3 Resep Kebahagiaan


love2 copy

(Sumber foto: Dokumen pribadi)

Setiap orang ingin bahagia, meski makna kebahagiaan itu berbeda-beda bagi setiap orang. Banyak buku bercerita tentang cara memperoleh kebahagiaan dalam hidup. Banyak orang sukses juga menggambarkan arti kebahagiaan bagi mereka sendiri. Banyak teknologi diciptakan juga untuk menggapai kebahagiaan. Tetapi apakah anda sudah bahagia?

Kebahagiaan itu relative. Jika bahagia menurut Nelayan adalah berhasil memperoleh tangkapan ikan, kemudian menjualnya dan mendapatkan uang itu untuk membayar sekolah anak dan menafkahi keluarga. Tentu kebahagiaan ini berbeda maknanya bagi Petani. Lalu anda bisa katakan, karena saya membedakan kebahagiaan itu berdasarkan profesi pekerjaan. Oke, kini saya kembali ke hal lain. Jika kebahagiaan menurut Nelayan adalah demikian, maka bahagia menurut anak nelayan tentu berbeda lagi, meski hidup dalam situasi yang sama dekat laut, misalnya.

Bahagia tidak ditentukan oleh profesi, wilayah tinggal, usia, kekayaan, pendidikan, cara pandang, status sosial, dsb. Kebahagiaan tidak ditentukan dari apa yang sudah anda lakukan, apa yang anda pikirkan, atau apa yang anda miliki tetapi kebahagiaan adalah apa yang anda rasakan.

1. Bersyukur
Tak pernah puas dan selalu ingin lebih adalah perasaan natural yang dialami oleh setiap orang. Saya akan bahagia bila lulus kuliah. Setelah lulus, saya akan bahagia bila bekerja. Setelah bekerja, saya akan bahagia bila menikah. Setelah menikah, saya akan bahagia bila punya anak. Setelah punya anak, saya akan bahagia bila punya rumah pribadi. Setelah punya rumah, saya akan bahagia bila punya mobil. Begitu seterusnya. Karena tidak pernah puas terhadap apa yang anda pikirkan dan anda miliki, kebahagiaan itu menjadi sulit dicapai. Bersyukur adalah ekpresi kepuasan terhadap apa yang anda rasakan. Bila anda bersyukur, anda tak perlu susah payah menentukan tolok ukur kebahagiaan. Bersyukur bukan terhadap apa yang anda miliki tetapi apa yang anda rasakan. Kebahagiaan terletak di hati. Bila dipikirkan, kita tidak pernah merasa dipuaskan. Bila terus dilakukan, kita akan lelah memenuhinya. Bersyukur adalah rasa atas pengalaman hidup yang kita alami. Bersyukur bahwa anda mendapatkan pekerjaan dibandingkan jutaan orang yang menganggur di luar sana. Bersyukur bahwa anda mendapatkan makanan dibandingkan jutaan orang yang kekurangan makanan dan kelaparan. Bersyukur bahwa anda sehat dan bernapas baik dibandingkan jutaan orang yang saat ini sedang menghadapi saat terminal karena sakit kritis atau koma. Bila anda tahu bagaimana cara bersyukur maka anda akan tahu apa itu bahagia sesungguhnya.

2. Berhenti membandingkan diri dengan orang lain
Seorang teman komplen karena setiap saat harus membaca status atau gambar postingan dari kawan dalam list media sosialnya. Saya tanya balik, mengapa anda harus merasa repot untuk membaca atau melihatnya? Mengapa anda merasa tidak bahagia melihat postingan orang lain? Karena kita begitu sibuk membandingkan diri kita dengan orang lain dalam media sosial itu. Anda saja tidak suka bila Bos membandingkan kinerja anda dengan rekan kerja. Saya pun tidak suka bila orangtua membandingkan saya dengan anak lain atau saudara saya yang lain. Jadi berhenti membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Anda tidak akan pernah puas, tidak pernah merasa bahagia karena sibuk membandingkan apa yang anda miliki dengan orang lain. Apa yang anda lihat dari orang lain dalam media sosial belum tentu seratus persen betul seperti yang anda bayangkan.

3. Siap berbagi
Ada pepatah kuno mengatakan, bahwa anda menciptakan kehidupan bila anda mampu berbagi bersama orang lain. Bagikanlah apa yang anda miliki, bila anda tahu tidak memerlukannya lagi atau anda merasa berkelebihan. Toh, hal itu tidak akan membuat anda miskin. Bahkan mereka yang mampu berbagi dari kekurangannya, ternyata lebih berbahagia dibandingkan mereka yang hanya menerima saja. Bagikanlah pengetahuan atau ketrampilan yang anda miliki, bila anda yakin mampu. Bagikanlah perasaan anda kepada pasangan, sahabat, orangtua atau mereka yang anda percayai ketimbang anda memendamnya dalam hati. Mereka yang depresi adalah mereka yang tak mampu membagikan apa yang mereka hadapi dengan orang lain. Berbagi sesungguhnya adalah hakikat manusia sebagai makhluk sosial, dimana manusia membutuhkan orang lain dalam hidupnya. Mereka yang mampu berbagi akan menerima. Mereka yang tak pernah berbagi, tidak akan pernah tahu bagaimana mendapatkannya kembali apa yang mereka inginkan.

Perkaya hidup ini dengan pengalaman bukan dengan kekayaan. Bila anda mampu melihat keindahan setiap hari, anda tidak akan pernah merasa kesusahan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s