Kekuatan Mengampuni


Hidup yang damai adalah mengampuni masa lalu, bersyukur atas masa kini dan tidak mencemaskan masa depan.

blog1
Sumber foto: dokumen pribadi

Belajar dari figur Nelson Mandela, seorang tokoh dunia, saya mengenal arti pengampunan yang sesungguhnya. Tak heran saat wafatnya, tidak hanya masyarakat Afrika Selatan berduka kehilangan tetapi juga masyarakat dunia. Sebagai tokoh dunia, pejuang persamaan hak warga negara agar tiada lagi pembedaan berdasarkan warna kulitnya, Nelson Mandela juga mengajarkan tentang pengampunan.

Saat masyarakat Afrika Selatan bersiteru tegang dalam konflik berkepanjangan, Nelson Mandela diharapkan menjadi juru damai. Dalam pidato yang singkat kepada masyarakat Afrika Selatan kala itu, ia berujar bahwa kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah. Mari membuat hidup lebih baik lagi dengan berdamai. Ia menambahkan bahwa selama 27 tahun dalam penjara, ia sudah kehilangan banyak hal dalam hidupnya tetapi ia tidak pernah menaruh dendam. Ia sanggup mengampuni. Kemudian ia berhasil membuat masyarakat Afrika Selatan percaya padanya bahwa pengampunan akan memberi kedamaian bagi negara yang sedang berkonflik kala itu.

Kekuatan pengampunan juga saya dapatkan dari kisah Ibu Elizabeth Diana, seorang ibu yang baru saja kehilangan putri tunggalnya, yang dibunuh secara kejam dan sadis. Ia mampu memaafkan Pembunuh yang adalah teman dan mantan pacar anaknya itu. Luar biasa, ibu ini ikhlas menerima kepergian anaknya seraya tidak menaruh dendam kepada pelaku. “Tuhan saja mau mengampuni dosa manusia, apalagi kita?!”

Siapakah kita sehingga begitu hebat menaruh dendam kepada sesama kita?

Saya masih ingat cerita seorang rekan kerja ketika kami sedang menceritakan pengalaman iman. Ada temannya, seorang Kristiani, setiap doa “Bapa Kami” pada bait, “… dan ampunilah kesalahan kami seperti kamipun yang bersalah kepada kami”, ia diam. Ia tidak berani mengatakannya, ia masih merasa dendam kepada Ayahnya sendiri. Begitu kuatnya dendam hingga membuat “luka batin” pada diri sendiri. Dendam menyerang diri sendiri.

Begitu kuatnya dendam sehingga mudah pula kita menemukan kasus kejahatan dan pembunuhan yang disebabkan oleh dendam pribadi. Dendam menyebabkan luka dan sakit juga bagi orang lain. Dendam menyerang orang lain.

Pengalaman saya dalam relasi dengan orang lain. Masalah selesai atau segera diselesaikan sebelum terjadi konflik. Saya juga akan segera melupakan konflik atau persiteruan tersebut. Tegur atau sapa kembali orang yang menganggap saya musuh. Tidak ada dendam. Meski relasi saya tidak seindah dulu dengan orang tersebut, tetapi yang terpenting, saya mampu mengalahkan ego pribadi saya.

Seratus persen rekan saya mengatakan bahwa dia salah dan saya benar. Secara ego manusia, dia yang bersalah seharusnya meminta maaf. Bagi saya, bukan persoalan salah atau benar, tetapi soal kemampuan untuk bersikap rendah hati untuk mengakui kesalahan. Kemauan yang ikhlas untuk menyapa dan mengampuni kesalahan orang lain. Jadi tidak ada konflik atau dendam.

Saya berpikir saya hanya tidak punya cukup waktu untuk memahami. Kesalahan dalam diri manusia itu wajar. Kita boleh salah. Bencilah kesalahannya, bukan orangnya.

Kita adalah manusia yang tidak sempurna. Saya rasa orangtua punya peran dalam mendidik anak untuk punya rasa ikhlas mengampuni.

Jika ada kesalahan, orangtua juga perlu meminta maaf. Jangan menganggap orangtua adalah sumber kebenaran. Orangtua saya pun akan mudah meminta maaf kepada saya dan adik-adik jika merasa salah. Toh, hal ini tidak menurunkan derajatnya sebagai orangtua.

Anak juga harus belajar mengakui kesalahan dan menerima kesalahan sebagai proses pertumbuhan diri. “Hey Nak, kesalahan adalah cara menemukan kebenaran.”

Jika anak bersalah, orangtua tidak perlu berlebihan menghukum anak sehingga menyebabkan anak trauma dan menaruh dendam. Beritahu kesalahannya, bukan hukumannya. Anak belajar pengampunan dari perilaku orangtua. Dengan demikan anak akan belajar artinya damai, tanpa kekerasan. Itulah makna kekuatan pengampuan menurut saya.

Betapapun pahitnya masa lalu, betapapun sakitnya perlakuan orang itu, dan betapa menderitanya kita karena kesalahan, mengampuni adalah cara kita berdamai dengan diri sendiri.

3 thoughts on “Kekuatan Mengampuni

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s