Seputar Mitos


image

                     (Dokumen pribadi)

Kemarin waktu berbelanja di sebuah toko di Jerman, saya dapat coklat sebatang. Saya bilang bahwa saya tidak mengambil coklat ini tapi kasir yang sudah terlihat sepuh itu memaksa saya menerimanya. Lalu tiba-tiba pemuda Jerman yang lain, sepertinya anak dari si Ibu Kasir mengatakan bahwa saya membayar total belanja 66, 6 euro. Saya tidak tahu maksud dibalik angka total belanja itu dengan sebatang coklat. Tapi coklat itu hadiah. Padahal jika saya ingat dulu sewaktu sekolah, teman-teman bilang 666 itu adalah angka setan. Membawa sial. Hadeh!!! Tapi disini saya malah dapat coklat. See!!!

Nah, lain lagi nih. Saya suka di Jerman untuk beli minyak wangi karena original, tidak KW seperti saat saya beli mudah dan murah di rumah. Alhasil saya beli kemasan mini dengan harga yang terjangkau untuk diberikan kepada sahabat sebagai oleh-oleh.

Saat tiba di Indonesia, saya berikan minyak wangi itu sebagai sovenir. Saya pikir minyak wangi itu saya beli di Konter Perlengkapan Perempuan dengan merk ternama, saya yakin wanginya enak dan diterima sahabat saya itu.

Sahabat saya kaget. Saya pikir dia senang dengan hadiah yang saya berikan. Rupanya dia berpikir bahwa memberikan parfum akan berdampak buruk pada relasi persabatan kami. Ooppss!! Saya padahal tidak berpikir demikian. Lalu sebagai simbol bahwa parfum itu bukan pemberian dari saya, sahabat saya memberikan dua ratus perak rupiah sebagai bukti dia membeli dari saya. Heh!!!!

Begitulah mitos.

Saya kemudian teringat bahwa saya pernah memberikan parfum ke mantan pacar saya saat dia berulangtahun. Saya pikir itu adalah hal yang wajar di Jerman, memberikan hadiah parfum. Alasan saya berikan minyak wangi karena milik dia sudah mau habis. Jadi logis kan?!

Lantas, saya langsung berpikir kaitan antara pemberian minyak wangi dengan berakhirnya hubungan kami. Heh!!! Apa iya, seperti yang disampaikan sahabat saya tadi?

Cepat-cepat saya cari segala bentuk informasi. Ada beberapa informasi yang mengatakan bahwa pemberian minyak wangi akan menyebabkan berakhirnya suatu relasi. Waduh!!!

Boleh percaya boleh tidak. Semua adalah mitos. Lalu bagaimana jika pasangan yang sudah menikah di Jerman punya kebiasaan memberikan parfum? Bisa-bisa setiap habis valentine atau christmas banyak terjadi perceraian karena diberikan parfum. Hahahahaha..

Semua harus logis. Saya jadi teringat, bahwa berakhirnya suatu hubungan tidak ditentukan oleh parfum. Jika memang bukan sahabat baik, atau tidak berjodoh, yah mungkin memang begitu adanya.

Pertama.
Saya pikir tidak semua suka dengan selera dan wangi parfum yang kita belikan untuk hadiah kepada orang itu. Jadi kenali karakter orang yang akan diberi hadiah.

Kedua.
Belum tentu maksud baik kita memberikan parfum diterima baik. Bisa saja orang tersebut tersinggung dan berpikir bahwa dia memiliki bau badan yang tak sedap. Karena saya pernah punya pengalaman teman kelas sewaktu sekolah dulu. Sewaktu dia ulangtahun, saya dan beberapa teman kelas patungan memberikan minyak wangi. Jadi yakinkan apakah minyak wangi adalah kebutuhannya saat ini? Jika memang dia menyukai wangi dari merek tertentu, anda bisa mencari yang sejenis supaya tepat sasaran.

Hal yang bisa disimpulkan adalah faktor keberlangsungan suatu relasi tidak ditentukan oleh bentuk dan jenis hadiahnya. Kadang dalam memberikan, kita berujar, “Jangan dilihat barangnya ya! Tapi lihat ketulusannya.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s