Belajar Bersyukur


Konon kita menjadi sulit bersyukur karena kita melihat diri kita dengan seseorang yang berada di “atas” kita dalam hal pangkat, jabatan, pendidikan, harta benda, dan lain-lain. Orang yang demikian, sibuk membandingkan diri sendiri dengan orang lain dan tidak punya waktu untuk diri sendiri.

 Gambar

(Sumber foto: Kutipan dari Oprah saat mengunjungi Madame Tussauds, Bangkok)

Alasan kita sulit bersyukur, karena:

  1. Membandingkan diri kita dengan yang lain

Sesungguhnya tidak ada yang suka dibanding-bandingkan dalam hidup ini. Saya sendiri pun protes ketika ibu saya membandingkan saya dengan adik saya, atau misalnya dengan anak perempuan tetangga lain. Kecenderungan membanding-bandingkan satu orang dengan orang lain adalah proses untuk memberi penilaian apa yang kurang dan apa yang lebih dalam dua pribadi yang dibandingkan tersebut. Tentu, saya protes misalnya jika saya dibandingkan dengan si Anu yang jelas-jelas berbeda dengan saya. Prinsip saya, setiap orang itu unik di dunia ini. Tidak ada yang sama. Jika kita membandingkan diri kita dengan teman yang berhasil berarti kita memberi penilaian diri kita bahwa kita “kurang” sedangkan teman yang berhasil adalah “lebih”. Stop membandingkan. Stop memberikan penilaian dengan membuat ukuran sebagai pembanding. Jadi diri sendiri! Adalah langkah awal untuk bersyukur.

 

  1. Melihat apa yang dimiliki orang lain

Pernah punya laman media sosial atau membuka akun media sosial kemudian menyaksikan seseorang mengunduh foto-foto liburan atau makanan yang menggiurkan? Apa yang anda rasakan saat anda melihatnya? Sebuah penelitian menyatakan bahwa sebagian besar orang yang melihat seperti itu akan timbul rasa iri. Mengapa terjadi seperti itu? Karena kita melihat apa yang tidak kita punya. Karena kita melihat “kepunyaan” orang lain. Kembali ke topik bersyukur, kita menjadi sulit bersyukur karena kita melihat “kepunyaan” orang lain. Kita menjadi iri. Lupakan “milik orang lain”, dan lihat seberapa kaya yang sudah kita punya!

  1. Kemampuan yang minim untuk “Nrimo”

Ibu saya berasal dari Jawa. Saya selalu ingat falsafah tradisional yang diajarkannya, yakni “Nrimo”. Saya tidak tahu apakah ada kaitan antara budaya Jawa dengan falsafah “Nrimo”, tetapi buat saya yang terpenting kita belajar memaknai “Nrimo” atau terima apa yang kita miliki. “Nrimo” bukan berarti kita pasrah. “Nrimo” bukan berarti kita lemah. “Nrimo” adalah cara kita melihat dalam diri kita, apa yang kita punya. Suatu perasaan ikhlas tentang diri sendiri. Membangun falsafah “Nrimo” yakni mengembangkan rasa ikhlas terhadap seluruh proses hidup yang kita jalani. Saya percaya bahwa orang yang telah berhasil dalam hidupnya berawal dari perjalanan proses suka dan duka. Sehingga yang terlihat di mata kita terhadap keberhasilan orang lain adalah “hasil” sementara proses yang terjadi dari orang lain cenderung diabaikan. “Nrimo, Percaya pada kemampuan diri sendiri!” yang mengajarkan kita untuk mensyukuri talenta diri sendiri.

  1. Budaya “instan”

Serupa dengan uraian di atas, budaya “instan” tercipta seiring dengan kemudahan dan kemajuan teknologi. Orang tidak lagi bersusahpayah membuat masakan rendang berhari-hari, karena sudah ada rendang instan siap saji. Tidak hanya makanan instan, tetapi juga budaya “instan” terhadap kecenderungan orang untuk menjadi populer dan terkenal di media. Lain lagi cerita tentang orang yang ingin “instan” untuk mendapatkan pendidikan dengan jalur yang tidak wajar. Atau orang yang ingin segera “instan” menjadi kaya dan mengambil hak orang lain, korupsi. “Instan” tidak lagi menjadi sebuah istilah tetapi menjadi budaya yang membiasakan orang untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan dengan mudah dan cepat. Mengapa kita menjadi sulit bersyukur? Karena kita ingin segera mendapatkan apa yang dimiliki orang lain, tanpa memikirkan bahwa semua yang terjadi pada setiap orang memakan waktu dan proses yang tidak mudah. Ingatlah, sabar! Tidak mudah untuk mendapatkan apa yang kita kehendaki.

Tentang belajar bersyukur, saya ambil kisah perumpamaan berikut dari Anthony de Mello, SJ.

Usahawan kaya dari kota terkejut menjumpai nelayan di pantai sedang berbaring bermalas-malasan di samping perahunya, sambil menghisap rokok.

“Mengapa engkau tidak pergi menangkap ikan?”, tanya Usahawan itu.

 Jawab Nelayan itu, “Karena ikan yang kutangkap telah menghasilkan cukup uang untuk makan hari ini.”

“Mengapa tidak kau tangkap lebih banyak lagi daripada yang kau perlukan?”, tanya Usahawan itu sekali lagi.

“Untuk apa?” Nelayan itu balas bertanya.

“Engkau dapat mengumpulkan uang lebih banyak,” Jawabnya.”Dengan uang itu engkau dapat membeli motor tempel sehingga engkau dapat melaut lebih jauh dan menangkap ikan lebih banyak. Kemudian engkau mempunyai cukup banyak untuk membeli pukat nilon. Itu akan menghasilkan ikan lebih banyak lagi, jadi juga uang lebih banyak lagi. Nah, segera uangmu cukup untuk membeli dua kapal… bahkan mungkin sejumlah kapal. Lalu kau pun akan menjadi kaya seperti aku.”

“Selanjutnya aku mesti berbuat apa?” tanya si Nelayan.

“Selanjutnya kau bisa beristirahat dan menikmati hidup,” kata si Usahawan.

“Menurut pendapatmu, sekarang ini aku sedang berbuat apa?” kata si Nelayan itu puas.

Lebih bijaksana untuk menjaga kemampuan untuk menikmati hidup seutuhnya daripada memupuk uang.  Belajar bersyukur dan nikmati hidup yang sudah Tuhan berikan. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s