Kisah Perempuan Di Negeri Orang


image

(Sumber foto: Dokumen pribadi)

Sebenarnya sudah lama saya ingin curhat soal ini tapi gak tahu mulai darimana. Saya salut dengan “Pahlawan Devisa” atau para TKW yang meninggalkan keluarga demi mencari nafkah. Mereka berjuang untuk hidup agar keluarga di Indonesia juga tetap hidup.

Sewaktu liburan hari raya lebaran, saya menyempatkan diri menjadi “Solo Traveller” keren namanya hihihi alias mlancong ke negeri orang. Nah, saya tinggal cuma tiga malam di kota tersebut lalu mesti lanjut ke negeri sebelahnya dengan jalan darat.

Awalnya kikuk juga mlancong sendirian tapi ada beberapa tempat yang mau saya kunjungi. Sendirian?! Hmm… mikir juga ya tapi sudah bulat tekad saya pasti bisa.

Baru saya sampai menginjakkan kaki di kota itu dan menunggu bis, muncullah seorang gadis asal Sumatera yang ternyata satu pesawat dengan saya dan bekerja di sebuah pabrik di kota itu. Lalu kami ngobrol banyak. Saya jadi tahu suka dan dukanya bekerja di negeri orang menurut versi “Mbak 1” sebut saja demikian. Karena nanti ada beberapa TKW yang akan saya ceritakan. Hebat, ia harus mengatasi emosi Bos-nya yang juga asal Asia yang kadang suka marah-marah gak jelas. Dia tanya balik ke saya, “Kalau Bos Mbak orang mana? Galak juga?”

“Hadeh, saya Pelancong, Mbak” Jawab saya. Lalu dia pun pergi naik bis jurusannya.

Lanjut ke hostel yang sudah saya pesan, rupanya si Pemilik Hostel punya karyawan baru, sebut saja “Mbak 2”. Mbak 2 ini baru kerja lima bulan disitu. Dia senang sekali ketika tahu ada tamu orang Indonesia. Mbak 2 asal dari Sumatera, sudah menikah, punya dua anak dan ditinggal oleh suaminya yang menikah lagi. Dia merantau ke kota itu setelah sembilan bulan numpang di rumah saudaranya yang kerja di pabrik di kota itu. Saudaranya pula yang membawa Mbak 2 ini kerja di Hostel. Tugasnya adalah membersihkan setiap kamar dan mencuci barang milik hostel seperti sprei, selimut dll.

Nah, saya juga ngobrol tentang kehidupan Mbak 2 bahwa ia harus melakukan pekerjaan ini semata-mata untuk biaya kedua anaknya. Mantan suaminya sungguh tidak bertanggungjawab. Kalau soal gaji, saya rasa juga tidak terlalu besar karena memang tugas Mbak 2 tidak berat dan juga santai. Hanya ada beberapa kamar dan semua tergantung order si Majikan empunya hostel.

Lalu bagaimana Mbak 2 bisa bertahan dan mengumpulkan uang buat dikirim? Rupanya sore hari, saya diajak jalan keliling kota oleh Mbak 2 bersama dua orang bule Eropa. Mbak 2 bilang satu dari si bule ini adalah pacarnya. Saya pun kaget, maksud kata pacar ini. Karena mereka adalah turis. Sudah hampir satu bulan si turis ini bersama Mbak 2 untuk berbagi hasrat seksual. Oh, ini namanya “Pacar”. Disinilah saya tahu, bagaimana Mbak 2 bisa mencukupi biaya sehari-hari seperti makan dan punya uang lebih. Si bule yang jadi pacarnya, yang memberikan uang. Jika waktu kerja usai, Mbak 2 akan bisa berpacaran dengan si bule.

Saya tanya soal cinta pada Mbak 2. Dia hanya tersenyum. Semua karena ia butuh hidup. Anak dan keluarga di Indonesia hanya tahu ia bekerja di luar negeri. Ini bukan kali pertama, ia anggap “berpacaran” dengan tamu. Yang penting dapat uang. Saya jadi miris. Lah, saya jadi ngoceh ke Mbak 2 tentang perilaku seks beresiko itu dan bahayanya. Mbak 2 pun menangis dan bilang jika saya jadi “orang sukses”, jangan lupakan dia.

Lanjut ke perempuan ketiga, perempuan berusia sekitar 40an tahun yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di luar negeri. Saya bertemu sebut saja, Mbak 3 saat transit di suatu bandara menuju Jakarta. Ia mengeluh tidak betah karena sikap majikan yang kasar dengan beban tanggung jawab yang besar. Mbak 3 harus bangun jam lima pagi dan tidur jam sebelas malam. Rumahnya besar tapi hanya Mbak 3 yang bekerja membersihkannya. Belum lagi ia harus siap apabila anak majikan pulang larut malam dan membukakan gerbang.

Mbak 3 sudah tidak betah, sering sakit dan rindu keluarga. Belum genap dua tahun, ia beralasan anak sakit supaya bisa kembali ke Indonesia. Intinya, ia tidak mau kembali lagi bekerja.

Bertemulah saya dan Mbak 3 dengan Mbak 4 yang ternyata juga bekerja di negara lain sebagai Penjahit. Sepertinya dari cerita Mbak 4, penghasilannya lumayan. Jadi kami sama-sama bertemu di terminal transit menuju Jakarta.

Mbak 4 malah justru senang bekerja di negara yang memang terdengar makmur dan menjanjikan, kata Mbak 4. Lalu mereka bertanya lagi ke saya, “Kalau Mbak ini kerja di negara mana? Baik gak majikannya?”

Lagi-lagi hehehe… memang bukan tampang Pelancong.

Empat Mbak di atas menginspirasi saya tentang bagaimana memperjuangkan impian di negeri orang sebagai perempuan, susah dan senang hanya Tuhan yang tahu. Jadi ini hasil petualangan saya sendirian.

Kutipan berikut, saya dapat dari guru privat bahasa jerman dalam email, menarik buat di-share:

The journey’s a lonely one
So much more than we know
But, sometimes you’ve got to go
Go on and be your own hero.

Seringkali perjalanan ditempuh sendirian
Lebih dari yang kita bayangkan semula
Tapi kadang kau harus terus melangkah
Dan jadi pahlawan bagi dirimu sendiri

Seperti lagu “Hero” yang dinyanyikan Mariah Carey dengan lirik,

“And then a hero comes along
With the strength to carry on
And you cast your fears aside
‘Cause you know you can survive
So when you feel like hope is gone
Look inside you and be strong
And you’ll finally see the truth
That a hero lies in you”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s