Aberglaube am Hochszeitstag: Takhayul Perkawinan


image

image

(Muda-mudi berpasangan sedang melakukan atraksi di pusat kota München. Sumber foto: Dokumen pribadi)

Jika anda bilang hanya orang Indonesia atau Asia saja yang percaya mitos, anda salah besar. Saya salah satunya yang berpikir bahwa orang Jerman tidak percaya takhayul. Ternyata salah, mereka juga mempercayai mitos karena mereka adalah bangsa yang masih menjunjung tinggi budaya dan adat istiadat.

Seperti yang terucap dalam peribahasa para orang tua dulu, dimana bumi berpijak, disitu langit dijunjung, artinya dimanapun kita, kita wajib menghormati budaya yang kita tempati. Jadi terima segala bentuk budaya dan tradisi yang berlaku. Namun tidak semua orang Jerman punya pemikiran dan pendapat yang sama tentang mitos. Sama seperti orang Indonesia, tentang mitos boleh percaya atau tidak.

Malam sebelum pernikahan, konon katanya pengantin pria dan perempuan tidak boleh bersama dalam satu ruangan karena pertanda tak baik. Dalam bahasa Jermannya dikatakan “In der Nacht vor der Hochzeit sollen Braut und Bräutigam nicht in einem Zimmer übernachten. Das wäre kein gutes Omen für die Zukunft”

Saya pikir di Indonesia juga berlaku hal yang sama. Saya ingat betul bagaimana Om dan Tante saya terpisah sebelum mereka nikah keesokan harinya.

Ketika dulu rekan kerja saya heboh dengan fitting gaun pengantin, saya pun ikutan jadi orang yang sibuk memberikan komentar tentang gaun putihnya. Saya berangkat bersama calon suami dari teman saya untuk melihat gaunnya. Sementara ini berbeda bila di Jerman. Ada kepercayaan bahwa pengantin pria tidak harus melihat gaun pengantin yang akan dikenakan perempuan saat upacara nikah nanti. Dalam bahasa Jerman diterangkan begini, “Der Bräutigam soll das Hochzeitskleid nicht vor der Trauung sehen.” Jadi daripada terancam batal tidak menikah lebih baik urungkan saja niat si calon suami yang penasaran itu.

Selanjutnya biasanya di akhir upacara nikah, Pengantin akan melempar buket bunga ke arah tamu yang datang. Mereka yang berhasil menangkap akan menjadi pengantin berikutnya. Dalam bahasa Jerman dikatakan, “Wirft die Braut nach der Trauung ihren Brautstrauß in die Schar der Hochzeitsgäste, so wird jene als nächste heiraten, die ihn auffängt.”

Saya pikir di Indonesia juga banyak yang melakukan tradisi demikian. Meski saya tidak termasuk beruntung mendapatkan lemparan buket bunga. Saya malah berusaha mencuri bunga melati yang dipakai pengantin perempuan. Kata orang-orang tua di Jawa biar saya segera menyusul menikah.

Oh ya, setelah menikah cincin kawin akan diletakkan di jari manis tangan kanan. Ketika saya berbincang dengan teman WNA Amerika, cincin kawin dapat diletakkan dimana saja. Tidak masalah. Malah banyak pula yang tidak memakai cincin kawin. Itu sih sengaja. Saya sendiri melihat teman saya yang menikah di Indonesia juga bebas meletakkan cincin kawin. Rekan kerja saya dulu malah tidak suka pakai cincin kawin sampai saya tidak tahu kalau dia sudah tak lajang lagi.

Di Jerman ada mitos yang mengatakan jika cincin kawin sampai hilang maka perkawinan akan berakibat buruk dan sial selamanya. Walah!!!

Semoga perkawinan langgeng hingga Opa dan Oma.

Sumber bacaan:

http://www.jahresfeste.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s