Cinta Butuh Logika


image

(Sumber foto: google image)

Sewaktu membuat karya ilmiah seputar perkawinan, saya pernah menghadiri sebuah seminar perkawinan. Hal yang saya kenang sampai sekarang adalah cerita berikut:

Ada seorang Pastor mendapati seorang wanita yang baru saja menikah minggu lalu, sedang datang ke Gereja untuk berdoa.

Pastor pun menghampiri dan memberi ucapan selamat atas pernikahannya. Namun sebelum memberi ucapan selamat dengan menyodorkan tangan, Pastor berkata, “Hei, kau mengenakan cincin kawin di jari yang salah.”

Si wanita yang disapa pun menjawab, “Ya Pastor, karena saya menikah dengan pria yang salah.” Gubraks!!!

Cerita di atas diangkat untuk mengingatkan saya berbagi inspirasi bahwa dalam memutuskan komitmen dengan seseorang, kita perlu berhati-hati agar kita tidak “salah” orang, atau sekedar emosi, status, nafsu dan buaian kalimat rayuan, cinta menjadi “buta”. Cinta juga butuh logika.

Kalau kata orang jerman, “Zu spät” sebelum terlambat, mari pertimbangkan hal-hal berikut ini:

1. Apakah saya nyaman bersama dirinya?
Saya pernah bertanya pada rekan kerja yang sudah menikah. Apa yang menyebabkan dia memutuskan untuk menikah dengan suaminya, sementara dua kakaknya belum juga menikah? Jawabnya cuma satu. Saya nyaman dengannya.

Nyaman berarti kita bisa menjadi diri sendiri yang kita inginkan. Kita tidak “kikuk”, takut, cemas, khawatir, tertekan dan bingung saat bersama dengan pasangan. Tapi kita bisa menjadi diri sendiri, tanpa dibuat-buat untuk menyenangkan pasangan. Hey, anda akan tinggal bersamanya seumur hidup. Anda bisa “lelah batin” jika hanya berlaku seperti sandiwara.

Pasangan anda akan menerima tidak hanya kecantikan, kekayaan, kepandaian atau karakter anda, tapi seluruh pribadi anda seumur hidup. Anda juga tidak tinggal dengan ketampanan atau kekayaannya ‘kan? Anda akan tinggal dengan seluruh dirinya, termasuk sifat dan karakter pribadinya.

Satu hal, tidak ada orang yang sempurna di dunia ini. Terima kekurangan pasangan sebagaimana ia mau menerima kita seutuhnya.

Nyaman berarti anda juga tidak mengubah pribadinya. Jika ada hal-hal yang anda kurang suka, bicarakan bersama dan diskusikan cara terbaik sebagai pemecahan. Begitu pun sebaliknya. Kesepakatan di awal akan membantu anda untuk “tidak terlambat”.

2. Bagaimana masa depan kami bersama, termasuk soal keuangan?
Sebelum melanjutkan ke jenjang komitmen hidup bersama secara hukum agama, hukum adat dan hukum negara silahkan bicara bersama tentang masa depan seperti rumah tinggal, pekerjaan, tabungan, hutang, tanggungan keluarga, dsb.

Libatkan pasangan saat menentukan pekerjaan, tabungan pribadi atau tabungan bersama, cicilan hutang atau biaya hidup sehari-hari.

Masalah keuangan kerap menjadi pemicu konflik antar pasangan. Diskusikan bilamana terjadi konflik, apa yang bisa dilakukan untuk memecahkannya?

Jika masih pacaran atau status lajang, anda masih bisa menggunakan uang tanpa perhitungan, kini anda perlu pikirkan bagaimana anda perlu menabung untuk masa depan bersama.

Anda yang berpikir, dengan menikah maka solusi keuangan akan teratasi. Belum tentu juga. Pastikan bersama pasangan mengenai pengelolaannya, termasuk soal gaya hidup agar tidak menjadi masalah di kemudian hari.

3. Bagaimana cara-cara kami menyelesaikan masalah/pertengkaran bersama?
Sewaktu pacaran atau penjajakan, anda pasti pernah mengalami konflik bersama pasangan. Konflik itu wajar. Dengan konflik kita bisa paham karakter masing-masing. Apakah kita menjadi pribadi yang destruktif misal banting barang, memaki kasar, merusak barang, melakukan kekerasan dsb? Atau kita menjadi pribadi yang konstruktif?

Apakah kita cukup berani untuk minta maaf, meski pasangan yang berlaku salah? Apakah setiap pertengkaran selalu berujung damai atau butuh waktu lama untuk pulih dan berdamai? Apakah pasangan termasuk orang suka melakukan kekerasan secara verbal atau fisik atau malah keduanya?

Apakah juga usai konflik selalu memerlukan pihak lain seperti orangtua, sahabat, kakak, atau konselor untuk menyelesaikannya?

Apakah setiap konflik terjadi aniaya fisik dan verbal? Siapa yang lebih dulu meminta maaf?

Kalimat reflektif di atas dapat membantu anda untuk memantapkan langkah, apakah dia layak menjadi pasangan hidup kita?

4. Bagaimana tanggapan/pandangan orangtua, keluarga, teman-teman tentang hubungan kami?
Biasanya orang sekitar akan mengamati, menilai dan menyampaikan kepada kita tentang kesan mereka terhadap pasangan kita. Orangtua juga punya intuisi yang baik tentang pilihan hidup kita. Dengarkan pendapat mereka tentang pasangan hidup kita. Toh, saat menikah anda juga “menikah” dengan seluruh anggota keluarganya. Maksudnya, pribadi pasangan juga cerminan bagaimana keluarga membentuknya.

Mintalah juga pendapat dan saran sahabat atau teman dekat anda tentang pilihan anda. Apakah anda dan pasangan adalah pasangan yang serasi? Syukur-syukur mereka akan membantu menyelidiki pasangan hidup kita tanpa diketahui pasangan. Bila sahabat dan teman memberi kesan positif, siapa tahu mereka pun akan terlibat untuk menjadi “Panitia kecil” acara pernikahan anda.

5. Bagaimana pandangan tentang anak dan pengasuhannya?
Dalam budaya barat, anak perlu dibicarakan di awal pernikahan. Bagaimana pandangan pasangan soal anak? Apakah anak menjadi bagian penting pernikahan anda?

Kehadiran anak juga memerlukan perhatian yang utama dalam rumah tangga, seperti pengasuhan dan biaya-biaya yang diperlukan untuk tumbuh kembangnya termasuk juga soal biaya pendidikan.

Yang terpenting, anak bukan sebuah beban tapi tanggungjawab baru saat memutuskan menikah. Jika memang kehadiran anak bukan tujuan utama, bagaimana anda dan pasangan melewati hidup bersama? Apakah anak menjadi penentu kebahagiaan pasangan?

“Tiada gading yang sempurna” artinya anda dan pasangan bukan saling memandang tetapi sama-sama memandang ke arah yang sama. Lengkapi kekurangan pasangan dengan apa yang anda miliki. Begitu pun sebaliknya.

Yang terutama, percayakan pilihan anda pada Tuhan, berdoa. Karena Tuhan tahu pasangan yang anda butuhkan, meski dia bukan seperti yang anda harapkan. Selanjutnya, anda akan paham sudah terlambat pintu hati bagi orang lain. Dan ia yang anda pilih memang layak untuk diperjuangkan.

2 thoughts on “Cinta Butuh Logika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s