Dialog Ibu & Anak: Mengapa Kenyataan Tak Seperti Rencana?


“Why things do not always go according to our plan?”

image

(Sumber foto: Dokumen pribadi)

Anak: “Ibu, mengapa kenyataan tidak berjalan sesuai rencana?”

Ibu: “Mungkin kau lupa berdoa ketika merencanakannya, anakku.”

Anak: “Oh tentu tidak, Bu. Aku berdoa selalu setiap pagi dan malam hari. Aku pergi ke gereja setiap minggu. Tetapi mengapa nilai ujianku jelek ya?”

Ibu: “Lalu, kau menyalahkan doa karena kenyataannya kau mendapat nilai jelek?”

Anak: “Aku hanya bingung, Ibu. Mengapa kenyataan yang terjadi tidak seperti yang kita rencanakan? Aku berencana dapat nilai ujian bagus. Aku berencana jika nilai ujianku bagus maka aku akan belikan Ibu Guru hadiah. Tetapi semuanya jadi berantakan. Nilai ujianku jelek. Aku tak jadi belikan Ibu Guru hadiah.”

Ibu: “Nak, hidup itu selalu berubah. Tak ada yang menduga kau dapat nilai ujian jelek. Mungkin dengan nilai ujian jelek, itu berarti kau harus belajar lebih giat lagi. Bukan berarti kau mendapat nilai ujian jelek, tidak memberikan hadiah pada Bu Guru, kan? Jika ingin memberi kau harus lakukan dengan tulus, tanpa syarat.”

Anak: “Ibu, mungkin aku terlalu sombong dan menyepelekan ujian ini. Jadi nilaiku jelek.”

Ibu: “Itu betul, Nak. Jangan pernah menjanjikan sesuatu yang belum jadi milikmu. Bukankah hidup ini tidak sepenuhnya berada dalam kendalimu?”

Anak: “Iya, ibu benar. Aku menjanjikan hadiah pada Bu Guru jika nilai ujianku bagus. Ternyata nilai ujianku jelek. Hidup itu tak pernah bisa ditebak.”

Ibu: “Nak, jika kenyataan tidak sesuai harapan bisa jadi Tuhan ingin mengujimu. Ia ingin melihat kegigihanmu. Apakah kau cukup kuat melewati kenyataan yang terjadi?”

Anak: “Baiklah, Bu. Aku akan belajar sungguh-sungguh untuk dapat nilai bagus di ujian perbaikan ini. Mungkin aku akan dapat nilai bagus. Aku juga akan tetap berikan hadiah pada Bu Guru. Bukankah Bu Guru juga sudah baik padaku, mengajari aku dengan sabar?.”

Ibu: “Itu bagus, Nak. Kau harus paham bahwa kadang segala sesuatu itu berjalan di luar rencana kita. Agar kita tahu bahwa hidup tidak sepenuhnya ada dalam kendali kita.”

Beberapa hari setelah ujian perbaikan.

Anak: “Ibu, lihatlah! Aku dapat nilai ujian bagus. Aku lulus, Bu.”

Ibu: “Wah, selamat ya sayang! Ibu tahu kau pasti bisa.”

Anak: “Ibu, ternyata aku perlu sabar untuk mendapatkan nilai ujian yang bagus. Kadang kita perlu menunda waktu untuk mendapatkan harapan yang sesuai kenyataan.”

Ibu: “Iya, anakku. Adakala kenyataan itu haruslah pahit agar membuatmu jadi bernafsu untuk mencoba lagi. Kamu tahu minum jamu berasa pahit, tetapi lewat rasa pahit itu cukup menyembuhkan sakitmu. Segala yang pahit tak selamanya mengenakkan.”

Anak: “Sekarang aku mengerti mengapa hidup itu semestinya berubah? Karena perubahan diperlukan untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik lagi. Betul begitu, Bu.”

Ibu: “Ya anakku. Sekarang kau juga mengerti mengapa kenyataan tidak berjalan sesuai rencana. Karena untuk sesuatu yang lebih baik, ada waktunya.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s