Kenyataan versus Kesan


image

(Sumber foto: Dokumen pribadi)

Sebagian besar orang-orang yang saya kenal lebih suka hidup dengan kesan, bukan kenyataan. Misalnya, banyak dari kita belum mengenal si X tetapi karena ada orang yang menyampaikan kesan tentang X, si X itu tidak baik maka sebagian besar orang akan memusuhi X. Padahal mereka belum kenal X apalagi merasa dirugikan oleh X.

Sering juga rekan kerja saya dulu memandang sulit belajar bahasa jerman karena kesan yang diciptakan sebagai bahasa asing. Padahal mereka belum pernah belajar bahasa jerman, hanya tahu kalimat “Ich liebe Dich” saja. Mereka percaya dari kesan, bukan kenyataan.

Banyak lagi kesan-kesan yang muncul di masyarakat hanya karena paradigma mereka tercipta oleh tampilan. Misalnya, perempuan berambut panjang dipercaya adalah wanita anggun. Atau, pria yang suka memakai pakaian ketat adalah kaum transeksual. Tampilan dipandang lebih penting untuk menunjukkan citra diri ketimbang kepribadian. Mirisnya lagi bila apa yang sudah dipersepsikan oleh orang itu salah. So, jadi bagaimana?

Saya belajar ilmu psikologi, beberapa teman saya mengesankan bahwa saya bisa mengenal kepribadian orang bahkan membuat analisa hanya karena tampilan. Padahal saya belum mengenal si target secara betul. Saya juga tidak suka bilamana ada orang yang suka sekali memberikan analisa kepribadian sepihak tanpa dilakukan pemeriksaan psikologis dulu. Buat saya, setiap orang itu unik.

Apakah anda mempercayai hal yang anda lihat? Atau anda merasa perlu melihat dulu baru mempercayai. Mana yang betul?

Kesan itu memang penting tetapi kenyataan lebih penting.

Toh kita setuju bahwa segala hal pasti ada alasannya. Jadi diri sendiri dan tak usah berusaha menyenangkan setiap orang di dunia ini. Anda bisa capek dan lelah batin. Jika memang anda tidak merasa berbuat, tak perlu takut dan tetaplah maju. Anda juga tidak perlu membuktikan kepada siapapun tentang diri anda. Itu namanya kesan. Tetapi biarkan waktu yang menjadi proses tentang siapa anda sesungguhnya. Itu namanya kenyataan.

Sewaktu kuliah dulu, kami melakukan eksperimen sederhana untuk mata kuliah Psikologi Sosial. Kelompok memutuskan kita akan membagi dua kelompok mahasiswa yang terdiri dari beberapa orang mahasiswa menjadi kelompok “Pembeli pertama” dengan pakaian perlente, berpakaian bermerek, rapi seperti layaknya artis. Kita tidak menyebut Pembeli Pertama sebagai orang kaya tetapi mereka diibaratkan dengan tampilan sudah menunjukkan sebagai orang memiliki uang banyak. Kelompok kontrol yakni “Pembeli kedua” adalah mereka yang berpakaian biasa, lusuh, sederhana, bahkan bisa dibilang “kampungan” atau “pengemis”. Studi ini ingin memperlihatkan perlakuan penjual di sebuah konter butik baju ternama terhadap penampilan pembeli. Ternyata memang studi sederhana ini menunjukkan bahwa ada perbedaan perlakuan antara kelompok pembeli pertama dengan pembeli kedua. Mengapa? Tampilan seseorang menimbulkan kesan. Padahal baik kelompok pertama maupun kelompok pembeli kedua adalah sama-sama ingin membeli. Kenyataan ditentukan kemudian.

Saya selalu ingat kalimat manis berikut: “What others think of you is none your bussiness.” Tunjukkan seberapa nyata pribadi anda sesungguhnya bukan bagaimana anda harus mengesankan orang lain yang sebenarnya itu semua tidak real alias palsu.

Jadi sadarilah bahwa kita hidup dalam kenyataan bukan kesan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s