Bahasa


“Mengerti tidak selamanya harus dengan tutur kata, tetapi dengan hati.”

 Gambar

 

Entah apa yang dibayangkan saat penugasan yang diberikan oleh kantor bahwa saya diminta untuk mendampingi delegasi atau tamu-tamu negara yang berasal dari negara sekitar untuk sebuah acara kunjungan selama kurang dari seminggu. Saya? Awalnya saya ragu karena bahasa inggris saya boleh dibilang so so. Saya harus berperan tidak hanya menjadi “tour guide” tapi juga intepreter bagi para delegasi muda yang berminat dan belajar sesuatu di negara saya.

Di balik musibah, saya pikir ini musibah karena saya harus menggantikan rekan yang sakit, pasti ada berkah buat saya untuk belajar sesuatu. Saya pikir akan menambah rasa percaya diri untuk terus berkomunikasi dengan bahasa asing, menambah keberanian dan wawasan dan satu hal lagi yang saya suka menambah teman. Bangga rasanya bila menjadi bagian dari pertemanan antar bangsa ini. Itu adalah berkah buat saya.

Benar saja bahwa hubungan saya dengan mereka sebagai teman-teman terus berlanjut. Terus terang ini bukan pengalaman pertama buat saya untuk berkomunikasi dengan orang lain yang sama-sama tidak memiliki bahasa ibu, bahasa inggris. Saya senang dan menjadi tertantang untuk saling mengerti dan lebih memahami.

Pengalaman saya saat saya bertemu dengan teman dari Eropa Timur yang tidak bahasa inggris dengan baik di Korea adalah satu hal yang mengesankan buat saya. Beliau adalah pria yang berani dan menginspirasi saya untuk belajar mencoba, meski salah. Teman baik saya ini, datang pertama kali tidak hanya di Korea tetapi juga di Asia. Kami cukup dekat dan berkomunikasi dengan baik untuk bercerita tentang budaya, negara kami masing-masing, teman dan keluarga masing-masing. Menyenangkan. Terkadang kami tertawa ketika tidak tahu saat menjelaskan dengan bahasa Inggris. Kami cukup bilang, “Oh sorry, I don’t know how to say in english.”. Menarik ketika kami mencoba mengkomunikasikan pesan satu sama lain, bukan untuk sekedar didengarkan tetapi dimengerti.

Pertemanan saya dengan para delegasi itu, demikian juga. Saya dengan rekan saya asal negara tetangga yang memiliki huruf keriting dan bahasa yang susah, sama-sama berusaha untuk menceritakan pengalaman hidup dan budaya satu sama lain dengan bahasa inggris apa adanya. Tetapi justru disitulah hal yang menarik buat kami satu sama lain. Saat saya mendengarkan teman saya yang adalah pria ini, saya akan tertawa terpingkal-pingkal karena mimik mukanya yang lucu dan berusaha berbicara dengan bahasa inggris yang sukar. Bukan karena kapasitas bahasanya tetapi usaha yang dilakukannya untuk menjelaskannya kepada saya. Menarik bukan.

Bagaimana saya bisa mengerti rekan-rekan saya yang “ajaib” ini? Saya berusaha mengerti tidak lewat kuping saya, saya berusaha memahami dengan hati dan perasaan. Saya berusaha simpati dan empati. Disitulah saya paham bagaimana belajar mendengarkan dengan baik dan perhatian. Bahwa terkadang, mendengarkan saja belum tentu cukup karena kadang kita sudah bisa “membaca” atau sudah merasa tahu terhadap apa yang didengarkan.

Kita merasa bahwa orang lain sudah mengerti apa yang kita sampaikan karena kita menggunakan bahasa yang kita pikir, orang lain sudah paham bahasa tersebut.

Saat saya mendengarkan cerita teman-teman saya ini, saya menggunakan banyak cara untuk menjelaskannya. Saya berpikir untuk menggunakan kata yang tepat dan mudah dimengerti. Saya menggunakan media untuk menggambarkannya. Saya menggunakan emosi untuk menyampaikannya. Saya menggunakan intonasi agar dipahami apa yang saya ceritakan. Saya berusaha menyimak apa yang disampaikan.

Tidak mudah memang. Saya pikir terkadang kita merasa orang lain sudah memahami apa yang kita sampaikan. Terkadang kita tidak menyimak apa yang orang lain sampaikan dan sibuk dengan pikiran kita. Kita merasa “sok tahu” terhadap apa yang diceritakan.

Bahasa adalah cara bagaimana kita mengkomunikasikan apa yang kita pikirkan dan alami. Dalam benak saya, tiba-tiba muncul, betapa hebatnya Tuhan bisa menciptakan begitu banyak bahasa di dunia ini. Bagaimana hal itu terjadi? Andai di dunia ini hanya ada 1 bahasa, mungkin manusia akan super egois saat berbicara dan mendengarkan. Mungkin saja. Mungkin dengan banyak bahasa, Tuhan mau mengajarkan kita untuk melengkapi satu sama lain, mendengarkan satu sama lain dan belajar memahami satu sama lain.

Bahasa yang paling indah di dunia adalah bahasa Cinta. Tidak bisa dilihat dan dinyatakan tetapi cukup dirasa. Andai kita bisa belajar mendengarkan, tidak hanya dengan telinga tetapi juga hati. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s