Perlukah Pujian Setiap Hari?


anak (Jika anak dibesarkan dengan celaan, Ia belajar memaki. Jika anak dibesarkan dengan pujian, Ia belajar menghargai. Sumber foto: Dokumen pribadi)

Apakah kita pelit untuk memberikan pujian kepada orang lain?

Belajar dari teman saya asal Jepang, sebut saja Midori. Saya mengundangnya untuk datang ke rumah (flat) saya untuk belajar bersama kebetulan kami ada tugas yang harus dikerjakan bersama. Karena waktu makan siang tiba, saya pun memasak untuk kami berdua. Sebagai tamu, Midori mengatakan akan makan apa saja yang saya sediakan. Saya pun memasak dan menyiapkan makanan untuk kami berdua. Usai mencicipi masakan pertama kali, saya bertanya soal rasa masakan yang saya buat. Tahu tidak? Dia memuji masakan saya dari soal waktu yang tepat untuk memasak sup karena di luar dingin, kuahnya juga gurih, wortel dan dagingnya empuk dan rasanya lumayan. Ternyata setelah saya mencoba masakan saya sendiri, walah makanan saya keasinan. Saya menaruh banyak garam dalam sup. Karena melihat reaksi Midori yang memuji masakan saya alias tidak komplen, saya pun menyantap makanan itu bersama dengannya meski rasanya tak karuan.

Usai dari tempat saya, entah beberapa lama kemudian kami di kelas berbincang-bincang. Datanglah teman asal Polandia, kita ngobrol-ngobrol soal kehidupan di Jerman, termasuk makanan. Tiba pertanyaan makanan Jerman apa yang tidak disukai, anda tahu apa jawaban Midori. Yah, makanan yang saya masak di flat saya. Wow, mengapa Midori tidak mengatakannya saat saya bertanya soal masakan untuk makan siang. Usut punya usut, begitulah budaya yang diajarkan di Jepang yakni bagaimana kita bisa menghargai orang lain. Meski masakan itu tak karuan rasanya tetapi Midori berupaya menghargai makanan yang saya buat. Ia tidak melihat “hal tak karuan” dari masakan itu tetapi keseluruhan dari niat baik saya sebagai teman untuk membuatkan makan siang. Midori berkata bila ingin memberi komentar, ia diajarkan untuk memberikan pujian dulu sebagai bentuk penghargaan atas orang lain.

Berkaca dari Midori bahwa tak sulit sebenarnya buat kita membuat pujian. Kebanyakan teman saya yang protes tentang pujian karena dianggapnya kalimat saya itu berkonotasi negatif. Belum lagi jika saya memuji sesuatu atau seseorang, reaksi orang sekitar akan syok karena tidak terbiasa. Walah seandainya setiap hari kita bisa memberikan pujian kepada orang yang kita sayang, anak, orangtua, pasangan, sahabat, kakak/adik tentu akan terasa indah.

Ternyata pujian yang tulus akan berdampak pada harapan akan sesuatu atau seseorang. Demikian kata Midori kepada saya. Bukankah pujian juga memberikan motivasi kepada orang lain? Pujian juga memberikan kepercayaan diri bagi seseorang untuk melakukannya lebih baik. Namun sayangnya ini berbenturan dengan konsep beberapa teman yang menganggap pujian itu tidak layak diberikan setiap waktu. Karena pujian dianggap seperti ular yang beracun maka harus berhati-hati agar tidak terlena terhadap pujian. Dianggapnya karya atau apapun yang dilakukan hanya sekedar mencari pujian atau “haus akan pujian”, benarkah begitu? Pikiran yang sempit menurut saya.

Mungkin begitu juga beberapa kali saya menemukan Traveller Jepang berpergian seorang diri ke negeri antah berantah meski bahasa Inggris mereka terbata-bata. Mereka membangun budaya menghargai atau membangun apresiasi terhadap kemanusiaan. Oh, jadi begitu percaya diri mereka saat solo traveling karena mereka mampu menciptakan apresiasi kemanusiaan.

