Permainan Masa Kecil


image

(Rindu masa kecil saat melihat anak-anak Jerman sedang berfoto bersama tokoh “Hero” dalam pesta kostum.)

Apakah anda masih ingat permainan apa saja yang biasa anda mainkan bersama kawan-kawan anda dulu? Saya lebih sering melihat anak-anak masa kini yang sibuk memainkan gadget, video game, komputer untuk permainan.

Saya pikir nilai-nilai tersebut sudah mulai luntur seiring kemajuan teknologi dan punahnya permainan tradisional tersebut. Semua permainan tradisional yang saya mainkan murni tidak butuh biaya mahal, bahkan ada yang tidak perlu peralatan, hanya peraturan saja yang diperlukan.

Tulisan saya kini seputar permainan tradisional anak perempuan seperti congklak, bekel, “orang-orangan” bahkan ada permainan yang juga dapat dimainkan bersama anak laki-laki seperti lompat tali, petak umpet, main benteng, monopoli, ular tangga dsb. Tulisan ini murni hasil pengalaman dan pengayaan saya.

Nilai-nilai yang dipelajari dari permainan tersebut, antara lain:

1. Kejujuran
Jika dalam memainkan kita tidak jujur, tidak ada lagi yang mau berteman dengan kita atau mengajak bermain. Tidak punya teman, maka kita jadi kesepian. Itu yang saya rasakan. Jujur dalam bermain congklak dan bekel maka permainan diakhiri dengan adil dan kompetitif ketimbang dalam permainan dipenuhi rasa curiga, “jangan-jangan curang” batin lawan main.

Jika kita jujur, kita juga akan dipercaya menjadi teman. Dalam permainan monopoli, “harta” yang kita kumpulkan akan jadi “berkah”.

Entah mengapa sejak kecil, saya sudah merasa bahwa “curang” atau cheating tidak akan membawa kebaikan, hati saya pun tidak tenang. Hidup ini dijalani dengan usaha untuk menang dan ikut aturan yang berlaku.

Jika sedari kecil kita sudah bersikap jujur, kita akan dipercaya untuk melakukan tanggungjawab yang lebih besar lagi. Kemenangan dalam permainan yang dilandasi rasa jujur akan lebih baik dibandingkan “curang”. Siapa yang suka berteman dengan anak “curang”?

2. Komunikasi
Awalnya saya anak pemalu hihihi (apa iya?!) Melalui permainan bersama teman, saya dilatih berbicara dan mengatur permainan dengan baik. Pastinya setiap anak akan berkomunikasi satu sama lain.

Kebayang banyak anak sekarang lebih banyak menonton televisi sehingga bahasa yang diserap belum tentu sesuai dengan usianya. Atau anak sekarang lebih banyak berkomunikasi satu arah dengan permainan teknologi yang dikuasainya, tanpa komunikasi.

3. Kemampuan bersosialisasi
Melalui berbagai permainan tradisional yang melibatkan banyak pemain, semisal “main benteng” atau “petak umpet” maka setiap anak dituntut untuk saling berbagi peran, membuat keputusan, memiliki alasan, berdebat, diskusi, yang ujung-ujungnya berkomunikasi satu sama lain. Menjadi “anak rumahan” dengan semua aneka permainan tersedia di rumah, takut bermain kotor-kotoran di luar, dilarang keluar rumah, tidak punya teman di rumah, dsb akan “membunuh” karakter anak untuk bersosialisasi dengan teman sebayanya. Bukankah kemampuan bersosialisi akan menunjang kecerdasan emosional anak?

Tidak harus menjadi anak populer, tetapi bersosialisasi dengan teman sebaya mengisyaratkan anak tidak menjadi “anti sosial”. Orangtua saya juga tidak melarang saya bergaul dengan si A atau si B, mereka membiarkan saya menemukan alasan mengapa saya tidak suka berteman dengan si A atau si B.

4. Menciptakan aturan main atau kontrak bersama
Melalui permainan, anak akan belajar bermain peran, diskusi dan belajar memutuskan sehingga menjadi aturan main atau kontrak bersama. Anak akan belajar bagaimana bermain secara “fair” dan kompetitif.

Anak akan paham jika salah dan melanggar, maka ada konsekuensi yang harus dijalani. Anak akan paham bagaimana menghargai orang lain dengan aturan-aturan yang disepakati. Toh bermain ala bar-bar dan tidak ada aturan tidak akan disukai oleh anak karena tidak akan jelas untuk menentukan pemenang dalam permainan.

Saya juga belajar untuk menerima kekalahan sebagai bagian dari permainan dan bergiat diri untuk jadi pemenang misal “main ular tangga” dimana saya harus patuh mengikuti lemparan dadu, jika sudah sampai tahap atas tapi harus turun lagi karena lemparan dadu. Terpaksa?!

5. Kepemimpinan
Dalam permainan tertentu, ada pembagian peran semisal jadi pemimpin. Anak juga belajar memimpin kelompoknya, mengatur permainan, menghargai “anak buahnya” dsb. Anak yang mendominasi dan tidak menghargai “anak buahnya” tidak disukai untuk permainan selanjutnya. Sedari kecil, anak yang memiliki bakat pemimpin akan sudah tampak terlihat dalam setiap permainan.

6. Strategi (cara berpikir) dan kemampuan mengelola permainan (kemampuan manajerial)
Dalam setiap permainan, saya belajar bagaimana mengelola suatu permainan dan bermain peran, misal bermain “masak-masakan” atau “orang-orangan”. Strategi juga diperlukan agar bisa mengalahkan lawan dan mencapai kemenangan, misalnya dalam “main petak umpet” atau “main benteng”. Dalam permainan “monopoli”, saya belajar mengelola agar saya “tidak bangkrut”.

Jika saat ini, anak belajar strategi hanya dari video game atau permainan elektronik, tentu strategi yang ditawarkan sudah memiliki sistim yang otomatis dan baku, ketimbang permainan tradisional yang sifatnya dinamis dan berubah tergantung pemain, lokasi, alat bantu permainan, dsb.

7. Kreativitas
Permainan tradisional menumbuhkan kreativitas saya untuk menciptakan “tokoh” dalam permainan “orang-orangan”.

Kreativitas dalam menciptakan alat bantu permainan, misal dari kaleng susu bekas, koran bekas, kartu-kartu bergambar, biji-bijian dari tumbuhan, dsb. Buat saya permainan tradisional selalu menumbuhkan kreativitas anak untuk mengembangkan permainan atau alat bantu permainan. Menyenangkan bukan?

8. Gerak Otot dan Otak
Permainan tradisional menuntut anak untuk dinamis, aktif bergerak, berkreasi dan menciptakan strategi. Bandingkan anak harus diam dan tertuju pada permainan elektronik.

Nah, sekarang anda bisa menciptakan permainan tradisional bersama anak sekaligus mengingat masa kecil yang bahagia.
Caranya adalah:

a. Sediakan waktu bersama anak, misal waktu akhir pekan atau saat liburan.

b. Kreasikan alat bantu permainan, misalnya buat peta ular tangga, menggunting majalah bekas untuk bermain orang-orangan, menjalin karet gelang untuk lompat tali, main benteng dari kaleng susu yang sudah tidak terpakai, dsb.

c. Sediakan lokasi yang nyaman, aman dan tidak berbahaya, misal bermain petak umpet.

d. Sediakan alat bantu permainan yang tidak berbahaya bagi anak, misal senjata tajam, api, listrik, dsb.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s