pasti nilai dan prestasi saya jeblok. Atau, saya hanya berteman dengan teman sekolah, teman rumah dan teman dunia maya. Atau, saya hanya bisa ‘curhat’ dengan media sosial. Setiap ada masalah, saya lebih memilih menuliskannya pada media sosial daripada buku diary. Waktu luang untuk membaca bahkan mungkin tidak ada. Meski ada aturan bahwa media sosial hanya untuk mereka di atas 18 tahun namun saya masih menemukan anak-anak di bawah 18 tahun memilikinya.

 

Saya tidak dapat membayangkan hal tersebut. Sekarang, saya menyebut diri sebagai korban media sosial. Saya bertengkar dengan seorang yang tak dikenal dalam dunia maya. Saya bisa memiliki banyak teman dalam dunia maya. Saya bisa gelisah, senang, resah, sedih dan bahagia atau aneka perasaan lainnya, hanya karena media sosial. Sungguh miris nasib saya.

 

Jika kecanduan adalah sebuah proses yang terekam di otak sehingga menimbulkan perilaku ketagihan, bisa jadi sebagai korban media sosial, saya bisa menjadi kecanduan.

 

Sungguh amat disayangkan, tetapi kenyataan pahit itu yang terjadi.

 

Pada akhirnya saya merefleksikan diri bahwa sesuatu yang pribadi dan personal memiliki ranah tersendiri yang tidak perlu diungkapkan di media sosial. Saya juga sadar memanfaatkan waktu berkualitas dengan melakukan hal lain ketimbang menikmati dunia maya. Mengelola waktu dengan baik dimana 8 jam sudah dimanfaatkan di tempat tidur, 8 jam untuk di kantor dan 8 jam lain untuk melakukan pernak pernik kehidupan, maka sungguh amat disayangkan jika saya hanya korban dari sebuah kecanggihan teknologi yang mungkin belum tentu mengukur keadaban seorang manusia dari eksistensi di dunia maya.

 

Saya pun memutuskan untuk tidak lagi menjadi korban media sosial. Saya mengakhirinya dengan mengatakan bahwa saya dapat mengelola hidup saya dengan melakukan hal berkualitas. Saya adalah bagian dari kehidupan. Media sosial adalah sarana kehidupan untuk meningkatkan kualitas diri menjadi lebih baik bukan membuat saya terpuruk menjadi korban teknologi.

Saya pun bosan dengan media sosial. Entah akan terjadi gebrakan apalagi untuk mengatasi agar para penikmatnya tidak bosan. Atau, makin lama media sosial pun akan ditinggalkan orang dan digantikan oleh kecanggihan teknologi lainnya. Kita tidak tahu.

 

Mari lupakan sejenak dan sediakan waktu khusus jika masih menginginkannya.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s