Berani Itu Mudah


image

Libur lebaran lalu saya manfaatkan dengan pergi ke negeri sebelah dan sebelahnya lagi sekedar melepas kejenuhan di Jakarta. Sudah membeli tiket sebulan sebelunnya, bahkan saya tahu tiket ini tidak layak karena terlalu mahal, tetapi ini adalah konsekuensi yang harus saya terima karena masa ‘high season’. Saya pun nekat membeli tiket meski saya belum tahu jadwal lowong teman yang akan saya kunjungi, saya pikir harganya bisa lebih baik daripada beli di waktu menjelang lebaran, pasti lebih mahal.

Saatnya tiba, saya pun mengemas barang untuk dibawa. Ini adalah perjalanan pertama kalinya saya keluar negeri bukan untuk bertugas, tapi berlibur. Tak disangka teman saya yang akan dikunjungi tersebut mendadak tak punya waktu libur. Sedih rasanya, terlanjur beli tiket dan saya juga tidak mau rugi dengan harga tiket yang tak layak itu.

Sambil menimbang-nimbang hal yang akan dilakukan seminggu sendirian, saya pun sempat memutuskan tak jadi berangkat. Namun, keberanian saya diuji. Saya pikir berani itu tidak mudah, berikut hal-hal yang perlu dipertimbangkan:

1. Pikirkan konsekuensi dari keberanian yang akan diambil dan bila tak jadi diambil. Dengan demikian kita jadi mudah melangkah.

2. Menjadi positif bila keberanian dilakukan. Bayangkan bila kita tidak berani dan ragu-ragu, tentu otak sebagai sistim pengendali kita akan dikuasai oleh sebagian besar hal negatif.

3. Pikirkan mendapat pengalaman baru yang akan diperoleh. Sejatinya, kita menjadi takut karena kita belum pernah melakukannya. Ingat, bahwa kita tidak akan pernah bisa membeli pengalaman.

4. Lakukan dengan kesungguhan dan tekad yang kuat. Kalau kita akan menjalankannya setengah hati, tentu akan memperburuk keadaan ‘berani’ yang kita jalankan.

5. Mengelola diri dan emosi secara lebih baik. Keadaan takut justru disebabkan karena kita ingin bergantung pada seseorang agar kita berani. Dengan langkah berani, tentu kita dilatih untuk mandiri kelola diri dan emosi.

6. Menjadi lebih strategis dan praktis. Percaya atau tidak kalau kita berani, ada hal-hal yang dirancang otak untuk berencana dan bertindak lebih strategis dan praktis, ketimbang kita pasif dan menunggu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s