Jadi Pemimpin Panutan


Antara pemimpi dan pemimpin itu beda-beda tipis setipis akhiran -n saja. Well, baik pemimpi seperti saya maupun pemimpin sama-sama memerlukan kata kunci, keberanian. Masak pemimpin takut? Kalau takut, jangan dipilih jadi pemimpin.

Saya iseng tulis begini, usai misa di gereja. Saya senang misa di gereja di jerman karena misanya “singkat” dan tak ada koor (paduan suara). Jadi yang misa hanya dipandu oleh dirigen yang kemudian dinyanyikan bersama umat. Mungkin karena saya misa di kota besar, seperti München jadi tidak tampak kelompok paduan suara khusus misa. Lagi-lagi saya bicara tentang peran dirigen dalam misa langsung asosiasi saya ke mama saya, yang juga biasa menjadi dirigen. Istilah kerennya juga konduktor.

Nah, jadi dirigen menurut mama tidak mudah dan juga tidak sulit tetapi jadi panutan buat umat untuk bernyanyi. Saya pikir dirigen itu layaknya pemimpin juga ya. Kalau dirigen ‘ngawur’ dalam memberikan aba-aba bukan tidak mungkin umat juga nyanyi gak serempak, nadanya sumbang dan jelas umat jadi tambah bingung. Lah jika jadi pemimpin bikin bingung, mending jangan deh. Masak pemimpin jadi menjerumuskan pengikutnya.

Pemimpin itu harus berani tampil dalam situasi apa pun. Justru saya bergidik jika lihat ratusan orang lalu disuruh maju jadi dirigen. Mama saya tidak. Kapanpun ia harus berani tampil, memimpin dengan penguasaan notasi jadi keahliannya. Lah pemimpin itu harus yang ahli, punya kapasitas terhadap bidang yang ditekuni. Kalau gak ahli, gak mungkin dipilih pemimpin.

Konsekuensi yang juga harus diterima adalah kritikan. Selain dipuji karena keberhasilannya memimpin paduan suara sehingga terdengar merdu, pemimpin seperti dirigen ini juga tak lepas dari kritikan. Pernah suatu kali, mama curhat bahwa usai misa Pastor yang memimpin bukannya kasih apresiasi malah kritikan pasalnya paduan suara salah menyanyikan intro. Padahal mama sudah berusaha komunikasi ke sang Pastor. Yah sudahlah. Saya bilang ke mama, namanya tugas sukarela. Tapi mama langsung menyanggah, “Saya ‘kan bernyanyi untuk Tuhan.”

Dari situ saya paham bahwa jadi pemimpin siap menerima kritikan dan harus ikhlas. Apa pun yang dikerjakan sebagai pemimpin, kerjakan yang terbaik buat Tuhan. Ibaratnya pemimpin adalah amanah dari Tuhan, diberi kepercayaan.

Terakhir menurut saya dari pengalaman tersebut, pentingnya komunikasi di setiap lini, atas-bawah dan sejajar. Komunikasi memungkinkan tugas dapat berjalan dengan baik, kemudian hasilnya terdengar “merdu”.

Berjiwa pemimpin tidak serta merta seseorang harus berada di puncak. Jiwa melayani harus menjadi dasar pemimpin yang jadi panutan. Semoga menjelang pemilu, kita mampu memilih pemimpin terbaik untuk negeri kita.

image

(Selamat merayakan pesta demokrasi! Sumber foto: http://politik.kompasiana.com/2014/01/24/masih-adakah-golput-dalam-pemilu-2014-inilah-sebuah-pesta-demokrasi-rakyat-indonesia-sesungguhnya-626952.html)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s