10 Pertimbangan Sebelum Posting Status


Bertumbuhnya media sosial tidak serta merta mendatangkan manfaat untuk berjejaring pertemanan secara maya tetapi juga mendapatkan mudarat jika penggunaannya tidak sesuai atau disalahgunakan. Sudah muncul beberapa kasus terkait penulisan status yang berujung pada sanksi hukum dan sosial di masyarakat.

Berikut 10 pertimbangan yang perlu disimak jika anda menuliskan status atau mempostingnya di dunia maya:

1. Pikirkan bahwa anda tidak hanya penulis status tetapi juga pembaca status. Jadi jika anda menuliskannya lalu dibaca khalayak apakah cukup layak dan wajar bila anda membacanya. Bila anda sendiri membacanya tidak nyaman dan muncul keraguan sebaiknya tunda saja. Anggap saja tes pertama tulis status adalah uji keterbacaan, apakah status akan menimbulkan ambigu atau kesalahpahaman?

2. Status yang anda tulis bukanlah curahan hati akibat rasa emosional yang baru saja anda alami. Saat kita marah, kesal, kecewa dan frustrasi akibat kondisi atau seseorang, bukan serta merta menjadikan media sosial sebagai “buku diary”. Jika emosi muncul, hitung mundur 10 lalu jika sudah di angka 1, silahkan tarik nafas. Emosi yang anda luapkan di media sosial tidak akan menyelesaikan masalah.

3. Pertimbangkan unsur SARA (Suku, Agama dan Ras) saat menuliskannya. Meski sekedar berbagi di dunia maya namun apakah layak anda memuatnya bila hal itu bersinggungan dengan SARA. Hormati dan hargai orang lain sebagaimana kita juga ingin dihargai orang lain. Ada banyak contoh akun media sosial yang punya banyak teman maya karena menuliskan hal-hal yang positif. Jika kita ingin disukai, bangun citra diri positif juga bagi mereka.

4. Apa pun yang anda postingkan akan tersimpan secara virtual. Jangan pernah berpikir bahwa apa yang anda tulis tidak membekas. Segala sesuatu yang dipostingkan akan tersimpan rekam jejaknya meski anda sudah melupakan atau menghapusnya. Mungkin saja seseorang menyimpankannya untuk anda. Hal ini pernah dialami oleh seorang teman yang kemudian ia tak bisa lagi berkelit mengingat seorang temannya lain telah menyimpan dan menunjukkannya pada orang yang dihina dalam postingan tersebut.

5. Pertimbangkan etika menulis. Dalam kenyataan kita harus bersikap santun jika kita mengambil “milik” orang lain. Jika kita memposting sesuatu yang menjadi karya intelektual orang lain, sebaiknya kita pun meminta ijin kepada yang bersangkutan (cantumkan sumbernya). Ketika menulis sebagai komunikasi tertulis tak jauh beda dengan komunikasi lisan, jadi jika anda memberikan opini atau kritikan, berikan alasan dan argumentasi yang menguatkan. Perhatikan pula kesantunan dan kelayakan untuk dimuat menjadi konsumsi publik.

6. Status adalah cerminan karakter pribadi. Jika anda menampilkan citra diri yang negatif melalui status-status yang anda posting, sebagian besar pembaca status anda akan memberi penilaian negatif juga pada anda. Meski anda bisa berujar, “Suka-suka gue dong mau nulis apa.” Tetapi kesukaan anda menulis sesuka anda juga bisa berdampak pada orang lain yang membaca juga bersikap sesuka mereka untuk memberi komentar buruk, mencap anda, tidak suka pada status anda atau menghapus anda dari pertemanan mereka. Orang lain bukannya memberikan dukungan pada status anda tetapi malah menjatuhkan anda karena status postingan anda.

7. Cek dan pastikan dulu apa yang akan anda tulis sebagai status. Jika anda ingin memposting sesuatu dan membagikannya pada publik sebaiknya cek dulu, apakah faktanya demikian? Jangan sampai status yang akan anda posting menimbulkan pencemaran nama baik, fitnah, tudingan tak mendasar atau konflik yang belum tentu benar dan diterima oleh kebanyakan masyakarat pada umumnya.

8. Apakah status yang akan anda posting menyangkut hal-hal pribadi, personal dan bukan konsumsi publik? Apa tujuan dan maksud anda memposting sesuatu untuk diketahui secara publik? Apakah anda ingin disukai atau diakui eksistensi dari status tersebut? Pikirkan apa manfaat orang lain mengetahui status yang akan anda bagikan. Jika hal-hal yang menyangkut personal bisa dibagikan ke orang-orang tertentu, anda bisa melakukan pesan tertutup. Jika tujuan anda meyakinkan banyak orang dengan status anda, pikirkan apakah cukup objektif untuk disampaikan?

9. Reputasi anda juga ditentukan dengan postingan status anda. Ada beberapa rekan yang bekerja sebagai perekrut karyawan juga mempertimbangkan seleksi berdasarkan partisipasi di dunia maya, seperti profil diri, status di media sosial dan sebagainya. Jangan rusak reputasi anda hanya karena status sosial anda yang konyol. Jangan sampai anda kehilangan kesempatan “memarketingkan diri” anda hanya karena status anda.

10. Jika anda berpikir bahwa anda menggunakan profil palsu atau “anonymous”, tetaplah akan terlacak bila suatu saat diperlukan jika postingan anda mengganggu kenyamanan orang lain bahkan mengancam ketertiban. Jadi jangan pernah berpikir bahwa anda dapat bersembunyi dari data palsu untuk memposting status.

Saya menyarankan anda untuk berpikir dulu sebelum memposting status.

Semoga bermanfaat😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s