Komunikasi Orangtua dan Anak


Kemarin saya dapat kesempatan melaksanakan training komunikasi bagi siswa di sekolah swasta ternama di Jakarta. Komunikasi adalah kunci bagi terciptanya relasi yang harmonis antara orangtua dan anak. Apalagi di dunia yang makin canggih ini, komunikasi bisa dilakukan dengan banyak cara, mulai dari henpon yang langsung diterima di tangan yang dituju hingga eksistensi diri di dunia maya. Artinya, komunikasi tidak melulu dalam temu tatap muka. Komunikasi yang baik bila kedua pihak bisa memahami pesan yang disampaikan satu sama lain.

Membangun komunikasi memerlukan unsur sebagai berikut:

1. Pendengar yang aktif.
Bagaimana komunikasi bisa berjalan efektif jika masing-masing pihak sulit menjadi pendengar? Menjadi pendengar tidak mudah karena orangtua menganggap dirinya paling mengerti (sudah banyak makan asam garam) sehingga sulit menerima pendapat anak. Anak juga sulit mendengarkan orangtua, sibuk dengan dunianya, acuh dengan perintah orangtua. Siapapun di dunia ini butuh telinga untuk didengarkan ketimbang mulut untuk memberikan saran. Tak ada salahnya kita mengalah untuk belajar mendengarkan. Saya rasa kerugian dari mendengarkan hanya waktu yang menurut anda terbuang, tapi bagi orang lain didengarkan begitu berharga.

2. Empati
Menumbuhkan empati akan menanamkan nilai moral akan pentingnya menghargai oranglain. Seandainya orangtua mau berempati dengan anaknya, tentu orangtua akan tahu bahwa kondisi jaman dulu berbeda dengan jaman anaknya sekarang yang sudah berteknologi canggih. Anak juga perlu dilatih tentang empati bahwa orangtua cemas apabila anak tidak memberi kabar jika terlambat pulang.
Empati tidak timbuh secara alami tetapi bagaimana orangtua mengajarkan anaknya, misalnya bermain peran. ‘Nak, coba kamu bayangkan bagaimana ibu tidak cemas kalau kamu datang terlambat tanpa beri kabar padahal kondisi jakarta sekarang sedang tidak aman.’ Atau contoh lain, ‘Ibu, apa yang akan ibu lakukan jika ibu tidak menghadiri pesta ulang tahun sahabat sendiri?’

3. Asertif
Tak mudah bagi kita melatih asertif menjadi kebiasaan karena kita terlatih untuk bisa sabar, memaafkan dan mengalah terhadap keadaan yang tidak kita sukai. Akibatnya, kita jadi pasif dan tertekan. Asertif adalah kemampuan untuk menyatakan pendapat dan perasaan kita terhadap suatu hal tanpa menyinggung orang lain. Melatih anak untuk asertif artinya anak diajak untuk berpikir logis dan tidak menyinggung oranglain saat dihadapkan pada suatu kondisi yang tidak disukai. Anak dan orangtua sama-sama dilatih untuk menentukan pilihan yang disukai kedua pihak. Anak bisa menghadiri pesta ulang tahun sahabatnya asal diantar orangtua.

4. Kepercayaan
Komunikasi tidak akan berjalan optimal jika anak dan orangtua tidak saling mempercayai. Saling percaya bisa muncul saat orangtua bisa mengerti kondisi anak yang sedang ‘galau’ butuh teman curhat. Orangtua bisa mempercayai anaknya saat anak tidak melanggar batasan yang diberikan orangtuanya. Kepercayaan satu sama lain akan menumbuhkan komunikasi yang efektif pada masing-masing pihak.

Komunikasi anak dan orangtua tidak sebatas jari tangan melalui sms, telpon, media sosial tetapi seluas hati bagaimana anak dan orangtua sadar memanfaatkan media komunikasi yang konstruktif dan edukatif. Selamat membangun komunikasi yang efektif, jangan lupa selipkan 3 kata, I love you pada anak dan orangtua masing-masing!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s