Untuk menggambarkan budaya pujian ini, Midori bercerita kepada saya.

“Suatu waktu ada seorang Ibu yang berprofesi sebagai guru. Ia memiliki seorang anak perempuan yang gemar sekali menari tetapi sang ibu tidak mendukungnya. Ibunya sama sekali membenci perilaku anaknya yang selalu menari dan bergaya di depan cermin atau berdandan seperti penari. Ibunya tak pernah mendukung anak ini untuk tumbuh sebagai penari. Sejak kecil, ibunya sering berkata, “Bodoh! Anak tak berguna! Nilai sekolahmu selalu jelek. Mau jadi apa kamu nanti?”. Anak itu hanya bisa menangis karena hidup sebatangkara bersama ibunya. Hampir setiap hari, sang ibu selalu berkata makian dan cacian. Anak itu bisa memahami perasaan ibunya sebagai guru tetapi ia tidak bisa menjadi juara di kelas. Namun, anak itu tidak berkecil hati, ia terus semangat berlatih menari. Meski nilainya tak bagus di sekolah, tetapi ia selalu mendapatkan perhatian dari sekolah karena tariannya. Setiap pentas sekolah, anak itu selalu dilibatkan sebagai best performance. Tetapi ibunya tak pernah bangga, ia kerap merendahkan dan tak pernah memberikan pujian kepada anak ini. Lalu suatu saat, ibunya meninggal dan ia hidup sebagai gadis yang bodoh. Ia menganggap dirinya bodoh dan tak berguna seperti yang selalu dikatakan si Ibu. Ia menikah dengan seorang petani biasa yang terpesona pada tariannya saat ia pentas di pasar malam. Bermodalkan tarian dari satu panggung ke panggung lain, ia bisa hidup. Suaminya selalu memuji tarian isteri. Setiap malam, ia menyaksikan bagaimana isterinya mampu menari dengan indah. Suatu saat, suaminya mengikutsertakan sang isteri ke dalam ajang pencarian bakat tanpa diketahui isterinya. Itu lah sebab mengapa suaminya meminta isterinya terus menari setiap malam. Hingga saat kompetisi tiba, isterinya mampu memberikan penampilan terbaik dan memukau penonton. Juri pun tertegun kepada penampilannya. Lalu si penari ini berkata kepada juri bahwa dalam hidupnya ia tak mengenal pujian. Ia begitu bersemangat menari karena sang suami selalu memuji tariannya. Orang-orang yang mendengarkannya begitu terkesima dengan kisah hidupnya hingga pada akhirnya ia berhasil mendapatkan juara terbaik dalam kompetisi tersebut. Ia persembahkan hadiah itu untuk suaminya.”

Kisah sederhana ini hanya mau menceritakan betapa kuat pengaruh pujian kepada seseorang. Ia tidak hanya melahirkan semangat kepada seseorang, tetapi juga harapan dan kepercayaan diri. Sesungguhnya si penari itu sudah “mati” dengan makian, celaan serta tak pernah mengenal pujian dalam hidupnya. Begitu kuatnya pengaruh kata-kata dalam hidup seseorang, apalagi pujian. Karena begitu mudah buat kita mengenang yang buruk seperti celaan dan makian ketimbang pujian.

Bagi saya pujian adalah salah satu bentuk eksistensi ketika kita mau mengakui kelebihan orang lain dan kehadiran orang lain. Jika mereka berprestasi, mengapa tidak kita berikan? Lihat ternyata dengan apresiasi setiap bulan terhadap karyawan, mereka setiap hari berlomba-lomba untuk bekerja giat membuktikannya. Pujian tidak selamanya identik dengan kerakusan yang tak terpuaskan sehingga menjadi tidak tulus. Jika pujian itu baik maka hasilnya pun baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s