Mengubah Kebiasaan yang Efektif


Saya menuliskan pertanyaan tentang keseharian pengalaman yang sedang dihadapi, “Mengapa kebiasaan sulit diubah?”, ketika saya hidup bersama dengan suami yang berbeda budaya dan kebiasaan. Meski tak selamanya kebiasaan itu harus diubah, tetapi harus dilakukan karena anda berada di tempat yang berbeda dan perlu adaptasi, misalnya. Atau anda perlu mengubah kebiasaan demi kesehatan. Anda tahu bahwa mengubah kebiasaan itu tak mudah tetapi anda perlu melakukannya, bukan?

Pengalaman saya masih kecil saya harus membiasakan sikat gigi sebelum tidur. Bapak saya sangat keras mengajari saya untuk terbiasa sikat gigi sebelum tidur. Ternyata membangun kebiasaan itu tidak mudah. Tetapi pengetahuan bahwa sikat gigi sebelum tidur itu perlu untuk kesehatan dan keinginan agar gigi tetap sehat, karena saya takut pergi ke Dokter Gigi saat itu, maka saya jadi rajin sikat gigi. Meski setelahnya saat saya menggunakan behel gigi untuk estetika, saya jadi sering ke dokter gigi dan merasakan kebiasaan sikat gigi sebelum tidur bukan lagi keharusan atau kewajiban tetapi kebiasaan. Senang ya jika ada hal positif yang bisa kita bangun dan kembangkan menjadi kebiasaan.

Kebiasaan itu memang terbentuk dari proses belajar selama waktu tertentu sehingga akan menjadi pengalaman keseharian. Wajar jika kita merasa sulit mengubah kebiasaan. Nah, berdasarkan pengalaman hidup sehari-hari menurut saya untuk mengubah kebiasaan, diperlukan 5 hal sebagai berikut:

1. Perlu waktu
Yang namanya kebiasaan tentu terbentuk dari waktu yang tak singkat. Jadi ketika anda akan mengubahnya tentu perlu waktu pula untuk melakukannya.

2. Perlu proses
Jangan berharap hasil jika tak melalui sebuah proses! Lakukan tahap demi tahap melalui proses yang dinamakan “belajar”. Tak pernah ada kata terlambat untuk melakukannya.

3. Perlu sabar
Kesabaran adalah kunci keberhasilan mengubah kebiasaan. Mereka yang sabar akan memperoleh kebiasaan seperti yang mereka mau.

4. Perlu pertolongan dan dukungan orang sekitar
Mintalah bantuan orang sekitar untuk melatih anda. Meski pandai menyetir tetapi harus mengubah posisi letak setir, bukan berarti serta merta anda mahir. Jadi mintalah orang lain untuk mengajari anda. Mintalah orang lain untuk mengingatkan anda agar tidak lupa, misalnya. Dukungan orang sekitar diperlukan untuk mengubah kebiasaan.

5. Perlu keberanian
Letakkan keberanian untuk mencoba, tidak takut salah atau merasa “aneh” tak nyaman. Kembangkan sikap berani dalam mengubah kebiasaan meski berat untuk anda lakukan.

Nah sesungguhnya membangun kebiasaan yang efektif untuk hal-hal positif seperti merubah perilaku sosial seperti membuang sampah pada tempatnya, menjauhi perilaku sex berisiko, dsb memerlukan tiga elemen berikut:

1. Pengetahuan
Beri pengetahuan atau informasi yang cukup mengenai perilaku yang akan dirubah menjadi kebiasaan tersebut secara jelas dan spesifik. Jika kita ingin mengatakan kepada mereka untuk tidak membuang sampah sembarangan, maka letakkanlah tempat sampah dengan baik. Anda juga bisa membuat visualisasi atau contoh yang dapat dimengerti bila ingin merubah perilaku sehingga menjadi kebiasaan yang efektif. Selain itu, berikan argumen dan alasan yang meyakinkan mengapa kita perlu mengubah kebiasaan itu sehingga mudah buat kita melakukannya sebagai kebiasaan, bukan lagi kewajiban. Pengetahuan dan informasi yang benar niscaya akan menjadi bekal untuk selalu diingat dalam mengubah kebiasaan.

2. Ketrampilan
Meski kebiasaan yang akan dibentuk itu merupakan hal yang sederhana tetapi ternyata tak mudah untuk melakukannya setiap waktu atau setiap hari. Oleh karena itu diperlukan ketrampilan untk tentang bagaimana melakukannya. Itulah mengapa bermunculan training untuk penguatan kapasitas bagi sasaran perubahan atau agen perubahan.

3. Keinginan
Jika pengetahuan dan ketrampilan sudah diberikan dan dilakukan dalam pelatihan, misalnya kini giliran kesediaan untuk berubah atau keinginan untuk melakukannya sebagai kebiasaan. Percuma saja diharapkan untuk menjadi kebiasaan bila tak ada keinginan untuk berubah.

Bagaimanapun unsur kognitif, afektif dan konatif diperlukan dalam mengubah kebiasaan yang efektif. Bagi saya yang belajar dan bekerja di bidang komunikasi dalam pembuatan materi Behaviour Change Communications misalnya tiga elemen diatas saling berkaitan sehingga memunculkan kebiasaan bagi sasaran penerima pesan agar perilaku yang diharapkan bukan lagi keharusan tetapi kebiasaan yang positif dan efektif.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s