Good Bad, Who Knows?


image

(Good bad, who knows? Tetapi satu yang pasti Tuhan tidak membiarkan kita terpuruk dalam keburukan. Gambar Katedral St. Stephen di Passau. Sumber foto: Dokumen pribadi)

Jodoh, Rejeki, Karir tidak ada yang bisa  menebak datangnya. Mungkin saat ini anda bertanya, mengapa saya begini atau begitu? Suatu saat anda akan paham “jalan cerita” yang sudah anda tempuh. Buruk menurut anda ternyata bisa mendatangkan kebaikan. Good bad, who knows?

Ada seorang perempuan yang sudah mapan karirnya di Jakarta. Ia bermaksud untuk lebih serius lagi menjalani hidup dengan kekasihnya, Pria Amerika yang bekerja di Thailand. Bolak balik perempuan ini pergi ke Thailand, Singapura dan Penang hanya untuk memadu kasih dengan pria ini. Jarak menjadi kesulitan dalam hubungan mereka. Perempuan ini lalu melamar kerja dan kemudian ia diterima bekerja di Bangkok, Thailand. Ia berpikir pekerjaan ini menjadi peluang baginya untuk mengembangkan karir lebih baik lagi (International job) sambil ia bisa lebih memantapkan pilihan hidup dengan kekasihnya ini. Pria Amerika ini merupakan pria terpelajar, berasal dari keluarga yang baik, sudah cocok antar keluarga dan yang terpenting seiman.

Perempuan ini sebut saja, A akan segera mewujudkan mimpinya untuk punya karir internasional dan menikah dengan pria pujaannya. Orangtua A setuju dengan pilihan A, tentang karir dan kekasih A. Doa pun disampaikan tak kunjung putus. A pun menyampaikan kabar baik kepada kekasihnya. Bukan main kagetnya A terhadap reaksi kekasihnya setelah mendapat berita ini. Kekasihnya kaget dan meminta supaya hubungan mereka “break” sementara karena kekasihnya perlu waktu untuk berpikir. A sangat sedih dan putus asa. Ini menjadi hal buruk baginya. Ia pun tak memenuhi tawaran kerja di Bangkok tersebut. A merasa kehilangan mimpi-mimpinya. Ia putus asa. Good Bad, who knows?

Saat ia gelisah tersebut, datanglah tawaran seorang teman baik dari Jerman untuk berlibur. A berpikir ini ide yang baik untuk menghilangkan kesedihannya. Ia pun segera berangkat ke Jerman. Selama di Jerman, A seperti mencari “jalan cerita” hidupnya kembali. Ia merasa menemukan impiannya kembali di München, kota tempat A menghabiskan liburan cuti kantor yang sangat lama itu. Ia pun melamar studi di kota itu. Good bad, who knows?

Sekembalinya dari Jerman, A mendapatkan kabar bahwa ia diterima studi yang jadi pilihannya. A pun senang luar biasa. A lalu menyusun strategi untuk bisa kembali ke Jerman.

Tepatnya setahun usai perpisahan dengan kekasihnya, A mendapatkan email dari mantan kekasihnya yang menyatakan kerinduannya pada A. Mantan kekasihnya ini berharap A dapat kembali tinggal dan bekerja di Bangkok. Tak hanya itu, mantan kekasihnya bermaksud akan berlibur ke Jakarta dan bertemu dengan keluarga A.

Dilema muncul dalam diri A, antara kembali dengan mantan kekasihnya atau melupakan impian studi di Jerman. Semua harus segera diputuskan. A pun dengan tegas menyatakan bahwa ia tak akan kembali dengan mantan kekasihnya dan memilih melanjutkan pilihan di Jerman.
Good Bad, who knows?

Hidup adalah sebuah keputusan, meski itu berat dijalaninya. Segala yang buruk segera berlalu, datang yang baik. Begitu pun sebaliknya. Soal studi di Jerman sudah beres tetapi sesuatu terjadi. A mendapati ada persoalan administrasi yang sulit ia penuhi, ia terlambat melamar visa studi. A mendapati teman yang selama ini mengisi kekosongan hatinya, Pria Jerman yang baik hati sebut saja G. Mereka berkenalan saat A sedang mencari studi di Jerman. G banyak menolong dan membantu A dalam mengurus segala keperluan di Jerman. Tanpa G, ia tak mampu seorang diri yang tanpa rencana memutuskan pilihan hidup di Jerman.

Mereka pun intense berkomunikasi sehingga benih-benih cinta pun tumbuh. G melamar A untuk menjadi isterinya saat A berulangtahun. Good bad, who knows?

Tak perlu waktu lama bagi A dan G mengambil keputusan menikah. Toh mereka menyadari saling mencintai dan membutuhkan satu sama lain. A dan G menikah bahagia. Mereka kini bahagia sebagai suami dan isteri. Good bad who knows?

Memandang kisah di atas, kadang kita tak pernah menyangka hidup yang kita alami. Apa yang kita rencanakan belum tentu yang kita butuhkan. Kadang itu menjadi buruk, kita lalu frustrasi ketika kehilangan kekasih atau pekerjaan. Kita merasa dunia sudah berhenti berputar. Tetapi rancangan Tuhan pasti yang terbaik dan terindah. Jika buruk bagi kita, belum tentu buruk bagi Tuhan. Tuhan juga menawarkan kebaikan di saat keburukan terjadi, tak ada yang tahu.

Begitupun saat kebaikan terjadi, ingatlah bahwa itu tak akan lama dan segera berlalu. Percayalah hidup ini selalu menawarkan dua sisi, tinggal kita memutuskan untuk melangkah maju. Jika sesuatu buruk terjadi dalam hidup kita, pikirkan hikmah dari semua itu hingga kelak menjadi kebaikan. Good bad, who knows? Ambillah sesuatu yang baik saat hidup anda terasa buruk.

Ada kisah begini, seorang anak yang duduk di bawah kaki ibunya dan sedang memperhatikan ibunya yang sedang menyulam. Ia melihat mengapa sulaman ibunya terlihat rumit dan berantakan dari sudut pandangnya, di bawah kaki ibunya. Ia kemudian mempertanyakan itu.

Si ibu pun tersenyum dan menjawab, “Nak, sulaman ini memang terlihat rumit dan ruwet menurutmu jika kau melihat dari bawah. Coba kemari, aku menyulam keindahan dari atas sini. Kelak, kau akan tahu keindahan setiap benang yang aku rajut satu demi satu sehingga menjadi sulaman yang indah.”

Good bad, who knows? Meski rumit menurut kita, sebenarnya itu semua akan indah pada waktunya menurut kehendak yang di atas sana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s