Menyerah!


GambarSuatu kali, saya berlibur ke Korea Selatan. Di negeri yang tidak mudah menjumpai orang yang bisa berbahasa Inggris, saya mengalami pengalaman buruk “get lost in the city”. Sebenarnya saya suka saat saya bisa berada di kerumunan asing dan mengamati sekitar yang menarik mata saya. Saya sengaja berpisah dari teman seperjalanan, karena saya ingin mengeksplor kota sendiri. Saya suka berjalan kaki karena nyaman buat saya dibandingkan Jakarta hehehe… Setelah berpisah dari teman, saya pun lupa untuk meminta peta kota yang selalu dan wajib ada di tas. Teman saya sudah terbiasa berpergian dan hafal kota, telah membawa peta tersebut. Tinggallah saya seorang diri dan tidak dikenal oleh siapapun di sekitar saya. Saya bingung bagaimana harus kembali ke hotel, tempat saya menginap.

Setiap kesempatan , saya melirik untuk memastikan sekitar saya adalah orang yang terlihat muda dan “feeling” saya mengatakan bisa berbahasa inggris. Buruknya lagi, saya bingung alamat hotel itu di jalan 3 atau jalan 5 hihihi.. dasar pelupa! Saya tebak sajalah, jika salah kan saya tinggal jalan kaki 2 blok jauhnya. Saya hampir putus asa meski saya senang juga ada beberapa tempat yang belum saya lewati selama ini.

Saya sudah lelah berjalan kaki karena saya tidak berani menyetop taksi, takut harganya mahal. Saya juga bingung karena setiap saya bertanya, semakin membuat saya bingung. Saat saya bingung dan putus asa, saya menemukan kartu nama hotel tempat saya menginap. Di kartu itu pun ada huruf dan tulisan korea, setidaknya membantu saya. Tetapi, saya tetap tidak menemukan hasil. Ada yang menghindari karena saya berbicara bahasa inggris atau tampilan saya yang terlihat “asing” atau apa-lah, saya tidak tahu. Saya putus asa. Saya hampir nangis karena hari hampir malam. Saya pun lapar. Lengkap sudah!

Saat saya putus asa, saya cuma berdoa. “Tuhan, beri saya petunjukMu. Saya sudah lelah!” Saat saya sedang duduk dan istirahat, saya memperhatikan seberang jalan adalah patokan hotel yang selama ini dijadikan indikator buat saya dan teman jika kita keluar masuk hotel. Saya senang sekali. Saya langsung bergegas menuju ke hotel karena saya sudah tidak tahan lagi, lapar dan lelah.

Sembari menunggu teman di kamar, saya memikirkan pengalaman yang baru saja saya lewati. Ternyata, tidak mudah saat kita berusaha mencapai apa yang kita harapkan. Ada banyak tantangan dan rasa kecewa. Kita juga perlu petunjuk dari orang sekitar. Terkadang, saat kita meminta petunjuk dari orang sekitar, mereka pun sebenarnya tidak paham arah dan tujuan kita. Kita sering “nyasar” ke tempat dimana kita sebenarnya tidak tahu.  Kita mudah putus asa saat kita tidak mendapatkan dukungan, lihat bahwa saya tidakk membawa peta. Saya anggap bahwa saya “buta”. Saya tidak tahu kemana arah saya berjalan.

Saat saya sudah hampir putus asa, menangis dan hanya bisa berdoa, saya menemukan jalan keluar. Saya tahu bahwa tujuan yang hendak saya gapai itu tidak jauh. Mungkin saya perlu mengamati keadaan sekitar, bahwa tujuan yang akan saya capai itu ada di dekat dan depan mata. Anggaplah saya “buta” yakni tidak bisa melihat tetapi saya masih punya “hati” untuk mengenali dan peka terhadap sesuatu. Saat kita putus asa, sebenarnya tujuan yang hendak kita capai itu justru semakin dekat dengan kita. Kita hanya berdoa kepada Tuhan, yang memiliki “Peta” hidup manusia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s