Alasan Tinggalkan Kerja: Why Top Talent Leave their Jobs


image

(Budaya merayakan “weekend” usai bekerja selama sepekan di Seoul adalah hal yang wajar. Sama seperti budaya di Jepang. Foto adalah minuman lokal khas korea. Ini semacam apresiasi terhadap budaya kerja keras yang sudah mereka lakukan. Sumber foto: Dokumen pribadi)

Saya sedang iseng membuka foto lama sewaktu berpergian ke Korea Selatan tahun 2012 yang lalu. Saya memang suka mengabadikan apa saja yang menurut saya menarik, salah satunya pajangan display yang terpampang di dinding sebuah kafe di pusat kota Seoul.

Saat itu malam hari, teman saya, Pria Eropa Timur yang punya bisnis di Seoul mengajak saya untuk jalan-jalan dan mampir ke kafe sambil mengamati anak muda Korea yang sedang nongkrong disitu. Karena sudah lama, saya lupa nama kafenya tetapi sangat unik, menarik dan inspiratif. Minuman dan cemilan yang disajikan juga. Lalu, saya numpang di toiletnya juga didesain supaya orang betah berada di kafe itu.

Saya potret saja salah satu dinding yang menggambarkan judul di atas. Lumayan. Kebetulan ini juga jadi pertanyaan buat saya jika sering terjadi turn over yang tinggi di suatu perusahaan, ada apa gerangan yang terjadi?

image

(Tampilan/display yang saya maksudkan di dinding kafe di Seoul, Korea Selatan. Sumber foto: Dokumen pribadi)

Mengapa orang yang dipandang berbakat dan produktif “resign”?

1. Bos brengsek
Siapa yang betah jika setiap hari dihadapkan pada bos yang suka selingkuh, main “perempuan”, suka marah-marah tak jelas, tidak bekerja dan melakukan penyelewengan kekuasaan/uang? Mungkin ini adalah sebagian yang pernah dihadapi saat mendapati bos brengsek yang tidak bertanggungjawab terhadap tugas dan anak buahnya. Siapa yang tahan jika bos tidak pernah bisa melindungi anak buahnya dan menjadi pengayom bagi bawahannya. Saya pikir orang berbakat seperti anda adalah wajar untuk mencari peluang yang lebih baik. Sebanyak-banyaknya gaji yang didapat tidak akan cukup mengobati “rasa sakit hati” terhadap bos anda ‘kan?

2. Kurang pemberdayaan
Kurangnya pemberdayaan tidak lepas dari sarana pendukung kerja. Bagaimana bisa bekerja optimal jika tidak ditunjang dari staf atau co-workers sebagai mitra kerja yang baik? Belum lagi beban kerja yang sudah overload tetapi gaji dan tunjangan tidak dinaikkan. Jika ada tempat yang lebih baik, putuskan saja yang terbaik bagi anda.

3. Politik dalam kantor
Poin 3 ini penting karena politik dalam kantor itu menimbulkan friksi atau gesekan-gesekan yang bisa memicu perselisihan, sikut-sikutan antar rekan kerja hingga mungkin dendam kesumat dan menurunkan produktivitas kerja. Politik dalam kantor misalnya budaya merekrut saling kenal (nepotisme) yang paling banyak terjadi. Kita terjebak dalam lingkaran yang sulit keluar dan menimbulkan antar curiga satu sama lain. Muncul kubu-kubu dalam kantor yang saling bersenggolan disebabkan politik yang tak jelas di kantor. Bagi mereka yang tak suka kondisi seperti ini, tidak produktif, tidak kondusif dan “tak sehat” lagi lebih memilih untuk “cari aman” dengan cari pekerjaan yang baru.

4. Minimnya pengakuan/penghargaan/pujian
Sudah kerja keras, lembur hingga tidak pulang-pulang ternyata tidak mendapatkan apresiasi dari perusahaan atau bos. Sebagai pribadi, kita layak mendapatkan pengakuan, pujian terhadap kinerja yang sudah dilakukan. Kita tentu akan frustrasi bila tidak ada penghargaan terhadap karyawan sebagai pribadi. Pengakuan tidak melulu pujian. Perusahaan dapat memberikan benefit yang sesuai atas kinerja karyawannya, misalnya educational benefit, kenaikan persentase gaji, atau tunjangan lain yang besarannya ditentukan. Jangankan pujian, tiap hari harus mendapatkan cacian dan omelan, siapa yang tahan? Bagaimana pun setiap karyawan butuh pengakuan sebagai eksistensi diri dalam perusahaan/organisasi tersebut.

5. Perusahaan terancam bangkrut
Jika sudah mengarah pada tutup kantor dan tutup perusahaan, anda yang masih produktif dan berbakat memang layak untuk pindah. Buat apa bertahan dengan kondisi kantor yang tidak menjanjikan sama sekali.

Demikian lima poin yang menggambarkan alasan karyawan potensial meninggalkan kerja. Tingkatkan talenta anda, agar perusahaan/organisasi merasa layak mempekerjakan anda dan merasa “kehilangan” jika anda “resign”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s