Hanya Waktu


Sebuah perumpamaan muncul di negeri bijak. Ada sebuah toko yang ramai dikunjungi orang. Banyak orang antri untuk mendapatkan yang diinginkan. Seorang perempuan cantik bangga keluar dari toko itu, Ia berhasil membeli ‘kecantikan’. Wajahnya berubah sebagaimana yang diinginkan. Ia tersenyum bahagia dan berlalu.

Tak lama kemudian, ada seorang bapak tampak gagah layaknya pejabat yang dihormati, keluar dari toko dengan langkah pasti karena berhasil mendapatkan yang dibelinya. Penasaran aku bertanya pada Si Penjual. Ia pun menyahut, bapak pejabat baru saja membeli jabatan baru yang diinginkannya. Wow, pikirku.

Lalu, di sudut toko, aku melihat seorang pemuda tampak ragu menggenggam yang ingin dibelinya. Ia berpikir dan menimbang-nimbang, lalu diputuskannya untuk membayarnya di kasir. Pemuda berusia tanggung itu, berhasil membeli kekayaan.

Takjub aku mengitari toko, aku menemukan seorang anak kecil sedang berusaha meraih hal yang diinginkannya. Aku ingin membantu anak itu, tetapi Pelayan Toko datang membantunya. Baru aku mengetahuinya, anak itu membeli kepandaian. Aku menarik napas panjang.

Aku mulai mencari hal yang aku inginkan untuk aku beli. Mataku tertuju pada seorang kakek tua yang berpakaian necis dan berdandan ala pemuda remaja. Apa yang dibelinya? Pikirku. Aku melihat dia senang berhasil mendapatkannya. Ia bergegas membayarnya di kasir. Si kasir tampak tersenyum simpul dan kakek menanggapinya dengan malu-malu. Ia baru saja membeli cinta.

Di belakang Si Kakek necis, ada seorang remaja perempuan ikut mengantri di kasir. Ia membeli seperangkat persahabatan. Aku pun kembali dengan pencarianku, akankah yang aku cari segera aku dapatkan.

Tiba-tiba aku menjumpai seorang artis yang baru saja turun pamornya karena kasus kriminal, Ia sedang sibuk memilih ketenaran. Sepertinya, Ia akan membeli ketenaran. Semua orang berhasil mendapatkan yang dibelinya, pantas saja toko ini banyak dikunjungi orang. Di bagian toko, aku melihat hal-hal yang diimpikan orang seperti awet muda, gagah perkasa, dikagumi orang, dan hal-hal lain yang pernah aku impikan. Aku pun berlalu, karena aku tak tertarik.

Aku tidak mendapatkan yang aku inginkan. Aku lelah berputar menyusuri toko. Aku keluar dari toko tanpa hasil. Si Kasir Toko datang meraih tanganku. Ia bertanya hal apa yang aku cari. Bukankah toko itu menjual yang diimpikan manusia? Aku bilang iya, tetapi aku tidak mendapatkan yang aku mau. Kecantikan, kekuasaan, kepandaian, ketenaran, kekayaan, persahabatan dan cinta memang dijual dan dibeli oleh mereka.

Lantas, Kasir itu mengerti yang aku cari. Katanya, ‘Segala hal di dunia ini dapat kau beli dan peroleh dengan mudah, tetapi hanya waktu yang tidak bisa kau beli.’

Iya, benar. Aku ingin membeli waktu. Seandainya waktu bisa kubeli, aku hanya menjawab keraguannya bahwa aku mencintainya. Tak tahukah waktu jua yang tak pernah mempertemukan pintanya? Oh Sang Waktu, berapa yang harus kubayar padamu.  

2 thoughts on “Hanya Waktu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s