Hambatan Komunikasi dengan Pasangan


image

(Hal terpenting dalam komunikasi dengan pasangan adalah kemampuan memahami apa yang tidak dikatakan)

Jika waktu lalu, saya membahas tuntas tentang 7 hambatan komunikasi pada umumnya dalam link berikut https://liwunfamily.wordpress.com/?s=hambatan+komunikasi

Kini mari kita kupas hal-hal yang menjadi hambatan komunikasi dengan pasangan, suami/isteri sebagai orang yang kita cintai.

1. Budaya
Jika anda dan pasangan berlatarbelakang budaya yang sama, tentu tidak menjadi masalah. Jika anda dan pasangan berasal dari budaya yang berbeda, maka suami/isteri perlu saling memahami. Misalnya, konflik komunikasi yang kerap terjadi dengan rekan saya yang baru saja menikah dengan pria WNA. Si wanita Indonesia terbiasa basa-basi dalam menyatakan pendapat, sedangkan suami yang WNA ingin “to the point”.

Budaya akan membentuk kebiasaan berkomunikasi dalam diri individu tersebut seperti tutur kata, isi pembicaraan dan gaya bicara. Jadi wajar jika kita menemukan hambatan dalam berkomunikasi yang dikarenakan budaya. Kenali budaya pasangan sebagaimana waktu masih berpacaran dulu.

2. Waktu
Pernah mengalami konflik karena salah menyampaikan pesan atau usai berkomunikasi? Bisa jadi waktu adalah penyebabnya. Tak mungkin usai bekerja, kita bercerita hal-hal yang membangkitkan emosi. Cari waktu yang tepat jika kita ingin mengungkapkan hal yang sensitif, misalnya usai makan malam. Atau, atur waktu dengan pasangan agar tidak salah momentum.

3. Teknologi
Jangan pernah berpikir bahwa pasangan anda tahu dan paham tentang teknologi. Pasalnya teknologi berkembang setiap saat. Pahami dulu mengenai kecakapannya memanfaatkan alat komunikasi. Lalu pahami juga situasi yang terjadi, misalnya hujan kadang menjadi penghambat penerimaan pesan.

4. Wawasan
Jangan paksa juga pasangan memahami cerita atau keluh kesah anda karena bisa jadi pasangan tidak paham tentang topik anda. Pahami hal-hal yang menjadi minat, pekerjaan dan aktivitas pasangan sehingga kita bisa merespon dan memberikan feedback saat pasangan bercerita. Toh, kita ingin jadi pasangan yang “nyambung” atau setidaknya “tidak bodoh-bodoh” amat saat diajak bicara.

Agar tidak terjadi hambatan dalam berkomunikasi, berikut elemen-elemen yang diperlukan:

1. Jujur
Jika anda berbohong suatu saat anda tidak akan bisa menutupinya lagi. Katakan sejujurnya di awal dibandingkan pasangan tahu yang sebenarnya di kemudian hari.

2. Percaya
Beri kepercayaan pada pasangan untuk menjelaskan. Jangan memiliki asumsi atau pemikiran sepihak yang belum tentu benar. Jika anda tidak percaya pada pasangan, buat apa anda menikah? Percaya adalah kunci dari pernikahan.

3. Kerelaan untuk mendengarkan
Berilah waktu pada pasangan untuk bercerita dengan ikhlas. Toh, anda juga tidak suka bila pasangan memotong pembicaraan anda atau dia cuek saja. Perlakukan pasangan sebagaimana anda ingin diperlakukan saat bercerita. Beri kesempatan pada pasangan pula untuk menjelaskan.

4. Sabar
Seberapapun panjangnya ia bercerita atau seberapa emosionalnya anda saat dia bicara, tetaplah sabar. Jangan terpancing emosi. Akan ada giliran bagi anda untuk merespon. Jadilah pasangan yang aktif untuk meredam emosinya, bukan memancing emosinya.

5. Fokus
Jangan mengkaitkan topik pembicaraan tentang masa lalu atau hal-hal yang tidak berkaitan. Buatlah sesederhana mungkin dan tidak menggeneralisasikan suatu permasalahan.

6. Empati
Berupayalah untuk memahami pasangan dengan empati. Pahami apa yang sedang diceritakan pasangan dengan bahasa tubuh bahwa anda peduli dan mengerti apa yang dirasakan. Misalnya memeluk pasangan, meraba dengan penuh kelembutan, mengusap air matanya, dsb.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s