Mendengarkan dengan Penuh Perhatian


Pernahkah anda menjadi tumpuan curhat seseorang? Apakah anda termasuk orang yang suka mendengarkan atau sekedar mendengar?

Dalam kehidupan sehari-hari kerap saya harus mendengarkan dengan penuh perhatian orang yang saya kenal ketika mereka bercerita pengalaman dan perasaan yang sedang dihadapinya. Ada yang mengatakan mendengarkan yang baik adalah mereka yang mampu menjadi pendengar aktif, tetapi disini saya hanya berbicara bagaimana kita belajar mendengarkan dengan penuh atensi. Mereka yang mampu mendengarkan dengan penuh atensi dipastikan akan sering dimintai bantuan untuk menjadi teman sharing atau bertukar pendapat mengenai permasalahan yang dihadapi seseorang. Meski bukan berlatarbelakang Konselor, tetapi naluri kemanusiaan kita pun diuji untuk belajar mendengarkan dengan penuh perhatian.

Sebenarnya ketika seseorang sedang mulai bercerita, hal terpenting yang mereka perlukan hanya didengarkan, tidak lebih. Jika mereka bertanya tentang solusi masalah, itu adalah bentuk umpan balik mereka apakah kita cukup paham masalah yang sedang mereka hadapi. Sesungguhnya pun, solusi terhadap masalah mereka bukan di tangan kita. Mereka sendirilah yang seharusnya menemukan solusi terhadap persoalan mereka sendiri. Jadi belajar siapkan “telinga” yang lebar ketika kita mendengarkan dengan penuh perhatian.

Berikut langkah-langkah untuk mendengarkan dengan penuh perhatian:

1. Empati
Pertama-tama empati diperlukan agar kita benar-benar memahami persoalan yang sedang mereka hadapi. Empati adalah bagaimana kita menempatkan diri seolah-olah kita mengalami dan merasakan seperti yang dialaminya. Dengan demikian, kita menjadi mudah memahami situasi persoalan yang dihadapi, kesedihan, kesulitan, keputusasaan, penderitaan, dsb. Respon yang bisa diberikan seperti, “Saya bisa memahami apa yang kamu alami.”; “Oh, jika saya seperti kamu pasti keadaannya juga sulit ya.” Gunakan bahasa tubuh yang menyentuh seperti sentuhan, pelukan dan sapaan sehingga kita seolah-olah turut merasakan apa yang sedang mereka alami.

2. Tidak menggurui
“Seharusnya kamu jangan bersikap begitu, kamu harus lebih tegas. Lebih berani terhadap dia.” Demikian adalah contoh respon dari menggurui yang mungkin muncul terhadap sikap kita. Bila kita ingin mendengarkan dengan penuh perhatian, menggurui bukan dari bagian respon yang diharapkan mereka. Toh kita pun tidak ingin orang lain mendikte perilaku kita ketika pengalaman buruk sudah terjadi. Nasi sudah jadi bubur. Setiap orang berusaha untuk menjadi dirinya sendiri, meksi mereka dalam keadaan sulit sekali pun. Kita dapat menekankan bahwa pengalaman adalah guru terbaik dalam kehidupan, yang berlalu biarlah berlalu. Respon yang bisa kita berikan kepada mereka seperti mengulang pernyataan mereka sehingga mereka dapat menemukan kembali solusi untuk diri mereka sendiri. Misalnya, “Kamu bilang bahwa dia tidak suka kamu membeli makanan di restoran? Lalu menurut kamu sebaiknya bagaimana?”; “Jadi orangtua kamu tidak setuju jika kamu mengambil jurusan kuliah itu. Apa yang seharusnya kamu lakukan untuk meyakinkan mereka?”

3. Tidak memberikan penilaian atau menghakimi secara mendasar
Saat mendengarkan dengan penuh atensi, emosi kita pun diuji agar kita tetap tenang dan stabil menghadapi situasi yang sedang mereka hadapi, tidak ikut terpancing. Terkadang kita lebih mudah ikut serta terbawa emosi naluriah karena ingin segera memberi solusi atau penilaian terhadap apa yang baru saja didengar. Ingatlah bahwa kita baru saja mendengarkan secara sepihak dan kita pun tidak berhak untuk menghakimi persoalan yang baru saja didengar. Bersikaplah netral dan tidak terlibat dengan situasi yang sedang bergejolak.

4. Mendorong untuk berbicara lebih lanjut
Buatlah mereka senyaman mungkin untuk bercerita dan berbicara lebih terbuka, ketimbang anda lebih banyak berbicara. Yakinkan mereka dengan bahasa tubuh dan respon yang hangat seolah-olah anda adalah orang yang dapat dipercaya untuk mendengarkan cerita mereka. Jangan biarkan anda terpancing untuk menceritakan pengalaman serupa! Buatlah anggukan kepala, sentuhan dan respon umpan balik yang menandakan anda mengerti permasalahan merereka.

Bagaimana? Tertarik untuk mempraktekkannya? Selamat mendengarkan dengan penuh perhatian!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s