Anak Sulung Lebih Sukses?


Berdasarkan artikel ini (https://liwunfamily.wordpress.com/2010/09/02/anak-lelaki-sulung-selalu-lebih-disayang-ibu/) banyak pembaca mengunjungi tulisan tersebut, hasil curhat sahabat saya. Mereka ada yang bertanya secara pribadi, mengapa anak lelaki sulung lebih disayang? Saya belum menemukan jawabannya.

Baru-baru ini akhir April 2014, BBC Inggris merilis studi oleh Feifei Bu dari Institut Penelitian Sosial dan Ekonomi, Universitas Essex, Inggris. Hasil studi menunjukkan bahwa anak perempuan sulung secara statistik lebih mungkin untuk menjadi orang yang paling ambisius dan berkualitas baik dari semua anak yang lain. Ditemukan bahwa anak perempuan sulung 13% lebih ambisius daripada anak laki-laki sulung.

Studi yang dilakukan terhadap 1.500 keluarga di Inggris juga menunjukkan bahwa anak sulung baik perempuan maupun lelaki sama-sama berambisi untuk meneruskan pendidikan hingga ke perguruan tinggi atau universitas.

image

(“STRIVE FOR PERFECTION IN EVERYTHING YOU DO” yang diucapkan oleh Sir Henry Royce sangat menginspirasi saya. Saya temukan kalimat tersebut di Museum BMW, München. Sumber foto: Dokumen pribadi)

Berikut hal-hal yang mungkin melatarbelakangi, mengapa anak sulung punya ambisi untuk sukses?

1. Membawa nama baik keluarga
Sebagai anak sulung, beban yang dipikul adalah nama besar keluarga. Jangan salah jika masih ada orang di masyarakat memanggil sebutan orangtua, Ibu X atau Bapak X dimana X adalah nama anak sulung. Jika anak sulung berperilaku buruk maka orangtua menjadi sorotan bagi masyakarat. Anak sulung dipandang sebagai ‘eksperimen’ orangtua dalam mendidik dan membesarkan anak mereka. Hal ini menunjukkan power mereka sebagai orangtua. Jika mendidik anak sulung saja sudah gagal, bagaimana anak-anak lain selanjutnya?

2. Dijadikan model/contoh bagi adik-adiknya
“Lihat kakak, contoh dia supaya bisa masuk sekolah dengan gratis.” Begitu mungkin orangtua meminta anaknya yang lain untuk mencontoh kakak sulungnya. Bagi orangtua, membandingkan satu anak dengan anak lain dimaksudkan untuk belajar menjadi pribadi yang lebih baik. Orangtua bermaksud baik agar anak-anak lain dapat mencontoh keberhasilan kakak sulungnya. Menjadi ‘role model’ seperti semacam gambaran sempurna sesuai tuntutan orangtua, jadi anak yang terbaik dalam keluarga. Meski setiap anak dituntut hal yang sama, tapi porsi anak sulung ternyata lebih besar.

3. Harapan orangtua
Seperti yang disampaikan di atas, orangtua menaruh harapan besar pada anak sulungnya agar menjadi figur yang dibanggakan. Orangtua berharap agar anak sulung akan menjadi “Orang Besar dan hebat” yang membawa kebaikan. Jika anak sulung sudah berhasil, diharapkan ia akan membawa keberhasilan juga bagi adik-adiknya.

4. “Tulang punggung” keluarga
Masih ada pandangan bahwa anak sulung kelak akan menjadi “tulang punggung” keluarga. Memikul beban sebagai “tulang punggung” keluarga tidak mudah. Hal ini yang mendorong si sulung untuk berhasil dan sukses lebih dulu sehingga kelak akan menopang dan mendukung adik-adiknya. Banyak juga diceritakan bagaimana peran si sulung agar bisa membiayai kehidupan ekonomi keluarga dan menunjang biaya pendidikan adik-adiknya. Dalam budaya timur, orangtua sudah melepas tanggungjawabnya bila anak sudah menikah.

5. Pengasuhan orangtua
Sebagian besar orangtua banyak mencurahkan waktu dan biaya bagi keberhasilan si sulung. Orangtua yang baik adalah dapat berlaku adil bagi semua anak. Terhadap anak sulung, orangtua belajar pertama kali menjadi orangtua. Hal ini berpengaruh pada pola pemahaman si sulung agar menjadi anak yang diandalkan dalam keluarga. Ambisi si sulung untuk sukses diharapkan akan berdampak pula pada jiwa anak-anak yang lain.

Demikian sekedar opini menanggapi hasil penelitian tersebut. Bagaimana menurut anda?

Sumber bacaan:
http://www.theguardian.com/society/2014/apr/26/firstborn-children-excel-study-reveals

http://www.bbc.co.uk/newsround/27217126

2 thoughts on “Anak Sulung Lebih Sukses?

  1. Artikelnya menarik, sebagai anak sulung malah saya merasa dibebani oleh adik-adik saya. Saya biarkan mereka meraih cita-cita sementara saya harus giat bekerja membanting tulang buat memberi nafkah. Ya, saya berambisi mereka semua sekolah tinggi sementara saya cuma tamatan SMA. Terimakasih bu sudah berbagi

    Salam dari bandung,
    Herlia

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s