Berani Bermimpi


image

Sebagai seorang pemimpi, kunci utama adalah memiliki keberanian. Mereka yang berani adalah mereka yang mampu meraih impian. Tapi mengapa saat dewasa kita menjadi pengecut untuk meraih impian?

Saya masih ingat, sewaktu masih anak-anak ditanya impian dalam hidup saat saya retret sekolah. Saya menuliskan dalam selembar kertas kecil impian hidup saya.

Setiap anak menuliskan impian tanpa ragu-ragu sambil membayangkannya. Setelahnya, Bapak Pembimbing Rohani bertanya dua atau tiga perwakilan dari kami dan menyebutkan impian yang ditulis. Mereka yang mewakili menyebutkan impian yang begitu menganggumkan bagi kami semasa anak-anak. Impian itu besar, hebat dan mengagumkan.

Saya rasa saat saya menuliskan impian itu pun saya tidak diliputi rasa takut. Saya pikir bahwa waktu akan membantu saya mewujudkannya.

image

(Mulailah impian dari sesuatu yang kecil dulu. Sumber foto: http://www.play.google.com)

Menginjak usia dewasa, saat ditanya, “Apa impian anda?”, saya diam.

Saya bingung.

Saya takut.

Apa yang membedakan keberanian akan impian saya saat masih anak-anak dengan saat dewasa? Ini jawabnya,

1. Takut gagal
Ketakutan terbesar dalam mewujudkan impian adalah kegagalan. Bagaimana jika apa yang saya impikan itu tak pernah terwujud? Meski kita sudah memahami bahwa kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda, tapi kita merasa berat menerima kegagalan. Seolah-olah gagal menjadi momok menakutkan mewujudkan impian. Mengapa sewaktu masih anak-anak dulu, kita mudah menerima kegagalan? Terima kegagalan sebagai jalan menuju kesuksesan.

2. Khawatir dicemooh
“Ah, impian itu tidak mungkin saya raih. Orang pasti tertawa jika tahu.”
Kebanyakan orang takut bermimpi karena tidak siap menerima cemooh dari orang sekitar. Ketidaksiapan dicemooh menunjukkan bahwa kita sendiri juga tidak siap memiliki impian itu. Rasa memiliki impian tentu akan tercermin betapa gigihnya kita berjuang meraihnya.

3. Merasa kurang kesempatan dan waktu
Sewaktu anak-anak saat berpikir impian, kita berpikir masih panjang jalan yang ditempuh. Saat dewasa, kita disibukkan dengan pernak-pernik kehidupan sehingga kita berpikir nanti dan nanti saja. Kita menunda dengan alasan waktu. Lalu, sesudahnya kita merasa terlambat. Setiap orang di dunia ini punya waktu yang sama, dua puluh empat jam. Milikilah impian selagi anda punya kesempatan itu.

4. Dipengaruhi cara pandang
Dulu sewaktu anak-anak kita tidak pernah ragu menuliskan impian. Kita masih polos. Kita belum dipengaruhi oleh ini itu. Saat dewasa, kita tumbuh oleh berbagai cara pandang yang kelak mempengaruhi keraguan kita untuk bermimpi. Seharusnya milikilah cara pandang yang mendukung anda mewujudkan impian.

Kesuksesan selalu berawal dari keberanian. Dan ketakutan terbesar di dunia ini berasal dalam diri sendiri. Lupakan impian anda jika anda tak bisa mengalahkan ketakutan dalam diri sendiri.

Trust your dream and hope, not your fear.

image

(Berdoa adalah salah satu cara saya mengalahkan ketakutan dalam diri sendiri saat memulai impian. Foto diatas bercerita suasana di suatu Gereja di Jerman. Dokumen pribadi)

Baca juga artikel serupa di sini https://liwunfamily.wordpress.com/2013/06/06/never-stop-dreaming/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s