Kartu “In Memoriam”


image

image

(Atas: Tampak muka Kartu “In Memoriam” almarhum Opa Mertua. Bawah: Tampak muka Kartu “In Memoriam almarhum Oma Mertua yang masih tersimpan. Sumber foto: Dokumen oribadi)

Baru-baru ini saya sedih kehilangan Opa Mertua yang meninggal dalam keadaan damai di usianya yang sudah 94 tahun. Saya salut juga bahwa hidup Opa melebihi prediksi Dokter yang semula mengatakan bahwa kemungkinan Opa hanya bertahan hingga dua bulan sementara prediksi ini disampaikan saat Desember 2013 lalu. Jadi bisa dibayangkan Opa Mertua bisa bertahan hingga tujuh bulan, meski kondisi fisiknya makin menurun makin lama.

Meski kondisi pendengarannya sudah menurun dan fisiknya sudah renta tetapi Opa Mertua selalu aktif berkarya hingga usia 92 tahun. Baru dua tahun belakangan, Ia harus hidup di atas kursi roda.

Usia Opa Mertua setahun lebih tua dibandingkan dengan Nenek saya yang sampai sekarang masih sehat dan tinggal di Flores. Sejak kecil saya tidak pernah punya Opa atau Kakek, jadi meski kebersamaan saya dengan Opa Mertua tak lama tetapi Opa Mertua mengajari saya tentang perjuangan dan kegigihan hidup. Opa Mertua konon juga pejuang jaman perang dunia dulu bahkan hingga hijrah ke negara Eropa Timur. Usai perang, Opa Mertua kembali ke Jerman. Begitulah cerita suami.

Oh ya, sebelum misa pemberkatan jenazah yang diadakan di Gereja terdekat, para kerabat diberi kesempatan melayat dan mengunjungi keluarga besar suami yang sedang berduka sampai dengan tiga hari. Sementara itu ternyata ada yang menarik, yakni Kartu “In Memoriam” yang kemudian dikirimkan kepada keluarga dan kerabat sebagai kenang-kenangan.

Kartu “In Memoriam” ini bertuliskan kalimat-kalimat indah seperti misalnya, ayat-ayat kitab suci. Di dalam kartu akan ada foto dari mereka yang meninggal. Di sisi dalam satunya lagi, ada nama, tanggal lahir, tanggal wafat dan kalimat puitis lainnya.

Berikut adalah kutipan indah dari kartu tersebut:

“Alles hat seine Zeit – es gibt eine Zeit
Der Freude, eine Zeit der Stille
Eine Zeit des Schmerzes
Eine Zeit der Trauer und
Eine Zeit der dankbaren Erinnerung”

Opa Mertua pun dimakamkan satu makam dengan Oma Mertua yang sudah meninggal lebih dulu saat Oma berusia 80 tahun. Begitulah cinta. Bahkan sampai maut memisahkan mereka, Opa Mertua masih ingin bersatu dengan Oma Mertua.

Saya tidak tahu apakah tradisi pemberian kartu “In Memoriam” berlaku di seluruh Jerman? Kebetulan suami berasal dari Bayern, Jerman Selatan. Di Indonesia sendiri beberapa kali peringatan arwah kepada mereka yang sudah meninggal juga diwujudkan dalam bentuk beberapa sovenir, seperti Mug, Bookmarker yang pernah saya terima tetapi belum pernah kartu “In Memoriam”.

Menurut wikipedia, kartu “In Memoriam” adalah sebuah kartu ucapan yang dicetak sebagai peringatan untuk acara tertentu seperti saat komuni pertama dan pernikahan yang berkaitan dengan sakramen bagi umat Katolik. “In Memoriam” berasal dari bahasa latin yang artinya mengenang. Namun kartu ini juga biasa dikaitkan dalam upacara kematian dan pemakaman. Di dalam kartu ini ada ayat kitab suci, doa dan informasi peristiwa dari pembuatan kartu. Konon diketahui muncul pertama kali di Belanda pada abad 17.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s