Kepercayaan


image1

 

 

 

 

 

 

Love is a trust

 

Suatu kali, saya meminta adik saya untuk mengantarkan saya pergi ke suatu tempat. Ini nasib saya yang mengandalkan dia untuk tiba di tempat dengan cepat dan tepat waktu karena saya tidak ingin datang terlambat dalam acara.

 

Siapa yang tak kenal dengan kemacetan Jakarta yang luar biasa di hari kerja dan jam kerja yang super padat, apalagi arah ke lokasi super super macet. Sepanjang jalan, saya berdoa agar saya bisa sampai di lokasi tepat waktu. Saya pun menjadi tidak konsen karena motor besar yang dibawa oleh adik saya, menyelip kemacetan Jakarta, melakukan segala macam trik agar bisa melewati lampu hijau dan terus menerabas kemacetan Jakarta. Tentu ini penuh risiko. Tiap kali saya menepuk bahu adik saya, sekedar mengingatkannya. Sangking saya cemas melewati bahaya di jalan raya dan terlalu sering memperingatkannya, Ia pun marah dan membentak saya. Intinya, dia meminta saya untuk percaya bahwa dia pasti akan membawa saya dengan selamat dan tidak usah mengaturnya.

 

Jep! Percaya. Satu kata dalam hati yang membuat saya diam sesaat dan berdoa dalam hati agar perjalanan saya pun selamat. Seperti yang dia ucapkan, saya pun selamat tiba di lokasi dengan tepat waktu. Saya ucapkan terimakasih karena saya belajar satu hal yang menarik dalam hidup saya saat ini, Percaya.

 

Ketika di Jerman kemarin, saya juga belajar arti kata percaya ketika saya mengamati pola relasi diantara orang-orang Jerman. Saya dijelaskan tentang konsep kepercayaan yang menjadi inti dari suatu relasi, baik relasi antara sesama manusia maupun relasi antara manusia dengan Tuhan.

 

Jika dikaitkan antara contoh kepercayaan yang saya alami saat saya menjadi penumpang di motor adik saya, kepercayaan ibarat saya memberikan nyawa saya dan meletakkan padanya. Kepercayaan diumpamakan sebagai hidup saya kepada orang yang saya beri kepercayaan.

 

Kalimat bahwa tidak ada yang paling berharga selain kepercayaan, saya temukan di atas toko emas dan berlian di Singapura. Saya pikir kalimat tersebut benar adanya. Kepercayaan mahal harganya.

 

Bagaimana menumbuhkan kepercayaan kepada orang lain, bukan perkara mudah. Jika dalam psikologi perkembangan, kepercayaan sudah ditumbuhkan sejak masih bayi, saat kita hadir di tengah-tengah orang yang kita cintai, ibu dan keluarga inti. Tidak mudah kita mempercayai seseorang, apalagi orang yang kita cintai dan sedang tidak bersama dengan kita.

 

Siapa sih di dunia ini yang ingin mendapatkan celaka? Jika seseorang yang dipercayai telah melanggar kepercayaan yang diberikannya, maka orang yang memberi kepercayaan pun merasa “terluka”. Tidak akan sama lagi relasi yang telah dibangun atas dasar kepercayaan di awal jika seseorang merusak kepercayaan yang diberikannya. Itu lah mengapa kepercayaan manusia ditumbuhkan sejak bayi, saat masih diberi ASI oleh ibu kandung.

 

Pernahkah Anda berani menceritakan suatu rahasia dalam hidup kepada seseorang yang anda percayai? Jika ya, mengapa Anda lakukan hal tersebut? Jawabannya adalah Anda percaya kepada orang tersebut.

 

Mendapatkan kepercayaan adalah hal yang istimewa dalam hidup. Tidak semua orang mampu mendapatkan kepercayaan  dari seseorang, apalagi dari orang yang dicintai. Hendaknya kita sadar bahwa kepercayaan yang diberikan dari orang yang dicintai adalah bagian dari hidup, yang karena kepercayaan itu kita bisa terluka atau celaka jika kita melanggarnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s